Palu, Teraskabar.id – Sulawesi Tengah (Sulteng) miliki modal jadi raksasa ekonomi nasional karena memiliki potensi sumber daya alam yang lengkap dan melimpah.
“Kita punya nikel, emas, migas, laut yang kaya, pertanian yang subur. Tinggal bagaimana semua potensi ini menjelma menjadi raksasa ekonomi,” kata Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid pada pembukaan Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah (FRESH) yang digelar di Sriti Convention Hall, Kamis (7/5/2026).
Komoditas ekspor yang beragam menjadi indikator sumber daya alam Sulteng tersebut sangat lengkap dan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi provinsi ini menuju raksasa ekonomi nasional. Sumber daya alam yang menjadi komoditas ekspor Sulteng di antaranya, besi dan baja, nikel, emas, migas, hasil laut, hingga sector pertanian dan perkebunan.
Besi dan baja merupakan salah satu komoditas utama ekspor Sulteng yang memberi kontribusi pada nilai ekspor pada Maret 2026 senilai memiliki nilai US$1.023,16 juta dan memiliki kontribusi sebesar 47,18 persen terhadap total nilai ekspor.
Pada posisi kedua, komoditas Nikel memiliki nilai US$505,86 juta dan memberikan kontribusi sebesar 23,33 persen. Komoditas Bahan bakar mineral memiliki nilai US$356,15 juta dan menempati posisi ketiga dengan kontribusi terhadap nilai total sebesar 16,42 persen. Posisi ketiga adalah Bahan Bakar Mineral berkontribusi US$356,15.
Buah-buahan turut berkontribusi pada nilai ekspor Sulteng pada Maret 2026 senilai US$18,36 Juta. Total ekspor Sulteng pada Maret 2026 mencapai US$2.168,47.
Secara kumulatif, nilai ekspor Provinsi Sulawesi Tengah pada Januari-Maret 2026 telah mencapai US$6.203,7 juta, sedangkan pada Januari-Maret 2025 mencapai US$5.053,08. Jika dibandingkan dengan nilai kumulatif hingga bulan yang sama pada tahun sebelumnya, posisi nilai ekspor Sulteng mengalami peningkatan sebesar 22,77 persen.
Sulteng Miliki Modal Jadi Raksasa Ekonomi, Sinergi Kuncinya
Pada Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah (FRESH) yang merupakan inisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Anwar Hafid mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi membangun Sulawesi Tengah menjadi kekuatan ekonomi baru nasional.
Melalui kegiatan ini, Gubernur Anwar Hafid mengharapkan jadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di Sulawesi Tengah. Selain itu, menjadi wadah koordinasi dan penyampaian perkembangan kondisi ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global dan nasional.
Ekonomi Sulteng Tumbuh Melambat
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, pada kegiatan FRESH ini memaparkan perkembangan perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan I tahun 2026.
Ia mengatakan, ekonomi Sulawesi Tengah tercatat tumbuh sebesar 8,32 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun melambat dibandingkan triwulan IV tahun 2025 yang mencapai 9,43 persen yoy, capaian tersebut masih menempatkan Sulawesi Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga secara nasional.
Lebih lanjut, Muhammad Irfan Sukarna menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih didorong oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar 5,94 persen yoy. Selain itu, sektor pertanian dan pertambangan juga menjadi penopang utama perekonomian daerah. Struktur ekonomi Sulawesi Tengah masih didominasi industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 43,43 persen, diikuti sektor pertanian sebesar 16,19 persen dan sektor pertambangan sebesar 14,17 persen.
Forum tersebut juga dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui forum FRESH ini, diharapkan sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, BPS, dan seluruh stakeholder dapat terus diperkuat dalam menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tengah. (red)






