“Bukan lagi batik Bomba yang nantinya kita pakai, melainkan batik kelor Palu. Makanya saya minta UMKM kita mulai saat ini memproduksi batik kelor,” ujarnya.
Motif Batik Kelor Palu

Kota Palu telah memiliki kain tenun atau wastra hasil warisan budaya leluhur yang dikembangkan jadi tenun bermotifkan daun kelor atau Tava Kelo. Pengembangan desain tenun motif daun kelor ini merupakan hasil kajian yang diinisiasi Badan Litbang Kota Palu bersama Tim Ahli Desain Kain Tenun Kota Palu, serta para budayawan.
“Kain tenun atau wastra merupakan warisan kekayaan budaya nusantara karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kain tenun atau wastra. Motif dari kain tenun itu selalu mengambil ikon dari daerah setempat,” kata Hadianto.
Kota Palu yang memiliki ikon sebagai kota Kelor menjadi latarbelakang kajian desain dan motif tenun kelor Palu. Motif hasil kajian yang dilakukan Tim Ahli Desain Kain Tenun Kota Palu dipadukan dengan motif daun kelor yang menghasilkan 16 motif. Di antaranya, motif Tava Kelo, motif Sasio Tava Kelo, motif Alima Tava Kelo.
Baca juga : Rumah BUMN Memotivasi Kemandirian UMKM di Kawasan 3T
Motif Sasio Tova merupakan hasil pengembangan dari motif Tava Kelo. Makna dari motif ini, bahwa Kota Palu yang menjadi pusat koordinasi dan pengembangan wilayah dikelilingi delapan kecamatan.
Motif lainnya hasil pengembangan dari motif Tava Kelo adalah motif Alima Tava Kelo, bermakna ada empat kecamatan di satu wilayah Kota Palu sebelum pemekaran. Yaitu, Palu Utara, Palu Barat, Palu Timur, dan Palu Selatan.
Namun pada intinya, motif primer dari tenun bermotif kelor adalah bentuk geometris, garis atau titik flora, fauna dan bentuk alam lainnya. Sedangkan warna yang digunakan merupakan gabungan warna utama, yaitu kuning, merah, dan biru. Selanjutnya, warna sekunder, yaitu ungu, jingga dan hijau. Sementara monokrom adalah hitam putih, nuansa kecoklatan dan kemerahan seperti kain kulit kayu. Semua warna yang dituangkan dalam tenun bermotif kelor itu memiliki makna dan filosofi tersendiri.






