Donggala, Teraskabar.id- Yayasan Donggala Berbagi Bersama (YDBB) bekerjasama dengan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menggelar khitanan massal untuk anak-anak duafa yang berada di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kegiatan ini digelar sehari, 28 Agustus 2022 di Kafe Net, Jalan Masjid Raya, Kecamatan Banawa. Khitanan massal ini merupakan rangkaian kegiatan Yayasan DBB dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke 77.
Baca juga : Peringatan HAB ke-76 Kemenag, Rektor UIN Datokarama Palu Peroleh Penghargaan
Ketua Pengurus Yayasan DBB, Ir Muhammad Bachri MT, mengatakan, khitanan merupakan kewajiban bagi orang yang beragama Islam karena merupakan tuntunan Nabi yang harus dijalankan.
“Khitanan merupakan hal yang sangat penting, menurut Bachri tidak hanya hanya berhubungan dengan ibadah, tapi juga terhadap kesehatan,” kata Bachri saat membuka kegiatan.
Baca juga: Seluruh Prajurit Lanal Palu Swab Antigen, Begini Hasilnya
Menurut Bachri, program khitanan massal merupakan inisiatif dari para pengurus Yayasan DBB. Hal pertama kali dilaksanakan dan menargetkan bisa menjaring 35 anak diseluruh kelurahan di Kecamatan Banawa.
“Ini kali pertama untuk kegiatan khitanan, makanya target kita belum seberapa, baru sekitar 35 orang anak dhuafa. Kami akan berupaya agar bisa menargetkan lebih banyak lagi,” ujarnya.
Baca juga : Tiga Spesialis Pencurian di Banawa Donggala Diringkus Polisi
Ditempat yang sama, Sekretaris Yayasan DBB, Ian Adrian menjelaskan, bahwa Yayasan DBB bergerak di sektor sosial, kemanusiaan, dan keagamaan. Selain khitanan, pihaknya telah melaksanakan program bebagi daging qurban, Jumat berbagi yakni membagikan makanan, serta pembagian sembako untuk puluhan guru mengaji di Kecamatan Banawa.
Dia berharap, kegiatan kemanusia semacam itu tidak hanya dilaksanakan di Kecamatan Banawa, tapi juga bisa terlaksana di wilayah-wilayah pelosok Kabupaten Donggala dan Sulawesi Tengah.
“Tujuan kami tidak lain adalah membantu antar sesama. Kami menyasar ke warga yang tidak mampu. Apalagi banyak warga dari kalangan menengah ke bawah masih kesulitan untuk membiayayi anak-anak mereka khitanan,” ujarnya. (bj/teraskabar)








