Jakarta, Teraskabar.id – Tungku PT Indonesia Tsingshan Stainles Steel (PT ITSS) di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), dilaporkan meledak hari ini, Ahad (24/12/2023).
Menanggapi kasus meledaknya smelter PT. ITSS yang menyebabkan paling sedikit 35 orang korban, di mana sebanyak 12 orang meninggal dunia, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, meminta agar Menteri Perindustrian mencabut sementara izin operasi smelter PT. ITSS ini dan segera melaksanakan audit investigatif.
“Sebelumnya smelter PT. GNI meledak dan mengakibatkan 2 orang meninggal dunia,” kata Mulyanto.
Baca juga: Tungku PT ITSS di Kawasan PT IMIP Morowali Meledak, Belasan Karyawan Dilaporkan Tewas
Inisden ledakan tungku smelter PT ITSS yang berujung kebakaran dan menewaskan belasan karyawannya, menurut Mulyanto merupakan ledakan terbesar dalam sejarah pengoperasian smelter. Makanya, Mulyanto mendesak pemerintah agar sungguh-sungguh untuk menindaklanjuti kasus ini.
“Kita perlu tahu apa penyebab dari ledakan smelter tersebut, apakah karena faktor lemahnya keandalan fabrik, murni faktor kelalaian manusia, atau ada sebab-sebab lain,” ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah bertanggung-jawab untuk mengusut tuntas kasus ini. Sebab, kasus ini adalah pelajaran yang sangat mahal, sehingga benar-benar harus difahami akar-masalahnya sehingga dapat dicegah kejadian seperti ini berulang di masa depan.
Baca juga: Ketua DPRD Morowali: Kebakaran PT ITSS Sangat Tragis, Pemerintah Harus Berikan Atensi Penuh
Terkait korban dan keluarga korban, PT. ITSS wajib bertanggung-jawab dalam pengobatan, perawatan, pemakaman dan pemberian santunan.
Sebagaimana diketahui, tungku PT ITSS di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) dilaporkan meledak hari ini, Ahad (24/12/2023).
Berdasarkan informasi yang diterima media ini, sebagaimana dikutip dari kesaksian karyawan pero silicone PT ITTS, pada pukul 5.30 Wita, karyawan pero silicone PT ITSS sedang melakukan perbaikan tungku dan melakukan pemasangan plat pada bagian tungku tersebut. Hal ini menurut saksi, diduga penyebab insiden ledakan sehingga membuat beberapa tabung oksigen di sekitaran area juga ikut meledak.
Berdasarkan informasi di lapangan, jumlah korban sementara di dua klinik tempat para karyawan mendapatakan penanganan medis, yaitu di klinik 1 dan klinik 2, jumlah korban dilaporkan sebanyak 35 orang.
Dengan rincian, meninggal 12 orang. Sisanya, dalam kondisi kritis, luka berat, serta luka ringan yang keseluruhannya sedang dalam penangan medis.
Masih menurut informasi yang diterima media ini, sebagian korban yang kritis dan luka berat karena mengalami luka bakar di sekujur tubuh yang diperkirakan 70% mengalami luka bakar.
Untuk sementara pelayanan klinik 1 ditutup untuk pasien berobat. Untuk data korban belum bisa dikonfirmasi saat ini karena masih dalam penanganan pihak klinik. (teraskabar)






