Selasa, 19 Mei 2026

Pengembangan Batik Kelor Palu, Pemkot Kirim 30 Orang Belajar Membatik

Pengembangan Batik Kelor Palu, Pemkot Kirim 30 Orang Belajar Membatik
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid bersama Wakil Wali Kota Palu me-launching Batik Kelor Palu. Foto: Humas Pemkot

“Bukan lagi batik Bomba yang nantinya kita pakai, melainkan batik kelor Palu. Makanya saya minta UMKM kita mulai saat ini memproduksi batik kelor,” ujarnya.

Motif Batik Kelor Palu

Pengembangan Batik Kelor Palu, Pemkot Kirim 30 Orang Belajar Membatik
Ragam desain dan motif batik di Nusantara. Foto: Istimewa

Kota Palu telah memiliki kain tenun atau wastra hasil warisan budaya leluhur yang dikembangkan jadi tenun bermotifkan daun kelor atau Tava Kelo. Pengembangan desain tenun motif daun kelor ini merupakan hasil  kajian yang diinisiasi Badan Litbang Kota Palu bersama Tim Ahli Desain Kain Tenun Kota Palu, serta para budayawan.

“Kain tenun atau wastra merupakan warisan kekayaan budaya nusantara karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kain tenun atau wastra. Motif dari kain tenun itu selalu mengambil ikon dari daerah setempat,” kata Hadianto.

Kota Palu yang memiliki ikon sebagai kota Kelor menjadi latarbelakang kajian desain dan motif tenun kelor Palu. Motif hasil kajian yang dilakukan Tim Ahli Desain Kain Tenun Kota Palu dipadukan dengan motif daun kelor yang menghasilkan 16 motif. Di antaranya, motif Tava Kelo, motif Sasio Tava Kelo, motif  Alima Tava Kelo.

Baca jugaRumah BUMN Memotivasi Kemandirian UMKM di Kawasan 3T

Motif Sasio Tova merupakan hasil pengembangan dari motif Tava Kelo. Makna dari motif ini, bahwa Kota Palu yang menjadi pusat koordinasi dan pengembangan wilayah dikelilingi delapan kecamatan.

Motif lainnya hasil pengembangan dari motif Tava Kelo adalah motif  Alima Tava Kelo, bermakna ada empat  kecamatan di satu wilayah Kota Palu sebelum pemekaran.  Yaitu, Palu Utara, Palu Barat, Palu Timur, dan Palu Selatan.

Namun pada intinya, motif primer dari tenun bermotif kelor adalah bentuk geometris, garis atau titik flora, fauna dan bentuk alam lainnya. Sedangkan warna yang digunakan merupakan gabungan warna utama, yaitu  kuning, merah, dan biru. Selanjutnya, warna sekunder, yaitu ungu, jingga dan hijau. Sementara monokrom adalah  hitam putih, nuansa kecoklatan dan kemerahan seperti kain kulit kayu. Semua warna yang dituangkan dalam tenun bermotif kelor itu memiliki makna dan filosofi tersendiri.

  Bupati Parimo Tanam Durian Perdana di Taopa Utara