Jumat, 17 Juli 2026
Home, News  

Sambut Muktamar NU ke-35, PW IKA PMII Sulteng Gelar Diskusi Roundtable Hadirkan Guru Besar UIN Jakarta

Sambut Muktamar NU ke-35, PW IKA PMII Sulteng Gelar Diskusi Roundtable Hadirkan Guru Besar UIN Jakarta
PW IKA PMII Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar diskusi Rooltable menjelang Muktamar NU yang ke 35. Foto: Kolase

Palu, Teraskabar.id – PW IKA PMII Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar diskusi Rooltable menjelang Muktamar NU yang ke 35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur Agustus mendatang .

Diskusi yang berlangsung di salah satu kafe di Kota Palu ini, Kamis (16/7/2026),  menghadirkan Prof. Khamami sebagai Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tema  NU sebagai Kekuatan Sipil untuk Membangun Peradaban.

Prof Khamami, Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  yang sekalgus sebagai Dewan Pakar PB IKA PMII menyatakan bahwa di tengah berbagai tantangan bangsa mulai dari polarisasi politik, intoleransi, krisis lingkungan, hingga ketimpangan sosial, maka Indonesia membutuhkan kekuatan sipil yang mampu menjadi perekat masyarakat.

“Dalam konteks ini, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki posisi yang sangat strategis sebagai organisasi masyarakat sipil terbesar yang tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga menjadi pilar pembangunan peradaban,” kata Prof. Khamami pada diskusi yang berlangsung di salah satu kafe di Kota Palu, Kamis (16/7/2026).

Sebagai kekuatan sipil, NU telah menunjukkan perannya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memperkuat demokrasi, serta mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat (wasathiyah), toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), dan adil (i’tidal). Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

Peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral, pendidikan, serta kemampuan masyarakat menghargai keberagaman.

Ia menambahkan, melalui jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial, NU berkontribusi dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter, berakhlak, dan memiliki komitmen kebangsaan.

Ke depan, peran NU perlu semakin diperkuat dalam merespons isu-isu kontemporer seperti transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, ketahanan pangan, serta pemberdayaan ekonomi umat.

  PW IKA PMII Sulteng Akan Gugat Kepmen ESDM 157/2026 ke PTUN dan MA

Kekuatan sipil yang dimiliki NU harus menjadi motor penggerak lahirnya inovasi sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada kemaslahatan bersama.

Dengan pengalaman sejarah yang panjang dan basis masyarakat yang kuat, NU memiliki modal sosial yang besar untuk menjadi lokomotif peradaban Indonesia. Peran tersebut akan semakin bermakna apabila NU terus menjaga independensi moral, memperkuat tradisi keilmuan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.

Pada akhirnya, NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan kekuatan sipil yang mampu menghubungkan nilai-nilai Islam dengan cita-cita kebangsaan. Dari sinilah NU dapat terus menjadi pelopor lahirnya peradaban Indonesia yang religius, demokratis, adil, maju, dan berkeadaban, sekaligus memberikan kontribusi bagi perdamaian dan kemanusiaan dunia.

Sekretaris IKA PMII Sulteng, Dr. Sahran Raden, S.Ag, S.H., M.H.,  dalam diskusi ini menyatakan bahwa tujuan diskusi ini  adalah membangun literasi Gagasan NU Menjelang Muktamar NU sebagai   ruang intelektual untuk merumuskan arah, strategi, dan rekomendasi bagi perjalanan organisasi NU di masa depan.

Diskusi ini sebagai  sarana  strategis NU dalam menjawab tantangan lokal, nasional, dan global pada periode kepengurusan mendatang. Menghimpun gagasan dan aspirasi dari para  akademisi, cendekiawan, serta warga NU sebagai dalam memperkuat  NU sebagai masyarakat sipil di Indonesia. (red)