Oleh Muhammad Fitriani, S.H.I., Ketua LazisMu Kalimantan Tengah
ZAMAN sekarang, masih adakah yang benar-benar berempati? Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat sekelompok mahasiswa atau relawan berdiri di tengah jalan, membawa kardus bertuliskan “Bantuan Untuk Bencana”, baik bencana nasional maupun internasional. Sebagian orang memilih berhenti dan menyumbang, sebagian lain melintas begitu saja. Pilihan itu sah-sah saja, tapi ada satu hal yang layak direnungkan: di tengah krisis kepedulian generasi masa kini, masih ada anak muda yang rela berpanas-panasan demi orang yang bahkan tidak mereka kenal.
Dalam menjalankan lembaga filantropi, tantangan dan dukungan selalu berjalan beriringan. Konsep filantropi untuk mendorong keadilan sosial tidak bisa hanya reaktif terhadap masalah yang tampak di depan mata. Ia perlu mereproduksi struktur sosial yang lebih berdampak dan berkelanjutan, bukan sekadar menjawab krisis saat krisis itu viral, lalu dilupakan begitu media berhenti meliput.
Namun di balik idealisme itu, ada realitas lapangan yang tidak boleh diabaikan: mereka yang berdiri di pinggir jalan dengan kardus donasi. Tulisan ini mencoba membagikan alasan mengapa dukungan terhadap cara manual ini tetap penting, sekaligus pelajaran dari pengalaman langsung di lokasi bencana.
Mengapa Tetap Mendukung Donasi di Jalan
Alasan pertama adalah soal apresiasi terhadap niat. Walaupun kita sudah menyumbang lewat transfer di berbagai titik pengumpulan donasi resmi, untuk mereka yang berdiri di tengah jalan ini, ada baiknya tetap menyiapkan uang receh, lima ribu, sepuluh ribu, atau dua puluh ribu rupiah untuk diisi ke kardus mereka. Ini bukan soal nominal, melainkan bentuk pengakuan bahwa niat mereka masih peduli pada korban bencana patut untuk didukung.
Saya pernah berada di posisi itu, ikut mengumpulkan donasi di bawah terik matahari, berkeliling pasar dan pertokoan. Setiap kali mobil menurunkan kaca atau pengendara motor merogoh saku lalu melemparkan uang ke kardus yang kami bawa, rasanya girang sekali. Kami menghitung rupiah demi rupiah yang terkumpul, lalu bergerak cepat mencari kendaraan menuju lokasi bencana.
Pengalaman itu memberi saya pemahaman yang tidak bisa didapat hanya dari membaca laporan. Saat terjadi banjir besar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, bahkan tsunami di Palu, ratusan rumah tenggelam dan entah berapa banyak harta benda yang ikut hilang. Di titik itu, uang receh yang terkumpul dari jalanan bukan lagi angka kecil, melainkan bagian dari respons cepat yang menyelamatkan hidup orang lain.
Karena itu, mendukung relawan jalanan bukan tindakan seremonial. Ia adalah cara sederhana menjaga api kepedulian tetap menyala, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar berempati secara langsung, bukan hanya lewat layar gawai.
Kelelahan Empati dan Pelajaran dari Lapangan: Tidak Semua Bantuan Dibutuhkan
Namun, pengalaman di lapangan juga mengajarkan hal penting lain: niat baik saja tidak cukup tanpa memahami kebutuhan sebenarnya. Saat itu kami menggunakan mobil AmbulanMu untuk mengantar bantuan. Selain uang tunai, kami juga membawa sembako dan pakaian bekas yang telah dikumpulkan di posko.
Namun apa yang kami temukan di lokasi pengungsian cukup mengejutkan. Pakaian bekas sudah menumpuk, tidak banyak diminati para pengungsi. Mereka tidak butuh pakaian dalam jumlah besar, karena rumah mereka sudah hilang tersapu longsor atau banjir. Yang mereka butuhkan justru uang tunai dan makanan untuk melanjutkan hidup sehari-hari.
Temuan ini mengubah cara kami bekerja. Sejak saat itu, kami tidak lagi tertarik mengumpulkan dan menyerahkan pakaian bekas untuk korban bencana, kecuali memang benar-benar dibutuhkan di lokasi tersebut. Bantuan yang efektif bukan soal seberapa banyak barang yang dikirim, melainkan seberapa tepat bantuan itu menjawab kebutuhan riil korban di lapangan.
Pelajaran ini relevan untuk siapa saja yang ingin membantu, termasuk kita yang memilih menyumbang lewat kardus di jalan. Uang tunai yang fleksibel sering kali jauh lebih berguna dibanding barang yang belum tentu dibutuhkan. Karena itu, dukungan kepada relawan jalanan sebaiknya tetap diberikan dalam bentuk yang paling mudah mereka salurkan sesuai kebutuhan darurat di lapangan.
Jadi, tetap dukung adik-adik mahasiswa dan relawan kemanusiaan yang masih peduli dan mau turun langsung mengumpulkan donasi dengan cara manual seperti ini. Sekalipun sudah bertransfer untuk donasi resmi, sisihkan juga uang tunai untuk mereka. Kelelahan empati boleh datang sesekali, tapi jangan sampai membuat kita berhenti peduli sepenuhnya. (***)
Editor Naskah: Yoan Pramoga






