Oleh Hasanuddin Atjo
BERDASAR pendekatan ekonomi makro , ketika Dolar AS (USD) menguat terhadap Rupiah (IDR), harga komoditas ekspor seperti udang seharusnya lebih mahal dan berdampak menyenangkan petambak, sebagaimana yang biasa mereka alami.
Kejadian penguatan dollar pada saat ini lain dan berbeda karena membebani petambak. Selain harga pembelian udang dalam Negeri menurun tajam. Harga Pokok Produksi (HPP) melonjak karena sebahagian besar input produksi (sekitar 60 %) mesti diimpor (tepung ikan, peralatan, bahan kemasan dan lainnya).
Ditengerai rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan bea masuk udang karena isu tenaga kerja (Forced Labor) sebesar 10 -12,5% menjadi satu di antara pemicu turunnya harga. Kebijakan baru ini diprediksi akan menambah bea masuk menjadi 32 hingga 35%. Rencana diberlakukan pada Juni 2026.
Sebelumnya bea masuk udang Indonesia ke pasar AS (2025) sebesar 22,9% terdiri dari bea (Resiprokal 19%, Anti Dumping 3,9%). Sementara itu India pada saat yang sama dikenakan bea masuk sebesar 50%, membuat mereka sempat kelimpungan.
Harusnya kesempatan berharga itu bisa dimanfaatkan Indonesia memperbesar volume ekspornya Sayang ini tidak bisa dilakukan karena Indonesia belum mampu memperbesar produksi karena tekanan penyakit udang yang berkepanjangan.
Diplomasi yang dilakukan India menyebabkan Pemerintahan AS pada Februari 2026 mereduksi bea masuk udang India dari 50% menjadi 18%. Kebijakan ini memberi tekanan pada harga udang asal Indonesia. Apalagi HPP mereka lebih rendah
India dan Indonesia mengekspor udang mereka dominan mengisi pasar AS. Pada tahun 2025, India mengekspor hampir 80% udang mereka sebesar 301.000 metrik ton (MT). Sementara Indonesia di tahun yang sama mengekspor sekitar 150.000 metrik ton atau hampir 70%
Penurunan harga pada saat ini juga disebabkan oleh faktor lain. Di antaranya, Over Suply produksi karena keberhasilan budidaya terutama Equador dan hadirnya pendatang baru. Turunnya daya beli sejumlah negara, terutama AS, melengkapi faktor penyebab turunnya harga.
Setidaknya empat faktor utama yang semestinya dibenahi agar Industri udang Indonesia mampu bersaing di pasar global dengan para kompetitor seperti Equador, India, Vietnam serta Thailand. Mereka pada saat ini juga terus membenahi daya saingnya.
Pertama, melakukan perluasan pasar dan upaya memperkecil ketergantungan mengisi pasar AS. Strategi ini bukan perkara mudah karena sejak lama upaya ini disuarakan namun masih sulit direalisasikan.
Mutu dan keamanan pangan jadi akar masalah memperluas pasar ke Uni Eropa, Jepang dan China. Temuan FDA (Food and Drugs Administration) AS bahwa udang asal Indonesia terbukti tercemar antibiotik memperburuk citranya di pasar global.
Lebih fatal lagi, pada Juni 2025 ditemukan lagi udang Indonesia tercemar zat radioaktif Cesium (Cs-137). Kasus ini memukul industri udang di dalam negeri karena Pemerintah AS menutup ekspor udang Indonesia ke AS selama 3 bulan (Agustus hingga Oktober).
Dampaknya harga udang terjun bebas hingga pada titik nadir. Selanjutnya penjualah benih udang, pakan udang maupun input produksi lainnya menurun drastis. Bahkan banyak tambak dan hatchery untuk sementara waktu tidak beroperasi.
Konsistensi memberlakukan izin berdasarkan pola dan tataruang menjadi penting. Demikian pula halnya edukasi dan pengawasan larangan penggunaan antibiotik dan zat kimia berbahaya lainnya mesti ditingkatkan. Kolaborasi pemangku kepentingan menjadi kunci.
Kedua, Pola tataniaga bertujuan memperoleh keuntungam dari rendemen air (6 – 8 %) karena perendaman selama beberapa hari , menjadi salah satu sebab udang Indonesia lebih dominan dipasarkan ke AS dalam bentuk produk udang kupas beku. Dan produk nilai tambah lainnya sulit dilakukan dengan mutu seperti itu.
Pola ini sebenarnya merugikan, karena mutu udang pada saat panen kategori baik, menurun karena perlakuan perendaman.
Memutus rantai pasok dengan pola ini bukan perkara mudah. Selain jarak sentra produksi dan industri prosesing terbilang jauh, kebiasaan perendaman juga telah menjadi satu budaya.
Karena itu dipandang penting dan strategis apabila industrialisasi udang dikembangkan dengan pendekatan kluster pulau besar. Tujuannya mengurai persoalan mutu, sekaligus menekan biaya logistik yang terbilang mahal.
Di wilayah Barat, biaya logistik hanya sebesar 8,9% dari harga komoditi yang akan diangkut. Sementara itu pada wilayah Timur angkanya cukup jomplang, sebesar 20 -:27%. Kondisi yang seperti ini tentu kurang menarik terhadap percepatan investasi.
Ketiga, Kelembagaan petambak idealnya dikelompokkan menjadi tiga kluster, terdiri dari kluster tambak brakyat, klustet tambak pengusaha dan kluster tambak milenial. Dengan klustetisasi seperti ini akan mempermudah dalam menerapkaan teknologi, akses pembiayaan, pasar dan intervensi serta pengendalian.
Tambak rakyat menjadi kluster yang sangat perlu intervensi pemerintah. Mulai infrastruktur, akses teknologi, pembiayaan dan pasar agar kelompok ini bisa berdaya dan betkontribusi terhadap produksi dan devisa.
Kluster tambak pengusaha dan milenial, kebutuhannya lebih kepada kemudahan perizinan dan keamanan investasi, akses pembiayaan mengembangkan teknologi memenuhi tren global agar mampu bersaing secara berkelanjutan.
Ke depan kluster milenial mesti lebih dipersiapkan agar menjadi tulang punggung produksi dan devisa. Kluster ini dinilai mampu mengembangkan udang sebagai industri yang kuat berkelanjutan. Keunggulan komparatif maupun kompetitif yang dimiliki mestinya dimanfaatkan, tidak terlewatkan begitu saja.
Negara Kepulauan, garis pantai terpanjang kedua, dan beriklim tropis sesungguhnya merupakan modal dasar yang tidak ternilai dan menjamin Indonesia mampu menjadi salah satu kontributor udang terbesar dunia.
Keempat, Membangun diplomasi dagang dan market Intelegent yang handal dinilai penting dan strategis. Keberadaan segment ini menjadi informan Pemerintah menyusun regulasi berkaitan kebutuhan buyer serta mitigasi tren perubahan yang nantinya terjadi.
Selain itu pelaku usaha tambak yang dibagi menjadi tiga kluster bisa dengan cepat memperoleh informasi terkait dengan tren kebutuhan dan perubahan itu sehingga antisipasi yang mesti dilakukan bisa segera disikapi.
Terakhir, ikhtiar menjadi salah satu produsen udang terbesar, diperhitungkan dan disegani memerlukan kerja kolaborasi antarstakehokders yang selama ini dinilai sebagai sumbatan utama. (***)






