Luwu Timur, Teraskabar.id – Menjadi keharusan bagi industri ekstraktif untuk menyusun road map menuju net zero emission di Indonesia pada 2060. Kerangka regulasi nasional yang mengharuskan industry pertambangan melakukan pengelolaan lingkungan untuk penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) secara bertahap.
Namun bagi PT Vale Indonesia, selain diikat oleh kerangka regulasi nasional untuk mencapai net zero emission secara bertahap hingga tahun 2060, semangat spiritual juga mendasari pertambangan hijau ini melakukan pengelolaan lingkungan berkelanjutan untuk mencapai net positif.
Suharpiyu Wijaya, Head of IGP Sorowako Limonite secara gamblang menyebutkan Hari Konservasi Alam Nasional 2026 menjadi momentum bagi PT Vale Indonesia bersedekah oksigen melalui penanaman lamun dan mangrove di area pesisir pantai Mangkasa Poin, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
“Semoga lamun dan mangrove ini bisa tumbuh, berakar kuat menghijaukan pantai dan pantai dan laut itu sendiri sekalian bersedekah oksien,” kata Suharpiyu di sela-sela kegiatan memperingati Hari Konservasi Alam Nasional 2026 di Pantai Mangkasa Point, Luwu Timur, Sabtu (29/8/2026).
PT Vale Indonesia menggandeng Universitas Hasanuddin (Unhas), Sorowako Diving Club (SDC), aktivis lingkungan, dan para relawan dalam melaksanakan kegiatan tersebut.
Sebanyak 50 bibit mangrove dan 200 lamun ditanam sebagai bagian dari upaya rehabilitasi ekosistem pesisir serta penguatan ketahanan lingkungan untuk generasi mendatang.
“Kita menanam dengan harapan bisa menyerap gas rumah kaca, karbon yang bisa menghasilkan oksigen untuk bumi, untuk makhluk hidup dan juga untuk pertumbuhan makhluk hidup lainnya dan inilah hakekat dari sedekah oksigen tersebut,” katanya.
Selain menanam lamun dan mangrove, juga dilaksanakan aksi bersih pantai di sepanjang pesisir Mangkasa Point.
Para relawan terlihat sangat antusias memungut sampah yang bertebaran di sekitar pesisir pantai Mangkasa Point.
Reklamasi di Area Konsesi, Bagian dari Upaya PT Vale ‘Sedekah Oksigen’
Sedekah oksigen juga dilakukan oleh PT Vale Indonesia secara konsisten melalui kegiatan reklamasi sesuai Rencana Reklamasi Perseroan. Dikutip dari Laporan Sustainablaty tahun 2025, selama periode pelaporan, PT Vale berhasil menyelesaikan kegiatan reklamasi di lahan seluas 158,09 hektare, yang terdiri dari 156,67 hektare di Sorowako dan 1,42 hektare di Bahodopi. Reklamasi di Bahodopi dilaksanakan di atas lahan bekas area konstruksi.
Reklamasi di Sorowako seiring dengan peta jalan dekarbonisasi yang telah ditetapkan perseroan yang menguraikan portofolio inisiatif guna meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi operasional dengan komitmen reduksi emisi gas rumah kaca (GRK) Lingkup 1 dan 2 absolut sebesar 33% pada tahun 2030 berdasarkan baseline tahun 2017.
“Untuk proyek-proyek pertumbuhan kami di Pomalaa dan Bahodopi, peta jalan dekarbonisasi saat ini sedang dikembangkan dan ditargetkan selesai pada tahun 2026,” kata CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto sebagaimana tercantum dalam Laporan Sustainable 2025.
Dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, PT Vale menerapkan inisiatif konservasi keanekaragaman hayati dan restorasi ekosistem di seluruh wilayah operasional.
Selama tahun 2025, PT Vale melestarikan dan menanam kembali 72.296 pohon lokal, endemik, dan yang dilindungi.
Selain itu, upaya konservasi satwa liar juga terus berlanjut melalui pengelolaan spesies di bawah program konservasi PT Vale, di antaranya 18 rusa Timor (Rusa timorensis) dan satu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Inisiatif ini mencerminkan upaya berkelanjutan PT Vale untuk melindungi fauna asli dan mempertahankan populasi spesies yang penting untuk konservasi.
Langkah ini juga selaras dengan prinsip ESG yang dijalankan PT Vale mengacu pada standar internasional agar dapat membuktikan bahwa industri tambang harus memberikan kontribusi positif pada lingkungan. (red)







