Senin, 4 Mei 2026

Festival Pilkada Sulteng, Pemuda Kolaborasi Ciptakan Ruang Interaksi Inklusif dengan Paslon

Festival Pilkada Sulteng, Pemuda Kolaborasi Ciptakan Ruang Interaksi Inklusif dengan Paslon
Sejumlah komunitas kaum muda di Palu, Sulawesi Tengah, menciptakan ruang interaksi langsung dengan paslon gubernur melalui ajang Festival Pilkada Sulteng, Sabtu (17/11/2024), di BellRock Coffee Roaster, Jl. Juanda, Kota Palu. Foto: Istimewa

Palu, Teraskabar.id – Sejumlah komunitas kaum muda di Sulawesi Tengah menciptakan ruang interaksi yang inklusif antara pasangan calon (Paslon) kepala daerah dengan pemuda melalui Ferstival Pilkada Sulteng.

Kegiatan korlaborasi ini diselenggarakan di BellRock Coffee Roaster, Jl. Juanda, Kota Palu, Sabtu (16/11/2024), menghadirkan tim sukses dari pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur  Sulteng yaitu Paslon nomor urut 01, Ahmad Ali – Abdul Karim (Beramal) danPaslon nomor urut 02, Anawar – Reny (Berani). Sementara Paslon nomor urut 03 Rusdi – Agusto (Sangganipa) berhalangan hadir dalam diskusi ini.

Sejumlah komunitas kaum muda terlibat sekaligus mensukseskan kegiatan kolaboratif ini di antaranya, Bijak Pilkada, Ruang Setara (Rasera) Project dan komunitas lokal di kota Palu, seperti Demi Bumi Palu, Konsorsium Pembaruan Agraria Sulteng, Suara Muda, Trash Ranger Sulteng, Yayasan Rubalang, dan Green Leaders Indonesia.

Koordinator Festival Pilkada Sulteng, Moh Haikal menjelaskan Festival Pilkada Sulteng ini sebagai ajang bagi kaum muda untuk berinteraksi langsung dengan Paslon pada kontestasi Pilkada serentak 2024, termasuk paslon gubernur dan wakil gubernur Sulteng.

“Mengingat debat debat Pilkada yang diselenggarakan oleh KPU seringkali terbatas untuk kami akses dan berinteraksi langsung sehingga kami bermitra dengan komunitas-komunitas lain untuk membuat acara ini,” kata Haikal.

Festival Pilkada Sulteng ini kata Haikal menjadi momen bagi kaum muda membedah lebih dalam visi misi para paslon dan melihat apakah itu benar-benar relevan bagi masa depan pemuda. Selanjutnya mengkritisi dan memberikan masukan kepada masing-masing paslon atau tim paslon.

“Pentingnya memilih calon berdasarkan substansi visi dan misi, bukan hanya karena popularitas,” tegas Haikal. (red/teraskabar)

  Mengganggu Mental Demokrasi, Akademisi Untad: Hanya Gombal Survei-Survei Ini