Oleh Hasanuddin Atjo
INDONESIA memiliki garis pantai terpanjang di antara Negara produsen udang dunia yaitu mendekati angka 100.000 km. Sementara itu Equador, India dan Vietnam serta Thailand berada jauh dibawah, kurang dari 10.000 km. Sayang kalau potensi yang besar ini tidak dimaksimalkan.
Dari sisi produksi, mereka jauh lebih unggul. Equador pada tahun 2025, pecah rekor yaitu tembus pada angka 1,5 juta ton, disusul India mendekati 0,8 juta ton dan Vietnam pada angka 0,6 juta ton. Sementara Indonesia mendekati 0 5 juta ton (Atjo 2026, kompilasi data)
Data menunjukkan pada satu sisi investasi bangun tambak baru dengan teknologi modern terus bertambah. Demikian halnya pembangunan pabrik pakan udang terus tumbuh. Ironinya produksi udang tidak mau bertambah, cenderung stagnan. Artinya telah terjadi inefisiensi investasi. Tidak ada korelasi antara investasi dan produksi.
Penyakit udang disebabkan bakteri dan virus menjadi penyebab utama sejumlah tambak modern (utamanya yang berumur lama) tidak lagi berproduksi. Kehilangan produksi tersebut digantikan tambak baru, sehingga dalam data tidak terjadi penurunan produksi.
Selain itu, keamanan pangan juga menjadi hambatan yang perlu diseriusi. Penolakan udang asal Indonesia di pasar internasionsl karena terdeteksi zat radioaktif Cesium-137 dan residu antibiotik berpengaruh terhadap animo masyarakat menabur benur. Menambah sebab produksi tidak bisa naik
Equador yang beriklim tropis dan didukung dengan tambak tebaran rendah kini memimpin produksi dunia. Namun tahun 2000 – 2010 tambak udang mereka dihantam penyakit bakteri dan virus. Berdampak pada produksi udang mereka anjlok hingga di bawah angka 100 ribu ton.
Observasi, riset breeding, dan penyakit jadi perhatian serius pemerintahnya. Setelah tahun 2010, produksi udang mereka kembali meningkat signifikan karena sukses kembangkan industri breeding mandiri dan pengembangan inovasi dan teknologi nursery (karantina benur) sebelum dibesarkan di tambak.
Straregi yang dilakukan oleh Equador mengembangkan inovasi dan teknologi breeding secara mandiri menjadi salah satu faktor dan kunci sukses. Kini mereka memiliki indukan unggul yang bebas penyakit melalui cara expose phatogen dengan tiga pilihan.
Pertama. tumbuh cepat meski daya tahan relatif kurang (fast growth). Kedua memiliki daya tahan terhadap penyakit tapi tumbuh lambat (resistent). Dan terakhir, adalah adaptif akan perubahan lingkungan (Tolerant).
Regulasi negeri mereka dinilai mendukung sehingga penyakit tidak mudah berkembang. Tidak diperbolehkan impor induk udang dari luar karena dikuatirkan menjadi sumber penyebaran penyakit. Namun ekspor induk diperkenankan dalam upaya mendorong majunya bisnis breeding.
Tidak berhenti di situ. Mereka juga mengembangkan sistem budidaya dua dan tiga step. Step pertama adalah benur dari hatchery dikarantinakan di kolam nursery di sekitar kawasan tambak, kemudian dipindahkan ke pembesaran 1 (Growt Out 1) dan seterusnya bila tiga step.
Mitigasi resiko akan masuknya penyakit (biosecurity) menjadi salah satu SOP yang mesti diterapkan dan dipatuhi oleh pembudidaya. Selanjutnya teknologi budidaya dibatasi maksimal semi intensif. Hal yang sama juga dilakukan oleh India.
Pembelajaran terakhir dari Equador bahwa manajemen budidaya mereka berbasis kawasan. Dikelola hanya oleh tidak lebih dari 10 perusahaan swasta integrasi hulu dan hilir terhadap ratusan ribu hektare tambak rakyat. Kondisi ini bisa berjalan dan langgeng karena tercipta trust (saling percaya satu sama lain).
Dari ulasan tersebut, idealnya pengembangan breeding atau pemulian spesies Vaname di dalam negeri mesti menjadi salah satu prioritas. Sektor swasta mestinya didorong dan difasiiitasi agar tertarik masuk pada bisnis industri ini.
Bisnis ini membutuhkan waktu relatif lama., padat teknologi dan investasi lumayan tinggi namun memegang peranan yang sangat strategis dalam mendorong kinerja produksi dan ekspor udang. Karena itu diperlukan regulasi khusus dan berpihak.
Selain breeding, investasi memproduksi jenis cacing laut (Polychaeta) sebagai pakan induk melalui sistem budidaya terkontrol dan steril (bebas penyakit) sangat diperlukan. Dan berpeluang sebagai bisnis baru saling menguntungkan.
Saat ini, polychaeta sebagai pakan induk udang terbaik, pada sejumlah hatchery berasal dari tangkapan alam. Dan terbukti terkontaminasi oleh bakteri dan virus. Melalui mekanisme ini menjadi pintu masuk penyakit melalui benur.
Beberapa hatchery ternama mampu membudidayakan, namun HPP masih tinggi dan volume produksinya terbatas. Masih sering harus diimpor dengan harga mahal karena ketidakcukupan dan menjaga agar tidak terkontaminasi.
Akan sia sia apabila sukses dalam breeding, tidak diikuti oleh penyediaan pakan induk yang steril (bebas penyakit), karena tidak mampu membuat benur yang sehat dan lebih lanjut membuat masalah saat dibudidayakan di tambak.
Pada semua komoditi pangan kunci kesuksesan industrinya sangat ditentukan oleh maju dan berkembangnya industri breeding (pemulian). Salah satu contoh konkret adalah industri kelapa sawit yang membuat Indonesia menjadi produsen terbesar dunia.
Selanjutnya kondisi existing dalam negeri yang berkaitan dengan kemajuan pemuliaan dan usaha budidaya cacing laut (polyhaeta), dipandang perlu dukungan kuat, karena berjalan lamban dan masih terbatas.
Pada industri breeding dikenal tahapan memproduksi induk unggul. Pertama adalah NBC
(Nucleus Breeding Center). Fasilitas ini berperan sebagai tempat perekayasaan genetik. Dan ini merupakan tahapan yang tersulit.
Kedua adalah BMC (Breeding Multification Center). Berperan sebagai perbanyakan calon calon induk yang berasal dari NBC, untuk selanjutnya dapat diperjualbelikan memenuhi kebutuhan hatchery.
Hingga saat ini, di Indonesia telah terbangun 3 unit NBC. Satu milik pemerintah dan dua milik swasta nasional. Dalam perjalanannya, satu milik swasta harus tutup dan satunya terus berkembang dan maju.
Mereka kini menjadi salah satu hatchery vaname terbesar di Indobesia. Memiliki konsistensi tinggi dalam hal mutu, antara lain dikarenakan sukses dalam pengembangan bisnis NBC dan memproduksi polychaeta yang steril.
NBC milik pemerintah masih bertahan dan dipandang perlu dicarikan format agar fasilitas ini mampu memainkan peran sebagaimana yang dicapai dan diperlihatkan oleh NBC swasta tersebut.
Selanjutnya di negeri ini hadir satu BMC swasta Nasional yang berafiliasi dengan salah satu NBC di Hawai. Perannya sangat strategis menyuplai kebutuhan induk sejumlah hatchery di Indonesia. Namun dinilai perlu didorong menjadi NBC mandiri.
Terakhir semua berharap agar industri pemulian induk udang vaname dalam negeri mampu berkembang. Demikian halnya industri budidaya cacing jenis polyhaeta. Peran semua pihak sangat diperlukan terutama dalam dukungan regulasi dan permodalan. (***)






