Halmahera Selatan, Teraskabar.id – Penderitaan masyarakat di Kecamatan Gane Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, kian memuncak. Bertahun-tahun hidup dengan kondisi jalan rusak parah tanpa perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara, warga akhirnya mulai kehilangan kesabaran.
Lima desa terdampak yakni Desa Gaimu, Sawat, Kuwo, Ranga-ranga, dan Gane Luar hingga kini masih terisolasi akibat akses jalan berlumpur dan dipenuhi lubang besar. Kondisi itu semakin parah saat hujan turun, Ahad (10/5/2026), di mana jalan utama penghubung antar desa berubah menjadi kubangan lumpur yang nyaris tak bisa dilalui kendaraan.
Warga terpaksa mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas. Banyak pengendara jatuh, kendaraan rusak, bahkan aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh total karena hasil kebun sulit dibawa keluar untuk dijual. Anak-anak sekolah kesulitan melintas, sementara warga yang sakit harus berjuang melewati jalan berlumpur demi mendapatkan pelayanan kesehatan.
Masyarakat menilai pemerintah seolah menutup mata terhadap penderitaan warga di wilayah terpencil tersebut. Padahal, jalan itu merupakan proyek lanjutan yang sebelumnya sempat dikerjakan pada masa kepemimpinan almarhum KH. Abdul Gani Kasuba hingga perbatasan Kecamatan Gane Timur Tengah dan Gane Timur Selatan.
Ibrahim, warga Desa Gaimu, mengaku masyarakat sudah lelah dengan janji yang tak kunjung terealisasi. “Torang so capek deng janji terus. Setiap hujan torang jatuh bangun di jalan, hasil kebun rusak karena tidak bisa dibawa keluar. Torang cuma mau jalan yang layak supaya masyarakat tidak terus menderita,” ujarnya penuh kecewa.
Keluhan serupa disampaikan Rusdi Arid, warga Desa Sawat. Ia menilai masyarakat Gane Timur Selatan seperti dianaktirikan dalam pembangunan daerah. “Pejabat datang cuma lihat lalu pulang. Tapi torang yang rasa penderitaan ini setiap hari. Anak sekolah susah lewat, orang sakit juga susah dibawa keluar. Pemerintah seperti tutup mata,” katanya.
Sementara itu, Rion, warga Desa Kuwo, mengatakan kerusakan jalan sudah sangat merugikan masyarakat kecil. “Motor torang banyak rusak karena paksa lewat lumpur. Kadang orang jatuh sampai luka-luka. Torang juga rakyat yang punya hak menikmati pembangunan,” tegasnya.
Dengan nada penuh haru, Sahril, warga Desa Gane Luar, memohon perhatian pemerintah terhadap penderitaan masyarakat Gane Timur Selatan.
“Kasihan kami masyarakat Gane Timur Selatan. Sudah lama sekali torang menderita begini. Tolong Pemprov Maluku Utara, DPRD Provinsi, dan Ibu Gubernur, kasihani torang. Kalian tega kah lihat perlakuan ke masyarakat begini terus?” ucapnya sedih.
HIPMA-GATSEL Siap Kepung Kantor Gubernur karena Diabaikan Pemerintah
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Gane Timur Selatan (HIPMA-GATSEL) menyatakan siap turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kantor DPRD Provinsi Maluku Utara dan Kantor Gubernur Maluku Utara dalam waktu dekat.
HIPMA-GATSEL menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kemarahan sekaligus jeritan masyarakat yang selama ini merasa diabaikan pemerintah. Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Maluku Utara segera melanjutkan pembangunan jalan di Gane Timur Selatan dan berhenti memberikan janji tanpa realisasi.
“Kalau pemerintah terus diam, maka jangan salahkan rakyat ketika turun ke jalan. Ini bukan lagi soal politik, tapi soal penderitaan masyarakat yang sudah terlalu lama dibiarkan. Gane Timur Selatan bukan anak tiri di negeri ini dan HIPMA-GATSEL siap kepung kedua kantor,” tegas salah satu perwakilan HIPMA-GATSEL.
Warga berharap pemerintah tidak lagi sekadar datang meninjau lalu pergi tanpa solusi nyata. Mereka menginginkan tindakan konkret agar masyarakat di pelosok Gane Timur Selatan bisa menikmati akses jalan yang layak seperti daerah lain di Maluku Utara. (man)






