Minggu, 1 November 2026
Home, Opini  

Inklusivitas Ekonomi Sulteng: Hilirisasi Agro-Maritim Penting, Pemprov dan Untad Susun Peta Jalan

Inklusivitas Ekonomi Sulteng: Hiliirisasi Agro-Maritim Penting, Pemprov dan Untad Susun Peta Jalan

Oleh Hasanuddin Atjo

SULAWESI TENGAH (Sulteng) dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah menunjukkan prestasi di bidang ekonomi yang membanggakan, kemudian lambungkan nama daerah ini pada level Nasional.

Tahun 2021 ekonomi daerah ini tumbuh sebesar (11,70% , YoY), kemudian meningkat menjadi (15,70 %) paaa tahun 2022. Capaian ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Selanjutnya pada tahun 2023 sebesar (11,91 %), tahun 2024 (9,89 %) dan pada tahun 2025 sebesar (8,47 %). Nilai PDRB atas harga berlaku tahun 2025 sebesar.Rp 415,48 triliun.

Perolehan PDRB itu dominan disumbangkan oleh Industri Pengolahan ekstraktif (nikel) sebesar (41,24%) yang tumbuh dua digit sebesar (14,12%).

Disusul Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (16,36%) yang tumbuh (4,46 %). Tambang dan Penggalian: sebesar (15,22%) dengan pertumbuhan (6,34 %).

Sebelum investasi pada sektor tambang – penggalian, diikuti investasi industri pengolahan, sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan telah berperan dominan ( sekitar 40 %).

Meski pertumbuhan ekonomi melampaui Nasional (5,2 %), namun kemiskinan dan stunting di Provinsi terluas di Sulawesi ini, masih menjadi perssoalan berkepanjangan dan sangat sulit diturunkan.

September Tahun 2025, angka kemiskinan sebesar 10,52% (345,38 ribu orang), turun 0,40 persen dibanding Maret tahun 2025. Selama 10 tahun angka kemiskinan hanya turun sekitar 4 % (2016 sekitar 14,6 %).

Di wilayah perkotaan angka ini relatif kecil sebesar 6,40%, dan tersisa (71,84 ribu orang). Akan tetapi menumpuk di Perdesaan sebesar 12,66% (273,53 ribu orang). Dan perlu upaya yang terstruktur

Gubernur Sulteng Anwat Hafid pada sejumlah kesempatan memberi pernyataan bahwa mengurai soal kemiskinan dan stunting harus dimulai dari perbaikan kualitas manusianya. Ini adalah pondasi membangun struktur ekonomi yang kuat.

  Buka Seminar Nasional, Kepala DKP: Sulteng Berpeluang Jadi Sentra Udang Nasional

Karena itu dalam dua tahun pertama kepemimpinannya, dua program prioritas yaitu Berani Cerdas dan Berani Sehat menjadi fokus utama. Skenario ini kemudian menjadi rujukan Nasional Pemerintahan Prabowo.

Memasuki tahun ketiga (2027), Gubernur Anwar Hafid melalui Bappeda akan mendorong dan mengembangkan hilirisasi Agro Maritim yang dinilai potensial dan secera cepat dinilai bisa menurunkan angka kemiskinan.

Diperkirakan 65% masyarakat di perdesaan Sulawesi Tengah bergantung pada sektor Agro-Maritim dengan pengelolaan yang masih konvensional dan minim nilai tambah.

Hilirisasi berbasis industri dinilai akan mendorong pertumbuhan sektor Agro-Maritim yang saat ini tumbuh kurang dari 5% atau hanya sebesar 4,46%. Angka inipun telah meningkat apabila dibanding dengan tahun tahun sebelumnya.

Mendorong pertumbuhan jadi dua kali (8%) sebagaimana target pertumbuhan Nasional pada akhir 2029 diperlukan langkah terukur dan akademik agar target tersebut dapat dicapai.

Karena itu, Senin, 26 Oktober 2026, di ruang Nagana Bappeda Sulteng dilakukan diskusi antar stakeholders terkait pentingnya hilirisasi Agro Maritim di daerah ini.

Diskusi yang dipandu kepala Bappeda, Drs. M. Arfan M.Si., antara lain melahirkan luaran nota kesepahaman antara Pemerintah Sulteng (Bappeda) dan Universitas Tadulako (Fakultas Pertanian) menyusun Peta Jalan Hilirisasi sektor Agro-Marimtim

Dalam 9 program Berani, sektor Agro-Maritim termuat pada program Berani Panen Raya dan Berani Tangkap Banyak, program ini selaras program Nasional dalam kerangka ketahanan dan kemandirian pangan serta kesejahteraan.

Sejumlah pemerhati menilai bahwa strategi menyusun peta jalan dan rencana aksi terlebih dahulu akan menjadi panduan bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menyusun Rencana Kerja OPD. Ini sebagai jawaban terhadap isu efisiensi yang sering dikeluhkan. (***)