“Pemkot tetap berupaya mendorong UMKM kita itu dengan cara memberikan stimulan, mengikutkan pelatihan agar mereka bisa berkembang,” katanya.
Pasar Batik Kelor Palu

Pasar bagi penjualan suatu produk selalu jadi persoalan tersendiri untuk kesinambungan produksi. Tanpa pasar yang jelas, mustahil bisa mengharapkan produksi bisa berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan pertama dan utama saat Pemkot Palu berupaya mendorong tumbuhnya pelaku industri kreatif batik motif daun kelor Palu.
“Jadi jangan ragu mengenai pasar penjualan batik motif daun kelor dari pelaku industri kreatif di Palu sudah pasti ada marketnya,” kata Hadianto Rasyid.
Ia menjelaskan, potensi pasar batik kelor Palu sangat besar. Estimasinya, ada 10 Ribu aparatur sipil negara (ASN) lingkup Pemkot Palu menjadi target pasti pasar batik kelor Palu. Bila asumsi itu dikalkulasikan dengan jumlah tenaga honorer, instansi lain baik berupa instansi horisontal maupun vertikal, serta anak-anak sekolah yang berada di bawah kewenangan Pemkot Palu, potensi pasarnya bisa mencapai hingga 12 Ribu orang. Mereka ini menjadi market bagi para pelaku industri kreatif batik kelor Palu.
Baca juga : Telkom Luncurkan metaNesia, Dunia Baru untuk Sinergi BUMN, Swasta, dan UMKM
Total sekitar 12 Ribu market tersebut, wajib menggunakan batik motif daun kelor pada hari tertentu mulai 2023, yang akan dikuatkan dengan surat edaran agar ASN dan instansi lain di Kota Palu.
Tahap awal, setiap 10 Juli yang ditetapkan sebagai Hari Tenun Kota Palu, seluruh jajaran ASN dan tenaga honorer lingkup Pemkot Palu maupun karyawan instansi vertikal, termasuk BUMN dan BUMD bisa mendukung langkah Pemkot menjadikan batik kelor sebagai ikon Kota Palu.






