Morowali, Teraskabar.id– Di lorong-lorong desa dan pelosok Morowali, satu kalimat sederhana sering terdengar dari masyarakat kecil: “Yang penting ada modal.” Kalimat yang singkat namun sarat makna ini menggambarkan sebuah kerinduan yang dalam, bukan sekadar untuk dibantu, tetapi untuk diberdayakan.
Selama ini, pemerintah telah berupaya memberikan jaring pengaman sosial dalam berbagai bentuk, terutama bagi kelompok masyarakat ekonomi bawah. Dua bentuk bantuan yang paling menonjol adalah bantuan tunai dan bantuan modal usaha. Kedua bentuk bantuan ini lahir dari semangat yang sama: meringankan beban rakyat. Namun, pendekatan dan dampaknya sangat berbeda.
Bantuan tunai umumnya diberikan dalam situasi darurat: pandemi, bencana, hingga inflasi harga bahan pokok. Uang tunai yang langsung diterima masyarakat memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan mendesak seperti makanan, obat-obatan, atau biaya pendidikan.
Namun sayangnya, berbagai fakta di lapangan menunjukkan bahwa bantuan tunai bersifat konsumtif. Dana yang diterima habis dalam hitungan hari tanpa menciptakan dampak berkelanjutan.
Sebaliknya, bantuan dalam bentuk modal usaha menawarkan peluang untuk perubahan jangka panjang. Banyak keluarga telah terbantu membuka warung, membeli alat kerja, atau memulai produksi rumahan. Bantuan ini menumbuhkan kemandirian dan memperkuat ekonomi keluarga.
Namun, keberhasilan program ini tidak selalu mudah diraih. Masalah klasik seperti salah sasaran penerima, lemahnya pembinaan, dan minimnya pendampingan usaha sering menjadi batu sandungan. Tanpa perencanaan dan pemantauan yang baik, bantuan modal bisa berujung pada usaha mandek atau alat kerja yang hanya menjadi barang rongsokan.
Tidak semua orang siap mengelola modal, sebagaimana tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan uang tunai. Diperlukan kebijakan yang fleksibel dan responsif terhadap karakter sosial-ekonomi masyarakat. Pendekatan yang adil tidak hanya soal distribusi, tetapi juga soal pendidikan kewirausahaan, pembinaan berkelanjutan, dan pemetaan yang akurat terhadap siapa yang butuh bertahan dan siapa yang siap tumbuh.
Iksan Baharudin Abd Rauf : Bukan Uangnya, Tapi Kesempatannya
Dalam Rapat Validasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) 2025 bersama jajaran OPD Pemerintah Kabupaten Morowali, Bupati Iksan Baharudin Abd Rauf, memberikan pandangannya mengenai arah kebijakan bantuan di daerah.
“Yang mereka butuhkan mungkin adalah edukasi. Kita harus memberikan dukungan untuk usaha mereka. Misalnya, jika ada yang ingin memulai usaha keripik, kita bisa bantu dengan modal untuk itu. Mereka tidak harus selalu menerima bantuan berupa uang,” ujarnya tegas, Rabu (11/6/2025).
Iksan menekankan bahwa pemerintah membutuhkan pendekatan fleksibel, yang menggabungkan pendataan akurat, edukasi wirausaha, serta sistem pemantauan pasca-bantuan. Sehingga kemanfaatan dari setiap program bantuan betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan.
Antara bantuan tunai dan modal usaha, tidak ada satu formula yang selalu tepat untuk semua orang. Yang dibutuhkan adalah pemahaman kontekstual dan kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan, bukan ketergantungan.
Bupati Morowali memberikan isyarat jelas, arah pembangunan sosial ke depan adalah mendorong masyarakat lebih dari sekadar bertahan, tapi juga tumbuh mandiri dan produktif. Karena pada akhirnya, bantuan terbaik adalah yang menciptakan keberdayaan, bukan ketergantungan. (Ghaff/Teraskabar)






