FPTT Parimo 2024 Terkesan Abaikan Kearifan Lokal, Begini Jawaban Plt Kadisporapar

Parimo, Teraskabar.id – Dekorasi pintu masuk pada iven Festival Pesona Teluk Tomini (FPTT) di Desa Pelawa Baru, Kecamtan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), menuai protes sejumlah warga.

Pasalnya, dekorasi yang ada di pintu masuk ke lokasi FPTT tersebut, terkesan hanya menonjolkan budaya tertentu sehingga terkesan mengabaikan kearifan lokal.

Pantuan media ini  pada hari pertama pelaksanaan FPTT, dekorasi atau ornamen pada pintu masuk tersebut bernuansa etnis Bali.

Baca jugaSulteng Tuan Rumah PON Air dan Pantai 2024, Bung Cudy Kembali Catat Sejarah

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disporapar) Parigi Moutong, Eny Susilowati menjelaskan, pemasangan dekorasi etnis Bali di pintu masuk pada acara FPTT tersebut, merupakan bentuk partisipasi dari pihak sekolah.

“Jadi, itu partisipasi kawan-kawan dari sekolah yang ingin menampilkan karya seni kebudayaan dari berbagai suku,” kata Eny Susilowati, Jumat (28/6/2024), di lokasi acara FPTT di Desa Palawa Baru.

Sehingga, panitia mempersilakan bagi sekolah yang ingin memamerkan hasil karya seni kebudayaan di lokasi iven FPTT tersebut.

Baca jugaBerbasis Kearifan Lokal, Balai Bahasa Sulteng Luncurkan 32 Buku Hasil Terjemahan Cerita Anak 2023

“Kami membuka ruang bagi siapapun yang ingin berpartisipasi untuk menikmati Festival Teluk Tomini, dari suku apapun baik Jawa, Bali, Bugis, maupun Kaili,” ujarnya.

“Suku apapun. Jadi ini sistemnya partisipasi, kami memberikan ruang, termasuk pameran bonsai, kami tanpa mengeluarkan uang sepeserpun,” tambahnya.

Menurutnya, dekorasi adat Bali terpajang di jalur utama event itu merupakan hasil partisipasi dari pihak SMK asal kecamatan Torue.

“Jadi Penjor dan ornamen adat Bali kebetulan pesertanya Parigi Torue itu, SMK,” ungkapnya.

Baca jugaTangani Stunting Lewat Program Kearifan Lokal

Menurutnya, pelaksanaan FPTT kali ini mengusung konsep penyelamatan lingkungan yang lebih spesifik terkait daur ulang sampah.

Olehnya, kata dia, tema utama yang digaungkan dalam kegiatan ini, lebih meniti beratkan pada pameran limbah plastik.

“Makanya fashion karnaval tadi menggunakan kostum bahan daur ulang, limbah plastik. Jadi pamerannya itu,” ujarnya. (wad/teraskabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *