Oleh Hasanuddin Atjo
JUMLAH Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) berdasarkan sensus Pertanian tahun 2023 sebagaimana dirilis BPS, sebanyak 27.368.114 rumah tangga. Sekitar 75 – 80 % RTUP tersebut berada di wilayah Barat.
Sementara itu Rumlah Tangga Usaha Perikanan, termasuk pembudidaya ikan, sebesar 2,1 hingga 2,5 juta rumah tangga, dan 65 – 70 % berada di wilayah Timur. Fluktuasi angka ini karena adanya Nelayan musiman.
Apabila dikonversi ke jumlah jiwa maka total penduduk Indonesia yang bergantung pada kedua subsektor ini diperkirakan dapat mencapai 120 juta jiwa. Sekitar 41,8 % dari jumlah penduduk Indonesia.
Merupakan potensi yang sangat menjanjikan, namun sekaligus sebagai tantangan mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045. Perlu kesiapan tatakelola agar pendapatan per kapita minimal US$ 23.000 dapat dicapai (naik dari $US 5.500 tahun 2025).
Nilai Tukar Petani (NTP) maupun Nilai Tukar Nelayan (MTN) salah satu indikator menggambarkan daya beli atau kesejahteraan Petani dan Nelayan Indonesia di perdesaan.
Secara sederhana formula untuk mengukur nilai tukar itu adalah rasio indeks yang diterima oleh Petani atau Nelayan (it) dengan indeks yang dibayarkan (ib). Idealnya (it) bisa ditingkatkan dan (ib) dapat ditekan.
Semester satu tahun 2026, nilai tukar petani- nelayan terutama di wilayah Timur tergolong masih rendah Kondisi ini antara lain disebabkan tingkat produktifitas rendah, rantai pasok panjang serta rantai nilai yang lemah.
Nilai tukar gabungan (NTP dan NTN) di wilayah Barat berada Pada kisaran 126,50 – 129,90 poin. Nilai ini lebih baik dibandingkan dengan wilayah Timur, berada pada kisaran 114,10 – 121,80 poin.
Khusus NTP Tanaman Pangan di wilayah Barat pada angka 118 – 122 poin dan di wilayah Timur 104 – 108 poin. Sementara NTP Hortikultura di wilayah Barat berada di atas 130, dan wilayah Timur berada dikisaran yabg berfluktuatif, antara 110 – 115 poin.
NTN (khusus perikanan tangkap) di wilayah Barat cenderung stabil pada angka 104 – 106, dan di wilayah Timur berada pada angka lebih rendah 99 – 102. Padahal wilayah Timur sebagai lumbung ikan nasional.
Sebagai gambaran bahwa NTP gabungan (Tanaman Pangan, Hortikultura., Peternakan dan Perkebunan rakyat) di Sulawesi Tengah pada semester satu 2026 berada pada kisaran 94,10 – 101, 30. Tanaman Pangan pada nilai terendah yaitu 90,64 – 91,29 poin.
Sementara itu NTN (Perikanan Tangkap) relatif lebih stabil dan berada pada kisaran 101,42 – 101,82. Sedangkan Perikanan Budidaya antara 103 – 107 yang ditopang olrh berkembangnya budidaya Perikanan air payau.
Meningkatnya harga BBM non-subsidi , tarif tol darat dan laut serta “waiting time” memperoleh
BBM subsidi pada tahun 2026 menyebabkan ongkos logistik di wilayah Timur meningkat tajam sebesar 20 – 27 %
Sementara itu di wilayah Barat relatif stabil 8,5- 8,9 % terhadap nilai barang yang akan diangkut. Kualitas konektifitas, ditambah ketersedian armada angkutan menjadi salah satu pembeda.
Selain itu rasio volume barang yang diangkut tidak berimbang. Pada saat kapal akan kembali ke wilayah Barat, hanya terisi 20 – 30% dari kapasitas muat, sehingga ongkos logistik lebih mahal.
Karakter Negara yang berbasis Kepulauan dan dominan berada di wilayah Timur memberi andil terhadap panjangnya rantai pasok pada input produksi dan pemasaran hasil produksi yang dominan dipasarkan ke wilayah Barat.
Peningkatan produktifitas dan memperpendek rantai pasok serta memperkuat rantai nilai menjadi kebutuhan, mengejar ketertinggalan kesejahteraan petani dan nelayan wilayah Timur.
Membagi habis wilayah Timur jadi beberapa cluster ekonomi dalam peningkatan daya saing dan efisiensi tentunya menjadi strategis. Dukungan regulasi dan mendorong investasi pada sektor agromaritim di wilayah Timur sangat diperlukan.
Wilayah Barat diperhadapkan pada persoalan keberadaan petani gurem (lahan usaha tani kurang dari 0 5 ha). Kelompok ini berjumlah 65% terhadap 27 juta RTUP; tentu memerlukan skenario tersendiri.
Meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan wilayah Barat dan Timur secara bersama – sama merupakan salah satu strategi meraih kesejahteraan sebagaimana target Indonesia Emas tahun 2045. (***)






