Sabtu, 2 Mei 2026

Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali, Afit Saputra: Membangun Kesadaran Buruh

pendidikan dasar ii fnpbi morowali afit saputra membangun kesadaran buruh
Ketua FNPBI Morowali, Afit Saputra. Foto: Ghaff

Morowali, Teraskabar.id – Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali kembali menegaskan arah perjuangan kelas pekerja di tengah ekspansi industri yang semakin agresif. Sejak awal kegiatan, organisasi buruh dengan nama lengkap Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia ini mengarahkan Pendidikan Dasar ini sebagai ruang pembentukan kesadaran kolektif yang terstruktur, sistematis, dan berorientasi pada aksi. Oleh karena itu, ratusan buruh yang hadir tidak hanya mengikuti agenda formal, tetapi juga terlibat aktif dalam proses diskusi yang intens dan reflektif.

Selain itu, kegiatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna Desa Wata, Kecamatan Bungku Barat, pada Sabtu (2/5/2026) ini menghadirkan dinamika yang terbuka. Pembukaan kegiatan ini menghadirkan berbagai pihak, mulai dari anggota FNPBI, hingga perwakilan pemerintah dan perusahaan.

Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali, Afit Saputra Tegaskan Posisi Strategis Buruh

Ketua FNPBI Morowali, Afit Saputra, menegaskan bahwa buruh harus keluar dari posisi pasif yang selama ini dilekatkan oleh sistem produksi kapitalistik. Ia kemudian mendorong pemahaman posisi strategis buruh dalam relasi produksi. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tanpa kesadaran kelas, buruh akan terus terjebak dalam siklus eksploitasi yang berulang.

“Buruh bukan sekadar tenaga kerja yang bisa digantikan kapan saja. Buruh adalah kekuatan utama yang menggerakkan seluruh proses produksi. Karena itu, buruh harus sadar, bersatu, dan berani melawan ketidakadilan,” ujar Afit Saputra.

Selanjutnya, Afit menyampaikan enam poin utama. Pertama, ia menekankan pentingnya persatuan buruh sebagai fondasi utama. Kedua, ia menegaskan bahwa upah layak harus menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar. Ketiga, ia menempatkan keselamatan kerja sebagai prioritas mutlak. Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya hak berserikat sebagai instrumen perjuangan yang konkret.

  Nelayan asal Sombori Morowali Ditemukan Mengapung di Perairan Bungku Selatan

“Tanpa organisasi yang kuat, buruh akan terus diposisikan sebagai pihak yang lemah. Oleh sebab itu, kita harus membangun kekuatan kolektif yang disiplin dan terarah,” tambahnya.

Pendidikan Dasar II FNPBI sebagai Alat Strategis Perjuangan

Tidak berhenti di situ, Afit juga mengajak para pekerja untuk melihat konteks industrialisasi Morowali secara kritis. Ia menilai bahwa investasi yang masuk sering kali tidak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan buruh. Oleh sebab itu, ia mendorong buruh untuk membangun organisasi yang kuat agar mampu menghadapi tekanan dari modal.

Dalam konteks tersebut, Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali berfungsi sebagai alat strategis untuk membangun kesadaran yang lebih mendalam. Tidak hanya itu, forum ini juga mengasah kemampuan analisis peserta terhadap kondisi objektif yang mereka hadapi di tempat kerja. Dengan demikian, buruh tidak hanya memahami realitas, tetapi juga mampu merumuskan strategi perjuangan.

“Pendidikan ini bukan sekadar formalitas organisasi. Pendidikan ini adalah proses membangun kesadaran kelas yang akan menentukan arah perjuangan kita ke depan,” tegas Afit.

Disiplin Organisasi dan Penegasan Garis Perjuangan

Sementara itu, Wakil Ketua FNPBI Sulawesi Tengah, Rizal Moh Nasir, disela-sela kegiatan menyampaikan tekadnya memperkuat garis organisasi dengan menekankan disiplin dan konsistensi gerakan. Ia kemudian mengingatkan bahwa gerakan buruh membutuhkan struktur yang solid agar tidak mudah terpecah. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh anggota untuk menjaga komitmen dalam setiap lini perjuangan.

“Gerakan buruh tidak bisa berjalan setengah hati. Kita harus membangun disiplin organisasi yang kuat, menjaga konsistensi, dan memastikan setiap anggota memahami garis perjuangan secara utuh,” tegas Rizal Moh Nasir.

Selain itu, Rizal juga menekankan pentingnya keberanian politik dalam menghadapi tekanan dari modal. Ia menilai bahwa tanpa sikap tegas, gerakan buruh akan mudah dilemahkan oleh kepentingan eksternal.

  Anugerah Daya Saing Produk Pertanian, Petani Binaan PT Vale IGP Morowali Raih Penghargaan

“Jika kita tidak berdiri tegak, maka kita akan terus ditekan. Karena itu, kita harus berani mengambil posisi dan memperjuangkan hak-hak kita secara kolektif,” tambahnya.

Di sisi lain, kehadiran Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Morowali, Ahmad, ST., serta perwakilan perusahaan menunjukkan adanya interaksi langsung antara buruh, negara, dan modal.

Menegaskan Peran Buruh sebagai Subjek Perubahan

Kemudian, Afit Saputra menekankan dalam situasi industrialisasi yang semakin masif, Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali menjadi langkah konkret untuk membangun kesadaran historis kelas pekerja. Buruh tidak lagi sekadar hadir sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai subjek yang mampu menentukan arah perubahan sosial.

Akhirnya, Afit menegaskan bahwa ini kegiatan ini memiliki satu pesan yang kuat. Buruh harus bersatu, buruh harus sadar, dan buruh harus berjuang. Oleh karena itu, Pendidikan Dasar II FNPBI Morowali tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam membangun kekuatan politik buruh yang mandiri dan berkelanjutan. (G)