Senin, 4 Mei 2026

337 Hari Badai Al-Aqsha, Genosida Terus Berlanjut, Negosiasi Gencatan Senjata Buntu

337 Hari Badai Al-Aqsha, Genosida Terus Berlanjut, Negosiasi Gencatan Senjata Buntu
Pekerja kemanusiaan sedang memadamkan kobaran api pada reruntuhan bangunan yang dibom militer penjajah Israel di Jalur Gaza. Foto: Istimewa

Tentara pendudukan Israel baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah menemukan mayat enam tahanan (Hamas) yang mereka bunuh sendiri di Rafah. Berita ini memicu gelombang kemarahan besar, demonstrasi, protes, dan pemogokan terhadap pemerintah Netanyahu.

Rakyat menuntut agar pemerintah membuat kesepakatan atau tidak Netanyahu didesak turun dan digantikan.
Pernyataan Abu Ubaida, juru bicara Brigade Al-Qassam, menunjukkan bahwa kepemimpinan perlawanan menginstruksikan tentaranya bahwa jika pasukan militer mendekati keberadaan para tahanannya, pasukan yang bertugas melindungi mereka akan segera mengeksekusi mereka. Sikap itu memicu aksi jalanan Israel dalam menghadapi Perdana Menteri pendudukan, Benjamin Netanyahu.

Baca juga133 Pewarta Tewas di Gaza, Terkini Penyiar Saluran Televisi Al-Aqsha Syahid

Lebih dari sepuluh ribu tahanan di penjara-penjara pendudukan menderita pemukulan, pelecehan, dan penghinaan, di tengah meluasnya penyebaran penyakit pernapasan, kulit, dan pencernaan, serta penyakit bakteri dan jamur, karena tidak adanya unsur kebersihan sedikit pun dan perampasan hak mereka atas makanan, minuman, dan perawatan.

Ribuan tahanan juga menderita akibat penelantaran. Serangan medis yang besar dan disengaja terhadap mereka oleh layanan penjara, meningkatkan jumlah martir yang ditawan sejak 7 Oktober menjadi lebih dari 20 martir di penjara-penjara pendudukan, yang merupakan jumlah tertinggi yang tercatat dalam sejarah pergerakan tahanan.
Kondisi yang dialami warga Palestina memicu reaksi dari kalangan mahasiwa internasional. Mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Amerika dan Eropa turun ke jalan menyuarakan kebenaran.

Protes di universitas-universitas Amerika merupakan tantangan baru bagi para pejabat lembaga-lembaga pendidikan kuno tersebut, terutama sejak mahasiswa dan dosen di universitas-universitas tersebut mengumumkan bahwa mereka berencana untuk melanjutkan protes pro-Palestina yang pecah pada akhir semester lalu, dan yang memicu gelombang demonstrasi di banyak ununiversitas Amerika di Eropa dan negara lain.

  Respon Cepat Anwar Hafid Sikapi Banjir di Parimo, Bantuan Segera Terdistribusi ke Warga

Baca jugaAliran Darah Syuhada Palestina, Bahan Bakar Memperkuat Inkubator Perlawanan

Meskipun tahun ajaran baru di Universitas Columbia baru akan dimulai beberapa hari kemudian, protes mahasiswa telah kembali terjadi di kampus New York, yang merupakan pusat gerakan demonstrasi pro-Palestina yang berpindah ke universitas universitas di seluruh dunia pada musim semi.

Perlu dicatat bahwa Rektor Universitas Columbia, Nemat Shafik, mengundurkan diri dari jabatannya pada pertengahan Agustus, setelah berbulan-bulan terjadi protes mahasiswa yang mendukung Jalur Gaza. (*/top/teraskabar)