Palu, Teraskabar.id – Korban anak-anak keracunan yang diduga akibat mengkonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah jumlahnya. Dalam catatan Sekretaris DPW Partai Gema Bangsa Sulawesi Tengah (Sulteng), Azman, S.P., menyebutkan bahwa di Sulawesi Tengah, ada beberapa siswa di dua Kabupaten, Banggai Kepulauan dan Tojo Una-Una mengalami keracunan massal.
Menurtunya, jika melihat dari data jumlah anak yang menjadi korban keracunan, sudah mencapai 50.059 jiwa di seluruh Indonesia. “Kami melihat belum ada perbaikan tata kelola yang serius terkait pengolahan menu makanan, penyajian, penerima, hingga pada distribusi MBG ke setiap sekolah,” kata Azman melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Senin (14/9/2026).
Kesuksesan program ini kata Azman, tidak bisa disederhanakan pada membandingkan jumlah penerima manfaat dan jumlah korban keracunan, satu saja korban akibat kelalaian pengelolaan menu MBG dan berdampak serius pada genarasi bangsa kita, itu justru menutup semua narasi keberhasilan program MBG.
Kenapa perlu untuk dihentikan untuk sementara, jangan sampai program mulia ini meninggalkan trauma dan ketakutan akut bagi para siswa. Ini lebih berbahaya, bisa menggerus kepercayaan terhadap program-program yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah.
Korban Keracunan MBG Terus Bertambah, Bergeser dari Cita-Cita Mulia Presiden Prabowo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dicanangkan saat ini justru menyimpang dari substansinya, bergeser dari cita-cita mulia Presiden Prabowo. Kemuliaan memberi makan kepada anak justru berakhir menjadi bancakan dan berpotensi menimbulkan korban jiwa paling serius.
Sebaiknya program MBG ini dihentikan untuk sementara. Perlu ada pembenahan secara keseluruhan. Bukan hanya mengambil kebijakan penutupan SPPG yang terbukti melanggar standar yang telah ditentukan, tapi juga bagaimana program mulia ini benar-benar sampai menjadi asupan gizi bagi anak-anak serta memberdayakan ekonomi masyarakat di sekitar.
Pemerintah perlu mempertimbangkan skema penyaluran MBG kepada siswa-siswa di sekolah. Mulai dari pelibatan kantin-kantin sekolah, mengurangi jumlah kuota penerima dalam satu SPPG atau diarahkan langsung kepada orang tua siswa melalui skema kartu belanja MBG.
Peruntukan dari sasaran program MBG juga harus benar-benar menyasar siswa-siswa yang perlu mendapat asupan Gizi, terutama terdistribusi ke wilayah-wilayah 3 T (Terluar, Tertinggal, Terdepan). Program MBG harus segera dihentikan untuk sementara waktu, sembari menggagas formulasi yang lebih baik dalam penyaluran menu MBG tanpa mengurangi substansi yang ingin di cita-citakan Presiden Prabowo Subianto. (red)






