Morowali, Teraskabar.id – SMIP rayakan May Day dengan cara yang berbeda dan penuh makna di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Alih-alih turun ke jalan, Serikat Pekerja Sulawesi Mining Investment Pabrik (SP-SMIP) justru menggelar aksi sosial dengan menanam 1.001 pohon mangrove di pesisir Desa Lalampu, Kecamatan Bahodopi.
Langkah ini sekaligus menandai pergeseran pendekatan gerakan buruh yang lebih konstruktif. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan pesisir yang selama ini menghadapi tekanan akibat aktivitas industri.
Aksi Sosial sebagai Refleksi Perjuangan Buruh
Ketua SP-SMIP, Masri, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni. Sebaliknya, ia menyebut kegiatan tersebut sebagai refleksi perjalanan panjang organisasi sekaligus bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Karena itu, kami mengubah arah peringatan May Day internasional yang biasanya diwarnai aksi demonstrasi menjadi aksi sosial berupa penanaman mangrove,” ujar Masri, Senin (4/5/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keputusan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak berdiri pada 2015, SP-SMIP telah melewati berbagai dinamika perjuangan. Mereka tidak hanya turun ke lapangan, tetapi juga berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi sebagai serikat pekerja di kawasan industri Morowali.
Di sisi lain, organisasi ini juga aktif mendorong lahirnya kebijakan Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK). Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada 2016. Meskipun demikian, sebagian pekerja menilai implementasinya belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Namun demikian, SMIP rayakan May Day tahun ini dengan pendekatan yang lebih solutif. Masri menilai bahwa menjaga stabilitas dunia kerja dan iklim investasi menjadi hal penting di tengah perkembangan industri yang pesat.
SMIP Rayakan May Day 2026: Tekankan Stabilitas dan Kepatuhan Hukum
Oleh sebab itu, SP-SMIP kini lebih mengedepankan dialog, pendekatan hukum, dan mekanisme resmi dalam menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan. Bahkan, jika diperlukan, mereka siap menempuh jalur Pengadilan Hubungan Industrial.
“Meski begitu, kami menyadari masih banyak kekurangan. Namun, kami terus berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan pekerja dan keberlanjutan investasi,” tegasnya.
Selain itu, Masri juga menekankan bahwa SP-SMIP berdiri sebagai organisasi lokal yang mandiri. Mereka tidak berafiliasi dengan organisasi nasional maupun internasional. Dengan demikian, setiap keputusan diambil berdasarkan kebutuhan riil pekerja di Morowali.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa seluruh langkah organisasi selalu berpedoman pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini penting agar setiap perjuangan tetap berada dalam koridor hukum.
Mangrove untuk Masa Depan Pesisir
Melalui kegiatan ini, SMIP rayakan May Day tidak hanya sebagai momentum solidaritas buruh, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang berdampak luas. Penanaman mangrove diharapkan mampu mencegah abrasi, menjaga ekosistem pesisir, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Pada akhirnya, SMIP rayakan May Day dengan pesan kuat bahwa perjuangan buruh tidak selalu identik dengan demonstrasi. Sebaliknya, buruh juga mampu menghadirkan solusi konkret melalui aksi nyata yang menyentuh aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan. (G)






