Diskusi Panel

Diskusi Panel menghadirkan dua narasumber, yaitu Udin Salim dan Temu Sutrisno. Keduanya menyampaikan materi yang lebih praktis berbasis pengalaman wartawan dalam meliput bencana, sehingga memancing dinamika forum lebih hangat.
Udin Salim menekankan pentingnya pemulihan psikologis, tidak melukai perasaan korban, kontinuitas berita dan autentik.
“Media tidak boleh mencampuradukkan fakta dan opini serta tidak menghakimi,” ungkapnya bersemangat.
Sementara Temu Sutrisno menekankan bahwa jurnalisme kebencanaan lebiih menitikberatkan pentingnya informasi kemanusiaan yang imparsial, memenuhi hak-hak penyintas dan lebih dari itu, pers harus menjadi media sambung rasa.
Baca juga : BNNP Minta Pemprov Sulteng Fasilitasi Pembangunan Balai Rehabilitasi Narkotika
Yang menarik, Temu menekankan perlunya berpijak pada Jurnalisme Kemanusiaan dan Kebangsaan.
Lokakarya yang dihadiri oleh peserta yang terdiri dari unsur media lokal – nasional, cetak, elektronik dan online tersebut menyepakati empat poin kesimpulan.
Pertama, Media memiliki peran strategis sebagai duta masyarakat dan mitra pemerintah dalam memastikan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi agar berjalan lancar dan sesuai dengan rencana.
Baca juga : Pabrik Es Terbangun di Desa Gonggong, Nelayan Banggai Laut Kini Tak Kesulitan Cari Es
Kedua, Membangun relasi dan komunikasi antara instansi pemerintah dan pemangku kepentingan dengan pers untuk menginformasikan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulawesi Tengah.
Ketiga, Mendokumentasikan proses, cerita, narasi, dan best practice dari penanganan bencana sejak tanggap darurat hingga fase rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di Sulawesi Tengah.
Keempat, Keberlanjutan, yaitu membentuk forum diskusi ramah tamah, lomba jurnalisme, lokakarya, dan lain sebagainya dalam rangka membangun kemitraan media dan pemerintah. (teraskabar)






