Sigi, Teraskabar.id– Warga Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi dan sekitarnya diminta waspada pascagempa berkekuatan magnitudo 6,7. Ditemukan 4 kubangan di kawasan Gunung Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Sigi, yang terbentuk akibat sebagian sisi lereng gunung tersebut longsor, dampak lanjutan gempa, Selasa (16/6/2026) silam.
“Berdasarkan temuan dron, bahwa di atas gunung Kamarora ada beberapa kubangan air yang kemungkinan terbentuk dari hasil longsoran pegunungan Kamarora kemudian marerial longsoran menahan aliran air sehingga terjadi genangan,” kata Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, usai rapat Satgas Bencana pascagempa M6,7 sebagaimana dikutip dari akun Facebook Indy Dirha.
Satgas yang terdiri di antaranya TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Sigi, Dinas PU, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, berdasarkan hasil rapat hari ini akan mengunjungi langsung lokasi empat titik kubangan tersebut. Survei tersebut untuk memetakan lokasi dan mencari solusi terbaik untuk mengalirkan air dari kubangan tersebut secepat mungkin. Langkah mitigasi dilakukan untuk mengantisipasi titik kubangan berubah menjadi danau kecil.
Wabup Sigi mengatakan, fenomena yang sama pernah terjadi di Desa Bangga, juga terbentuk kubangan akibat longsoran perbukitan. Pemerintah daerah saat itu tidak segera memitigasi dengan mengalirkan air dari dalam kubangan tersebut.
“Jangan sampai terjadi seperti di Desa Bangga, ada kumpulan air yang terbendung karena material longsor dan kita tidak waspada (saat itu),” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Geologi Lana Saria dikutip dari ANTARA, mengatakan kompleksitas geologi di lokasi terdampak memicu deformasi permukaan tanah yang masif.
“Kejadian gempa utama yang diikuti banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam. Kedekatan episenter dengan permukiman dan kondisi tanah yang lunak mengamplifikasi efek guncangan,” kata Lana.
Lana menjelaskan guncangan gempa bermagnitudo 6,7 pada Selasa (16/6/2026) tersebut telah mengakibatkan kerusakan struktural pada bangunan, retakan tanah, penurunan lahan (land subsidence), hingga memicu longsoran akibat ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora. (red)






