Rabu, 10 Juni 2026
Home, News  

Ketua MUI Pidato Tentang Toleransi di Perayaan Paskah Oikumene Gereja-Gereja se-Sulteng

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Profesor Kiai Haji Zainal Abidin menyampaikan pidato tentang toleransi dan membangun kerukunan, dihadapan puluhan ribu umat Kristiani pada perayaan Paskah Oikumene gereja - gereja se-Sulawesi Tengah (Sulteng).
Ketua MUI Kota Palu Profesor Kiai Haji Zainal Abidin menyampaikan pidato tentang toleransi dan membangun kerukunan di perayaan Paskah Oikumene gereja - gereja se-Sulteng, 6/5/2024). Foto: Hajiji

Palu, Teraskabar.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Profesor Kiai Haji Zainal Abidin menyampaikan pidato tentang toleransi dan membangun kerukunan, dihadapan puluhan ribu umat Kristiani pada perayaan Paskah Oikumene gereja – gereja se-Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Perayaan Paskah Oikumene Gereja – Gereja se-Sulawesi Tengah menjadi momentum yang baik untuk memperkuat hubungan sesama manusia, tanpa melihat latar belakang apapun,” kata Zainal Abidin, di Kota Palu, Senin (6/5/2024).

Baca juga: Natal Persekutuan Oikumene TNI POLRI, Begini Pesan Kapolda Sulteng

Profesor Kiai Haji Zainal Abidin yang juga sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah, dilibatkan oleh penyelenggara perayaan Paskah Oikumene, sebagai salah satu pembicara dalam perayaan Paskah tersebut, yang berlangsung di Kota Palu, dihadiri 50 ribu jemaat Kristiani dari berbagai gereja se-Sulteng.

Di hadapan puluhan ribu umat Kristiani tersebut, tokoh moderat Sulawesi Tengah itu mengatakan bahwa, menurut umat Kristen bahwa Yesus mengajarkan tentang cinta, kasih dan sayang kepada semua umat manusia yang ada di bumi.

Bahkan, ujar dia, menurut umat Kristiani bahwa Yesus rela berkorban yang dibuktikan dengan kerelaannya disalib, sebagai wujud kasih dan sayangnya kepada umatnya.

“Pengorbanan atas keselamatan manusia adalah perekat dan kasihnya kepada umatnya yang lebih besar dari pada mengorbankan diri atas sesama manusia, dan itulah yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus,” ungkap Profesor Zainal yang merupakan Guru Besar sekaligus Pakar Pemikiran Islam Modern.

Baca jugaUmat Katolik Kevikepan Palu Rayakan Natal, Wagub Sulteng Ajak Umat Katolik Jangan Mudah Terprovokasi

“Untuk itu Yesus mengundang umat Kristiani untuk menjadi agen cinta dan kasih kepada siapapun yang dijumpa dan tinggal dimana saja,” tambahnya.

  BPJS Kesehatan Sediakan Layanan Gratis Bagi Pemudik Selama Mudik Lebaran 2026

Profesor Kiai Haji Zainal Abidi yang juga Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengemukakan, pengorbanan Yesus tersebut menjadi pusat keimanan umat Kristiani.

“Dan ini menjadi pusat keimanan umat Kristiani. Umat kristiani tidak berbeda secara aqidah dalam hal ini,” ujarnya.

Ajaran kasih sayang Yesus, sebut Profesor Zainal, sesungguhnya juga diajarkan oleh semua agama. Di Islam misalnya, kasih dan sayang juga diajarkan oleh Agama Islam.

Profesor Zainal mengutip Firman Allah pada Surah Al-Maun yang artinya :”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.

“Dari Firman Allah ini, kita ketahui bahwa ternyata orang yang mendustakan agama, yaitu bukan orang yang tidak sholat, melainkan orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin,” ungkapnya.

Baca juga60 Warga Desa Wadas Diduga Ditangkap Aparat Saat Istighosah

Menurut dia, ayat ini mengandung makna tentang mengasihi dan menyayangi sesama manusia, yaitu dengan memberikan makan orang miskin atau menganjurkan orang untuk memberi makan orang miskin, serta tidak menghardik anak yatim.

“Artinya dalam mengamalkan ajaran Islam, harus dikedepankan nilai – nilai kemanusiaan,” sebutnya.

Ia menyebut, semua agama mengajarkan tentang mengasihi dan menyayangi. Islam hadir dengan ajaran cinta kedamaian, Kristiani dengan ajaran penuh kasih sayang, Konghuchu sabar dan pengertian, Budha sumber kebajikan, dan Hindu suka ketenteraman.

“Memang semua agama tidak sama, karena ada perbedaan yang mendasar. Tapi agama memiliki banyak persamaan. Pahami perbedaan, kedepankan persamaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Pancasila perekat hidup bangsa. Dengan demikian diharapkan melalui Paskah Oikumene, Sulawesi Tengah akan menjadi provinsi yang aman, damai dan harmonis.

  Rakerda FKUB Sukses Digelar di Banggai, Bahas Misi Kerukunan hingga Suksesi Pilkada Damai 2024