Senin, 22 Juni 2026
Home, Opini  

Budidaya Udang Didukung Teknologi Notifikasi: Cara Baru Menekan Risiko Gagal Produksi, Menuju Industri Berkelanjutan

Budidaya Udang Didukung Teknologi Notifikasi: Cara Baru Menekan Resiko Gagal Produksi, Menuju Industri Berkelanjutan
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Gemini

Oleh Hassnudin Atjo

GAGAL produksi budidaya udang karena kasus penyakit menjadi isu utama yang dihadapi pelaku usaha tambak. Mulai pengguna teknologi padat tebar rendah (konvensional) hingga padat tebar ekstrem (supra intensif).

Mengandalkan benur bermutu (kuat dan sehat), teknologi sterilisasi air modern, sistem budidaya two steps (berbasis nursery), teknologi menangani mutu air internal, dinilai tidak cukup menjamin kesuksesan budidaya udang.

Budidaya udang tidak bisa lagi mengandalkan feeling atau cek laboratorium manual mingguan. Ketika parameter air di tambak drop, dalam hitungan jam udang akan stres. Ini memicu hadirnya penyakit yang berujung pada resiko gagal produksi (panen).

​Teknologi atau sistem budidaya berbasis notifikasi (EWS, Early Warning System), menggunakan IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Integent), membantu mengurangi resiko gagal panen bagi petambak udang.

Teknologi ini akan mengubah cara kerja petambak udang dari slow respons (akan bertindak setelah udang mati) menjadi proaktif (mencegah sebelum kondisi kritis terjadi),dan segera mengambil langkah, tindakan penyelamatan.

Hal ini bisa dilakukan karena secara cepat dan real-time, dapat memperoleh informasi kondisi parameter kualitas air tambak yang terkoneksi dengan layar monitor terpasang serta smartphone teknisi/operator dan pemilik.

​Udang Vaname, terutama pada teknologi padat tebar ekstrem (supra-intensive), sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Sensor IoT yang ditempatkan di dalam tambak akan mengukur parameter kualitas secara real-time.

Sebagai contoh ketika ​dissolved oxygen (DO) atau kadar oksigen terlarut didalam air tambak nilai kadarnya kurang dari 4 ppm, maka segera muncul peringatan notifikasi pada layar monitor terpasang dan smartphone yang terkoneksi.

Pada tambak yang sistemnya sudah diintegrasikan dengan sensor motor kincir, maka kincir secara otomatis berfungsi agar kadar DO meningkat. Berbeda jika belum terintegrasi karena kincir harus dihidupkan secara manual.

  AI-RAN Research Center Diresmikan Indosat Bersama Nokia dan NVIDIA

Pesan notifikasi kadar oksigen juga memberi peringatan bahwa populasi atau biomass udang telah melewati daya dukung (carrying capacity) dan segera harus dikurangi dengan panen parsial.apabila tidak menambah kincir air.

Fluktuasi ​nilai kualitas air lainnya seperti PH, suhu, salinitas kadar amoniak, bahan organik terlarut yang ekstrem dapat terinfornasi melalui teknologi ini. Selanjutnya menjadi referensi rmelakukan tindakan perbaikan.

Selain terkait dengan monitoring kualitas air teknologi IoT ini bisa dintegrasikan dengan motor mesin pelontar pakan, motor kincir air dan infrastruktur lain yang bekerja secara mekanis dan otomatis. Kesemuanya akan meningkatkan efisiensi.

Secara keseluruhan teknologi ini memperkuat dan melengkapi teknologi budidaya udang yang sudah ada dan bermuara pada peningkatan daya saing industri udang Nasional yang tertinggal dari Equador, China, India dan Vietnam.

Sangat dibutuhkan kerja yang kolaboratf antarlembaga dan staleholders laiinya bagaimana teknologi IoT ini bisa masif dan menjadi model pengembangan budidaya udang di Indonesia kini dan masa datang. Dukungan regulasi tentu dibutuhkan.

Apalagi bonus demografi tahun (2030-2041) akan menyediakan tenaga kerja Generasi Z dan Alfa usia produktif sebanyak 290 juta orang. Kelompok ini diniai sangat potensial diarahkan menjadi pelaku usaha budidaya berbasis Notifikasi. (***)