Morowali, Teraskabar.id – Momentum May Day 2026 direspon oleh Muhammad Reza, Anggota DPRD Kabupaten Morowali, dengan penekanan pada penguatan kolaborasi antara buruh, pemerintah, dan pelaku usaha. Reza menilai hubungan industrial yang stabil menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan investasi daerah dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, momen Hari Buruh 2026 menjadi refleksi bersama untuk memperkuat komunikasi lintas sektor secara konstruktif dan berkelanjutan.
Legislator Fraksi Partai Gerindra ini mendorong seluruh pihak menjaga iklim kerja yang kondusif. Ia menilai pemerintah pusat sudah menyiapkan arah kebijakan yang progresif, sehingga daerah perlu memastikan implementasi berjalan efektif. Selain itu, ia menegaskan bahwa sinergi menjadi kebutuhan nyata di kawasan industri strategis seperti Morowali.
Sinergi Jadi Kunci Stabilitas Industri
Muhammad Reza menegaskan bahwa dinamika ketenagakerjaan harus tetap berada dalam kerangka pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa keseimbangan antara perlindungan buruh dan penguatan investasi harus berjalan secara simultan agar industri tetap tumbuh.
Lebih lanjut, ia menyebut momen Hari Buruh 2026 sebagai titik penting untuk memperkuat komitmen bersama. Ia mendorong dialog produktif antara buruh dan perusahaan agar setiap aspirasi tersalurkan tanpa mengganggu stabilitas usaha. Selain itu, ia menilai pemerintah daerah perlu memperkuat fungsi pengawasan ketenagakerjaan secara konsisten.
Menurutnya, stabilitas industri akan menciptakan efek domino yang positif. Investasi akan meningkat, lapangan kerja akan terbuka, dan kesejahteraan buruh akan ikut terdorong naik secara bertahap.
Momen Hari Buruh 2026: Peran Daerah Menjaga Iklim Usaha
Reza menekankan bahwa pemerintah daerah memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan hubungan industrial. Ia meminta agar komunikasi antara pekerja dan perusahaan terus diperkuat melalui forum dialog yang terstruktur.
Selain itu, ia menilai momen Hari Buruh 2026 harus menjadi ruang evaluasi bersama terhadap kebijakan ketenagakerjaan di daerah industri. Ia juga menyoroti pentingnya kepastian status kerja, keselamatan kerja, dan pengupahan yang adil sebagai pilar utama stabilitas sosial.
Dengan demikian, ia menilai semua pihak perlu bergerak seirama agar iklim usaha tetap kompetitif. Ia juga menegaskan bahwa investasi hanya akan bertahan jika daerah mampu menjaga kepastian hukum dan ketenangan sosial.
Lebih jauh, Reza menyoroti kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan pemerintah pusat sebagai peluang besar bagi Morowali. Ia menilai kebijakan tersebut membuka ruang investasi baru yang lebih luas dan berkelanjutan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut membutuhkan stabilitas hubungan industrial yang kuat. Ia kembali menegaskan bahwa momen Hari Buruh 2026 harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesepahaman antara seluruh pemangku kepentingan.
Ia mendorong agar buruh, pemerintah, dan pelaku usaha membangun dialog rutin agar potensi konflik dapat diminimalkan sejak awal. Dengan begitu, pertumbuhan industri dapat berjalan lebih stabil dan terarah.
Sorotan PHK dan Tantangan Ketenagakerjaan
Politisi asal Bungku Timur ini juga menyoroti meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di beberapa kawasan industri di Sulawesi Tengah dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak karena berdampak langsung pada stabilitas sosial dan ekonomi daerah.
Menurutnya, tekanan global, efisiensi industri, serta perubahan kebutuhan tenaga kerja turut memicu dinamika tersebut. Karena itu, ia menilai perlunya kolaborasi kolektif antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, pelaku usaha, dan serikat buruh untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa momen Hari Buruh 2026 tidak boleh hanya dipahami sebagai peringatan seremonial, tetapi juga sebagai ruang evaluasi kebijakan ketenagakerjaan, termasuk mitigasi risiko PHK melalui dialog dan perencanaan tenaga kerja yang lebih adaptif.
Ia juga menilai bahwa penanganan isu PHK harus dilakukan secara terukur dan berbasis data. Dengan begitu, kebijakan yang diambil dapat memberikan perlindungan sekaligus menjaga daya saing industri.
Selain itu, ia kembali menegaskan bahwa momen Hari Buruh 2026 harus menjadi titik temu antara aspirasi buruh dan kebutuhan dunia usaha agar tercipta solusi yang berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Reza menegaskan bahwa stabilitas investasi hanya dapat terjaga jika hubungan industrial berjalan harmonis. Ia menilai sinergi semua pihak menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan, termasuk gelombang PHK yang terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah.
Ia kembali menekankan bahwa momen Hari Buruh 2026 harus menjadi penguat komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan buruh dan keberlanjutan investasi.
“Jika semua pihak bekerja sama secara kolektif, maka kita bisa menjaga stabilitas industri, menekan dampak PHK, dan memastikan kesejahteraan buruh tetap meningkat,” tegas Reza, Jumat (1/5/2026). (G)






