Palu, Teraskabar.id – Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong (Parimo) dilanda bencana gempa bumi dengan magnitudo 7,4 pada tanggal 28 September 2018. Bencana ini disertai tsunami dan likuefaksi. Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan yang signifikan pada infrastruktur perumahan, fasilitas umum, jalan dan jembatan, drainase, pasokan air, listrik, dan jaringan telekomunikasi, serta menimbulkan kerugian material dan jumlah korban jiwa yang cukup besar.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama dengan semua pihak terkait telah berperan aktif sejak awal, yaitu pada periode tanggap darurat. Kemudian, dilanjutkan dengan periode rehabilitasi dan rekonstruksi yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian akhir.
Melalui upaya keras dan semangat yang dilakukan dalam membangun kembali infrastruktur yang rusak, seperti penyediaan tempat tinggal tetap bagi warga terdampak bencana, fasilitas umum, fasilitas pendidikan dan kesehatan, gedung perkantoran, serta jalan dan jembatan, tujuan untuk memulihkan kehidupan masyarakat terdampak bencana di Sulawesi Tengah menjadi lebih baik dapat tercapai.
Baca juga : Gubernur Sulteng Ajukan Perpanjangan Rehab Rekon hingga 2024
Dalam konteks ini, sebuah lokakarya jurnalisme kebencanaan dengan tema Pendekatan Sinergi dalam Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Sulawesi Tengah diadakan sebagai forum ilmiah yang sangat penting bagi semua elemen masyarakat.
Lokakarya ini bertujuan untuk memperkuat orientasi dan pandangan terhadap konsep jurnalisme kebencanaan, prinsip, dan tujuan dalam menjalankan tugas dan fungsi jurnalistik dengan seimbang dan akurat.
“Kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para jurnalis yang telah berkontribusi aktif dalam menyampaikan informasi dan berita sejak masa tanggap darurat hingga saat ini dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Ketua Satgas Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Pasca Gempa Bumi dan Tsunami Sulteng, Arie Setiadi Moerwanto dalam sambutannya yang dibacakan Ketua Harian Satgas, Ir Dedy Permadi, CES pada pembukaan Lokakarya jurnalisme kebencanaan bertema Pendekatan Sinergi dalam Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Sulteng, Jumat (26/5/2023) di Palu.
Baca juga : Kementerian PUPR Gelar Lokakarya Jurnalisme Kebencanaan, Satgas: Ini Bisa Terbangun Sinergitas
Ia menambahkan, Kementerian PUPR terus berperan aktif dalam menyampaikan informasi publik yang terkait dengan seluruh kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulawesi Tengah melalui situs resmi Kementerian dan Sitaba-Sulteng CSRRP, serta media lain yang berhubungan dengan Kementerian PUPR yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Kementerian juga menyediakan layanan konferensi pers dan rilis berita yang dimuat di media lokal dan nasional.
Selama ini, dunia pers dan para jurnalis telah membuktikan peran aktifnya dalam mencatat dan menyampaikan informasi sejak masa tanggap darurat hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Peran aktif dunia pers dalam menyampaikan berita yang akurat, objektif, dan seimbang telah berkontribusi dalam mempercepat penyelesaian kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah.
Baca juga : Gubernur Curhat ke Wapres, Ada Bupati Belum Lengkapi Persyaratan Administrasi Pencairan Rehab Rekon
Arie Setiadi Moerwanto menyatakan bahwa kegiatan lokakarya ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian PUPR untuk mendorong proses transparansi dan akuntabilitas dalam dunia jurnalisme kebencanaan yang sesuai dengan norma etik jurnalistik. Perspektif yang sama diharapkan dapat menjadi modal bersama dalam membangun hubungan sinergi antara Kementerian PUPR, media cetak, media elektronik, media sosial, dan para jurnalis yang terlibat.
“Menurut pandangan kami, terdapat perbedaan yang signifikan dalam pendekatan jurnalisme kebencanaan dibandingkan dengan jurnalisme umum. Perbedaan tersebut terletak pada metodologi dan pendekatan untuk mendapatkan sumber-sumber utama, sensitivitas terhadap informasi dan berita, serta perhatian terhadap aspek psikologis para korban dan warga yang terdampak bencana di daerah tersebut,” katanya.
Baca juga : RDP Pansus Rehab Rekon DPRD Palu Diskorsing karena BPPW Sulteng Tak Hadir
Oleh karena itu, dalam lokakarya ini, penting untuk menyamakan pandangan tentang konsep jurnalisme kebencanaan, prinsip-prinsipnya, dan tujuannya dalam menjalankan tugas dan fungsi jurnalistik yang seimbang dan akurat dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sulawesi Tengah. Dengan demikian, tercipta hubungan komunikasi yang sinergis dan pemahaman yang sama dalam melaksanakan fungsi keterbukaan informasi publik. (teraskabar)






