Oleh Hasanuddin Atjo (Pakar Akuakultur)
PEMERINTAH saat ini sedang melakukan revatilisasi tambak rakyat yang dinilai tidak lagi produktif untuk memproduksi udang, karena gagal panen diakibatkan serangan penyakit yang berkepanjangan.
Sebahagian tambak rakyat yang tadinya menjadi tambak udang, saat ini direvatilisasi menjadi tambak Nila., dengan menabur benih ikan Nila salin atau Oreochromis niloticus yang asal muasalnya dari Afrika(aliran Sungai Nil).
Nila salin adalah, benih Nila yang dilahirkan di air tawar, kemudian diadaptasi pada perairan payau ( maksimal hingga salinitas 25 permil), dikarenakan ikan ini memiliki toleransi yang lebar terhadap salinitas, disebut euryhaline.
Sebahagian besar tambak rakyat pantai utara dan pantai Selatan Jawa menjadi lokus revitalisasi. Di luar pulau Jawa di proyeksikan dikembangkan di Lampung, Sulawesi Selatan. Menyusul Provinsi lain yang memiliki potemsi tambak air payau ( salinitas kurang dari 25 permil).
Tambak milik Pemerintah di Balai Besar Karawang, Jepara dan lainnya didorong sebagai model dengan produktifitas diproyeksikan dari 20 – 80 ton/ha/musim tabur. Diharapkan tambak model ini bisa menjadi tempat pembelajaran.
Sejumlah kalangan memberi penilaian bahwa regulasi ini sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi oleh petambak skala rakyat, sekitar 247 ribu ha, yang semakin sering gagal panen dan menimbulkan rasa putus asa.
Diproyeksikan dua segmen menjadi target pasar program revitalisasi ini yaitu: Pertama mengisi pasar dalam negeri dalam rangka ketahanan dan swasembada pangan. Kedua mengisi pasar ekspor untuk meningkatkan penerimaan devisa Negara yang semakin dibutuhkan.
Daya saing menjadi persoalan utama mengembangkan jenis ini. Pendekatannya tidak lagi parsial, mesti industrislisasi. Ini sangat mungkin dilakukan, karena dukungan hulu dan hilir telah tersedia. Dibutuhkan penajaman untuk efisiensi
Tiga pekerjaan rumah (PR) rmendasar yang mesti segera dipersiapkan skenarionya. Pertama, rekayasa genetik terhadap indukan agar benih memiliki pertumpbuhan yang cepat, dan disebut fast growt. Karakter genetik yang dimiliki saat ini pertumbuhan sedang. Mencapai bobot 400 gr per individu, membutuhkan waktu budidaya 5 – 6 bulan.
Rekayasa yang dubutuhkan adalah memprodukdi anakan berkakter genetik yang bisa tumbuh cepat. Dengan waktu 5 – 6 bulan bobot individunya mencapai 600 gr sebagai salah satu syarat industri fille.
Kedua, ketersediaan pakan dengan harga yang relatif bersaing. Saat ini hampir 50 % ongkos produksi ikan Nila merupakan biaya pembelian pakan. Ini antara lain harga pakan mahal, sebab tepung ikan dominan masih diimpor.
Penyediaan protein murah didalam Negeri menjadi salah satu pilihan. Pemanfaatan protein ikan invansi yang kini jadi hama seperti ikan sapu sapu dan keong mas mesti menjadi salah satu alternatif yang sangat mungkin.
Penerintah Vietnam maupun Thailand secara masif telah mengembangkan budidaya keong mas sebagai sumber protein pakan, mendukung daya saing produk akuakultur mereka. Indonesia tentunya boleh meniru cara seperti itu.
Ketiga , pertumbuhan ikan yang cepat tidak hanya oleh pengaruh faktor genetik dan pakan. Kecukupan air dari segi kuantitas dan kuantitas juga jadi faktor penentu. Karena itu inovasi teknologi sterilasasi air yang murah dan terjangkau menjadi salah satu kebutuhan.
Terakhir, diharapkan lahir satu “model terintegrasi” antara usaha benih cepat tumbuh, pakan sumber protein ikan invasif, usaha budidaya dan hilirisasinya di sentra sentra produksi. Dukungan regulasi, inovasi dan teknologi serta aspek pembiayaan tidak kalah pentingnya . SEMOGA






