Selasa, 21 April 2026
Ekbis  

Integrasi Bisnis Memperkuat Daya Saing Industri Udang Ekuador, Sebaiknya Dicontoh

Kebutuhan Pangan Morowali dan Morowali Utara Saatnya Disuplai dari Wilayah Sulteng, Kehadiran Pertanian Modern Mendesak
Hasanuddin Atjo. Foto: Dok

Oleh Hasanuddin Atjo

Hampir semua orang kagum, terkesima dan heboh ketika Ekuador pada tahun 2021 bisa memproduksi udang vaname sebesar 1 juta ton, dan ekspor sekitar 848 ribu ton (Rajeev Kumar, PhD 2022). Selanjutnya produksi tahun 2022 naik lagi menjadi sekitar 1,2 juta ton.

Pasalnya negara yang terletak di Amerika Latin ini, bergaris pantai terbatas sekitar 4.597 kilometer (km) dan berada pada peringkat ke 47 dunia (World Resources Institute), beriklim tropis sama dengan Indonesia, namun bisa menjadi penghasil udang yang terbesar di dunia.

Indonesia berdasarkan World Resources Institute berada di peringkat ke 4 dengan panjang garis pantai 95.181 km. Akan tetapi produksi udang negara maritim ini berdasarkan data asosiasi udang diprediksi pada tahun 2021 hanya 500 ribu ton dengan volume ekspor kurang lebih separuhnya.

Baca jugaTrend Positif Budidaya Udang di Sulteng, Arif Latjuba: 2021 Capai 28.085 Ton

Dari penelusuran, menginfokan bahwa Ekuador juga pernah merasakan masa sulit, akan manisnya bisnis udang. Pada periode tahun 1990 – 2000 petambak negeri itu, udangnya terserang penyakit virus antara lain white spote dan taura yang menyebabkan produksi udang anjlok hingga titik nadir 85 ribu ton dari produksi 250 ribu ton sebelumnya.

Langkah yang ditempuh oleh pemerintah dan stakeholders antara lain, selama periode tahun 2000 – 2010 melakukan improvement genetik vaname. Dan pada tahun 2011 sukses mengembangkan usaha NBC, Nucleus Breeding Center atau pabrik induk udang.

Kini negeri itu, mandiri dalam penyediaan induk yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan budidaya setempat. Dan untuk tujuan memproteksi pemerintahnya antara lain tidak memperkenankan mengimpor induk tetapi boleh mengekspor.

  Konsumen Loyal Suzuki di Segmen Fleet Diperkenalkan New All Ertiga Hybrid

Regulasi ini bertujuan menutup peluang masuk penyakit udang dari luar, sekaligus mendorong berkembangnya industri induk udang oleh swasta. Ini sebagai modal paling mendasar dalam mendongrak produksi udang bagi penyediaan bahan baku bagi industri hilirnya.

Sukses didalam kemandirian penyediaan induk, Ekuador melanjutkan pengembangan inovasi dan teknologi budidaya dari one step (tebar langsung di tambak pembesaran atau grow out) menjadi two atau three step yaitu segmentasi melalui nursery; grow out 1 dan
grow out 2.

Baca jugaTuan Rumah Bersama PON 2028: Sulteng Disarankan Menggandeng Dua Provinsi

Ekuador tidak berhenti disitu, efisiensi juga dilakukan dalam pemberian pakan, mengganti cara manual ke mesin otomatis pelontar pakan yang berbasis sensor. Penggunaan energi juga dihemat dengan sensor yang akan mennyalakan kincir air sebagai sumber oksigen saat kadarnya pada ambang batas.

Karena persaingan udang di pasar dunia semakin ketat dan dinamis, Pemerintah Ekuador mendorong usaha integrasi hulu dan hilir. Setidaknya ada enam perusahaan budidaya bersekala besar yang telah melakukan usaha terintegrasi itu.

Perusahaan budidaya sekala besar memiliki areal 2000 – 3000 ha telah menerapkan teknologi semi intensif, padat tebar 30.- 40 ekor benih per meter persegi, sistem budidaya multisteps. Kesemuanya telah terintegrasi dengan hatchery, pabrik pakan dan prosesing.

Dengan cara seperti ini maka frekuensi panen bisa 3 – 3,5 kali dalam setahun dengan produktifitas 20 – 30 ton/ha. Dan yang lebih menarik bahwa HPP, harga pokok penjualan sebesar 1,5 dollar US setara Rp 22.500/kg. Sememtara di Indonesia bervariasi 2,5 – 3,0 dollar dollar US.

Indonesia pernah melakukan pendekatan usaha seperti itu, namun menerapkan teknologi intensif dengan padat tebar antara 100 – 150 ekor benih per merer persegi. Hanya saja tidak berlangsung lama, karena banyak variabel kunci belum bisa dimaksimalkan.

  OJK Dorong Penguatan Pembiayaan dan Ekosistem Industri Tekstil-Produk Tekstil Nasional

Variabel dimaksud antara lain terkait dengan kemandirian induk seperti Ekuador, inovasi teknologi nursery dan budidaya multisteps yang belum masif, serta lemah dalam penerapan standarisasi input produksi dan pascapanen.

Baca jugaGubernur Rusdy Mastura: Gorontalo Adalah Saudara Tua Warga Sulteng

Budidaya multistep terbukti telah meningkatkan kinerja di Ekuador, Vietnam dan India serta beberapa lokasi tambak di negeri ini seperti Sulawesi dan Kalimantan sebagaimana yang dikembangkan penulis sejak tahun 2016.

Dan tidak kalah penting dan harus dilakukan adalah upaya menekan biaya logistik yang tinggi karena hulu dan hilir bisnis udang lebih terpusat di pulau Jawa sementara sentra budidaya udang umumnya di luar Jawa.

Sudah saatnya pengembangan industrialisasi udang Indonesia berbasis kluster pulau besar. Tujuannya agar ketersedian sarana dan prasarana, areal budidaya dan usaha hilirnya serta pelabuhan ekspor dalam satu kawasan. Oleh karena itu Diperlukan regulasi, intervensi yang berpihak agar menarik bagi para investor berinvestasi dengan model bisnis integrasi.