Selasa, 28 April 2026

Warga Gane Timur Selatan Soroti Ketimpangan Program MBG: Hak Siswa Dipertanyakan

Warga Gane Timur Selatan Soroti Ketimpangan Program MBG: Hak Siswa Dipertanyakan
Poster sorotan terhadap MBG. Foto: Istimewa

Halsel, Teraskabar.id – Warga Kecamatan Gane Timur Selatan, Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara, melayangkan kritik keras terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak berjalan merata. Program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa secara menyeluruh itu justru belum dirasakan oleh anak-anak sekolah di wilayah mereka hingga saat ini, Selasa, (28/4/2026).

Kondisi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat, sebab tujuan utama program MBG sudah sangat jelas, yakni menjamin asupan gizi siswa secara adil dan merata di seluruh daerah. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya, di mana sejumlah wilayah telah menjalankan program tersebut, sementara Gane Timur Selatan justru belum tersentuh sama sekali.

Desa-desa seperti Gane Luar, Ranga-ranga, Kuwo, Sawat, hingga Gaimu menjadi contoh nyata wilayah yang belum menikmati program MBG. Padahal, anak-anak di daerah tersebut memiliki kebutuhan yang sama dan tidak kalah penting dibandingkan siswa di wilayah lain yang sudah lebih dulu mendapatkan program tersebut.

Warga menilai ketimpangan ini bukan lagi persoalan kecil, melainkan bentuk ketidakadilan yang nyata dalam pelaksanaan kebijakan publik. Mereka mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memastikan pemerataan program yang sejak awal diklaim untuk seluruh siswa tanpa pengecualian.

“Kalau ini program nasional dari Presiden untuk semua anak sekolah, kenapa sampai sekarang wilayah kami tidak ada? Apa kami bukan bagian dari yang harus diperhatikan?” ujar salah satu orang tua siswa dengan nada tegas.

Dampak dari belum hadirnya program MBG sangat dirasakan oleh para siswa. Banyak anak yang masih harus bersekolah dengan bekal seadanya, bahkan tanpa asupan yang cukup, yang tentu berpengaruh pada konsentrasi dan semangat belajar mereka di kelas.

  DEMA UIN Datokarama Soroti Ketimpangan Pendidikan di Donggala

Lebih jauh, masyarakat menilai keterlambatan atau bahkan tidak adanya program ini berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah. Siswa di daerah yang mendapat dukungan gizi tentu memiliki peluang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan fasilitas serupa.

Ironisnya, hingga kini pihak pengelola maupun teknis pelaksana Program MBG belum juga memberikan pernyataan resmi terkait belum dijalankannya program tersebut di Gane Timur Selatan. Ketiadaan penjelasan ini justru memperkuat kesan bahwa wilayah tersebut luput dari perhatian.

Dengan kondisi ini, masyarakat Gane Timur Selatan mendesak pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait untuk segera bertindak, memberikan kejelasan, serta memastikan program MBG benar-benar dijalankan secara adil. Mereka menegaskan, anak-anak mereka berhak mendapatkan perlakuan yang sama, bukan terus menjadi pihak yang tertinggal dalam program yang seharusnya menjangkau seluruh pelosok negeri. (red)