Sabtu, 24 Januari 2026
Ekbis  

Menteri Kelautan Menilai Teknologi Budidaya Udang Masih Tertinggal, Penyebab Produktifitas Rendah

Gubernur Anwar Hafid Dorong Kearifan Lokal dan ASN Unggul untuk Mewujudkan Visinya
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Wahyu Sakti Trenggono menilai bahwa teknologi budidaya udang di Indonesia tertinggal dari negara lain. Faktor ini kemudian ditengarai jadi salah satu sebab rendahnya produktitas tambak udang kita.

Ini negara maritim. Memiliki potensi sangat besar dengan jumlah pulau 17.400 buah, garis pantai 95.181 km, serta luas perairan 6,4 juta kilometer persegi. Selain itu berikilm tropis, yang memungkinkan proses budidaya bisa sepanjang tahun.

Disayangkan kelebihan itu belum mampu dimanfaatkan secara baik oleh kita untuk kesejahteraan dan devisa bagi negara. Pada sisi lain sejumlah negara dengan minim sumberdaya alam justru menjadi penghasil udang terbesar seperti Ekuador dan Vietnam.

Baca juga: DKP Sulteng Launching Aplikasi Smart Fishing

Poin ini disampaikan, saat menjadi keynote speaker pada acara urung rembuk Kementrian Kelautan dan Perikanan bersama stakeholders, terkait upaya peningkatan produksi perikanan budidaya maupun daya saing, terutama komoditi udang yang berorientasi blue economy.

Urung rembuk digelar di Hotel Rizt Carlton Jakarta, Senin 18 Februari tahun 2023. Dan dihadiri sejumlah bupati/walikota, dinas daerah dan asosiasi berkaitan dengan usaha perikanan budidaya di sektor hulu maupun hilir yang saat ini sedang menghadapi banyak tantangan.

Momen ini dinilai strategis ditengah petambak udang sedang dilanda kasus gagal panen karena penyakit bakteri dari virus serta diperparah oleh harga udang dunia yang terus anjlok drastis sejak tahun 2022 dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dunia karena resesi.

Dan ini memerlukan upaya- upaya kaloboratif yang membangun daya saing seperti menekan HPP yang tinggi. Dari beberapa referensi, HPP udang budidaya di Indonesia lebih mahal $ 0,7 US dari Ekuador $ 0,5 US dari India dan $ 0,3 US dati Vietnam

  Bawa Model Motor Baru, Suzuki Beri Kejutan IMOS 2025

Selling point yang disampaikan oleh Menteri KP bagaimana meningkatkan produktifitas tambak udang kita yang rendah sekitar 0,6 ton per ha. Ini merupakan angka rata rata produktifitas tambak udang kita. Trenggono juga mengemukakan bagaimana meningkatkan daya saing udang kita yang kalah jauh.

Baca jugaTrend Positif Budidaya Udang di Sulteng, Arif Latjuba: 2021 Capai 28.085 Ton

Tambak udang Indonesia dominan tambak tradisional sekitar 247,8 ribu ha atau 85 persen. Selebihnya adalah tambak dengan teknologi semi intensif dan intensif dengan produktifitas yang cukup tinggi mencapai 40 ton per ha, bahkan ada yang bisa tembus 100 ton per ha dengan teknologi supra intensif.

Dari total ekspor udang Indonesia tahun 2022 diperkirakan 250 ribu ton, kontribusi tambak semi intensif dan intensif sekitar 85 persen. Dan selebihnya dari tambak tradisional. Padahal areal tambak semi intensif dan intensif hanya 15 persen.