Sabtu, 2 Mei 2026
Home, Opini  

Sehat Secara Online, Rapuh Secara Nyata: Ironi Kesehatan Mental Gen Z di Era Digital

Sehat Secara Online, Rapuh Secara Nyata: Ironi Kesehatan Mental Gen Z di Era Digital

DI TENGAH derasnya arus digitalisasi, Generasi Z kerap diposisikan sebagai generasi yang paling melek kesehatan mental. Kampanye self care, afirmasi diri, hingga edukasi psikologis membanjiri media sosial dan membentuk kesan seolah kesadaran kolektif telah tercapai. Namun, di balik citra tersebut, realitas menunjukkan ironi yang tajam: sehat secara online, tetapi rapuh secara nyata. Berdasarkan riset kesehatan mental tahun 2025, sekitar 42% Gen Z dilaporkan telah didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental. Fakta ini menegaskan adanya kesenjangan serius antara narasi digital yang tampak positif dengan kondisi psikologis yang sebenarnya dialami di dunia nyata.

Lebih mengkhawatirkan lagi, angka yang muncul bukan sekadar statistik, melainkan indikator krisis yang nyata. Sebanyak 19,9% mahasiswa Gen Z mengalami stres berat, sementara 32,9% mengaku memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Lonjakan gangguan kecemasan dan depresi mayor semakin menonjol di tengah tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, serta tuntutan sosial yang terus meningkat. Alih alih menjadi ruang pemulihan, media sosial justru kerap menciptakan ilusi kesehatan mental yang semu, di mana individu dipaksa tampil baik baik saja sambil diam diam mengalami tekanan yang mendalam akibat perbandingan sosial yang tidak sehat.

Persoalan ini semakin kompleks ketika stigma masih menjadi penghalang utama. Meskipun wacana kesehatan mental semakin terbuka, hampir setengah Gen Z, sekitar 46%, masih merasa terhambat untuk mencari bantuan profesional karena takut dinilai lemah. Ini menunjukkan bahwa kesadaran yang berkembang di ruang digital belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan cara pandang di lingkungan nyata. Kampus, tempat kerja, dan bahkan keluarga masih kerap gagal menjadi ruang aman, sehingga banyak individu memilih memendam masalahnya sendiri hingga mencapai titik yang lebih serius.

  Kombes Hari Rosena Resmi Jabat Kapolresta Palu

Dampak dari kondisi ini tidak hanya berhenti pada level individu, tetapi telah menjalar menjadi persoalan struktural. Generasi yang seharusnya menjadi motor inovasi justru berisiko kehilangan produktivitas, kreativitas, dan arah hidup. Ketika kesehatan mental terganggu, kemampuan berpikir jernih, membangun relasi, dan mengambil keputusan ikut melemah. Jika dibiarkan, situasi ini berpotensi melahirkan generasi yang secara fisik hadir, tetapi secara psikologis terfragmentasi. Istilah lost generation bukan lagi sekadar retorika, melainkan ancaman nyata yang mulai terlihat di berbagai lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, pendekatan terhadap kesehatan mental Gen Z tidak bisa berhenti pada kampanye digital yang bersifat simbolik. Diperlukan langkah konkret seperti penyediaan layanan konseling yang mudah diakses di institusi pendidikan, kebijakan kerja yang lebih manusiawi, serta literasi kesehatan mental yang terintegrasi sejak dini. Di sisi lain, platform digital juga perlu didorong untuk lebih bertanggung jawab dalam menciptakan ekosistem yang tidak memperparah tekanan psikologis penggunanya. Tanpa upaya yang serius dan terarah, ironi sehat secara online tetapi rapuh secara nyata akan terus berulang, dan kita hanya akan menjadi saksi dari generasi yang perlahan runtuh di balik citra kehidupan yang tampak sempurna.

Sumber: Moh Rifki Alwi