Morowali, Teraskabar.id – Pelestarian budaya menghadapi tantangan baru ketika pembangunan daerah terus bergerak. Karena itu, Musyawarah Adat II 2026 menjadi ruang penting bagi masyarakat Tobungku.
Dewan Adati Pebotoa Tobungku menggelar forum tersebut di Aula Hotel Grand Safanah, Desa Ipi, Bungku Tengah, Minggu (30/8/2026).
Forum itu mengusung tema “Lestarikan Adat Budaya Tobungku Menuju Morowali Maju, Mandiri dan Berkeadilan”.
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga 2 September 2026. Selain membahas kepengurusan, forum tersebut mengevaluasi perjalanan lembaga adat.
Wakil Bupati Morowali Iriane Iliyas berharap forum tersebut memperkuat persatuan masyarakat.
Menurut Iriane, masyarakat perlu menjaga adat, budaya, dan kearifan lokal Tobungku secara bersama.
“Semoga musyawarah ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, nilai-nilai adat, budaya, serta kearifan lokal Tobungku.” ucap Iriane Iliyas.
Musyawarah Adat II 2026: Adat Menjadi Fondasi Keharmonisan Masyarakat
Iriane menilai pelestarian adat memiliki makna lebih luas daripada menjaga warisan budaya. Adat juga berperan menjaga hubungan sosial dan keharmonisan masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu memahami nilai tersebut.
Lebih jauh, forum adat dapat menjadi ruang untuk menyusun langkah konkret pelestarian budaya.
Keputusan yang lahir dari musyawarah juga perlu menjawab perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Iriane berharap forum tersebut menghasilkan keputusan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Adat terjaga, budaya lestari, masyarakat semakin harmonis.” kata Iriane Iliyas.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan adat tidak berhenti pada simbol dan seremoni.
Sebaliknya, adat perlu hadir dalam kehidupan masyarakat melalui nilai, kelembagaan, dan praktik budaya.
Musyawarah Adat II 2026, Dewan Adati Evaluasi Program Lima Tahun
Ketua Dewan Adati Pebotoa Tobungku, Maidhzun Ilwan Ridwan Hadie, menyampaikan laporan program selama lima tahun kepemimpinannya.
Laporan tersebut menjadi bagian penting dalam Musyawarah Adat II 2026. Masa kepemimpinannya berakhir melalui forum tersebut.
Sejumlah program telah berjalan selama periode kepemimpinannya. Program itu mencakup pengembangan batik Tobungku dan batik Iksara.
Dewan Adati juga mengembangkan permainan tradisional Ndengu-Ndengu. Program tersebut menunjukkan upaya lembaga adat mempertahankan identitas budaya melalui berbagai bentuk.
Batik, misalnya, dapat menjadi medium ekspresi budaya sekaligus memperkenalkan identitas Tobungku kepada masyarakat luas.
Sementara itu, permainan tradisional dapat membantu menjaga pengetahuan budaya yang berkembang antargenerasi.
Pengurus Baru Punya Pekerjaan Rumah
Musyawarah juga membuka ruang bagi kepengurusan berikutnya untuk melanjutkan agenda yang belum selesai.
Salah satu pekerjaan rumah tersebut menyangkut pengukuhan lembaga adat di Bahodopi dan Sambori.
Penguatan kelembagaan menjadi penting ketika wilayah masyarakat terus mengalami perkembangan.
Pembangunan ekonomi dan perubahan sosial membutuhkan lembaga adat yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar budaya.
Karena itu, pengurus baru tidak hanya menghadapi agenda administratif. Mereka juga perlu memastikan nilai adat tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.
Keberlanjutan program akhirnya menjadi ukuran penting keberhasilan kepengurusan berikutnya.
Gong Tandai Dimulainya Musyawarah
Pembukaan Musyawarah Adat II 2026 kemudian ditandai dengan pemukulan gong. Simbol tersebut menandai dimulainya seluruh rangkaian kegiatan musyawarah hingga 2 September 2026.
Iriane kembali menyampaikan ucapan selamat kepada Dewan Adati Pebotoa Tobungku. Ia juga berharap seluruh proses berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik.
“Selamat bermusyawarah dan sukses selalu untuk Dewan Adat Pabotoa Adati Tobungku.” tegasnya.
Pada akhirnya, forum adat memiliki tantangan yang lebih besar daripada sekadar memilih kepengurusan.
Forum tersebut perlu menghasilkan arah baru bagi pelestarian budaya Tobungku. Apalagi, Morowali terus berkembang sebagai daerah dengan aktivitas pembangunan dan ekonomi yang dinamis.
Dalam situasi tersebut, identitas budaya membutuhkan kelembagaan yang kuat dan program yang berkelanjutan.
Musyawarah Adat II 2026 karena itu dapat menjadi titik penting untuk mempertemukan tradisi dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Jika keputusan musyawarah mampu menghasilkan program konkret, adat tidak sekadar menjadi warisan.
Adat dapat menjadi kekuatan sosial yang menjaga persatuan sekaligus memperkuat identitas masyarakat Tobungku.






