Senin, 4 Mei 2026
News  

Tuntut Perhutanan Sosial Palsu Dihentikan, Mahasiswa Datangi DPRD Sulteng

Palu, Teraskabar.id– Sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar unjuk rasa memperingati momentum Hari Tani Nasional (HTN) ke-62, Selasa (27/9/2022).

Aksi yang diikuti sekitar 80 orang itu, mulai tiba di depan kantor DPRD Provinsi Sulteng sekitar pukul 10.30 WITA dan langsung berorasi secara bergantian.

Baca jugaTuntut Izin PT Trio Kencana Dicabut, Massa Aksi Kembali Blokade Jalan Trans Sulawesi di Parimo

Mereka menuntut segera hentikan reforma agraria dan perhutanan sosial palsu Jokowi, serta lawan segala bentuk kebijakan rezim kepala batu.

“Kami tuntut perhutanan sosial palsu Jokowi segera dihentikan,” ujarnya.

Selain itu tuntut perhutanan sosial palsu dihentikan, mereka juga menuntut, di antaranya hentikan intimidasi, tindakan represif dan kriminalisasi terhadap gerakan rakyat baik di Sulawesi Tengah maupun secara nasional.
Kemudian, berikan ganti rugi atas tanah petani yang dikelola oleh PT HIP selama 15 tahun belakangan.

Baca jugaSulteng Terima 26 SK Perhutanan Seluas 28.448 Hektare dari Presiden Jokowi

Terakhir, menuntut segera mewujudkan reforma agraria sejati sebagai syarat terciptanya industrialisasi nasional.
Kordinator lapangan, Alin, saat menyampaikan orasinya menegaskan, peringatan Hari Tani Nasional kali ini diperingati di tengah krisis pedesaan yang terus memburuk, akan tetapi berbagai kebijakan  keputusan, regulasi memperdalam krisis di pedesaan. Krisis ini sebagai dampak dari sistem setengah feodal yang berbasis pada monopali tanah skala besar oleh pertambangan dan perkebunan milik swasta maupun pemerintah sebagai agen dari modal internasional milik kapitalisme monopoli dalam bentuk imprealisme.

Baca jugaGegara Tanda Tangan Palsu, Kerugian Daerah Bangkep Rp 29 Miliar

“Hal itu meninggalkan dampak yang mendalam bagi rakyat, krisis finansial, pangan, energi, juga bencana alam, banjir, longsor, serta gelombang air pasang menjadi realita yang terus tejadi. Rumah dan seluruh hasil keringat hilang dengan sekejap,” kata Alin.
Setelah berunjuk rasa selama dua jam, massa aksi kemudian membubarkan diri sekitar pukul 12.40 WITA.
Aksi unjuk rasa tersebut juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM yang sangat dibutuhkan masyarakat dan juga berdampak terhadap para petani. (teraskabar)

  Gubernur Sulteng Ajukan Perpanjangan Rehab Rekon hingga 2024