“Misalnya, kalau kau tidak pilih (dia) kau bisa masuk neraka. Nah, ini yang berbahaya,” kata guru besar Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Datokarama Palu ini.
Di indonesia kata Lukman, menjadi bermasalah karena negara kita tidak bisa lepas dari keragaman budaya, etnis, keragaman agama yang memang sudah sejak lahir kita itu sudah beragama. Kemudian muncul politik identitas yang mencoba menegasi dengan kata- kata surga, menegasi agama, menegasi kelas sosial.
Artinya, hanya orang islam saja yang boleh memimpin di negara ini. Atau secara kontes kepemimpinan lokal, hanya etnis Kaili saja yang memimpin di Kota Palu dengan menegasikan etnis yang lain, ini kemudian yang membahayakan.
Baca juga : Warga Buol Ditangkap di Tolitoli karena Dugaan Edarkan Sabu
Jadi siapapun yang melakukan gerakan politik yang mencoba ingin memaksakan politik identitas dengan menegasi atau meniadakan perbedaan dengan yang lain, ini bertentangan azas Bhineka Tunggal Ika.
Padahal Islam datang ke muka bumi ini sebagai rahmatan lil alamin. Sehingga, bila ada yang mencedarai bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, itulah politik identitas sebenarnya. Jadi agama Islam sebenarnya menolak politik identitas. Allah SWT pun menghargai keberagaman.
“Jadi siapapun yang mencoba menegasi keberagaman menjadi keseragaman, itulah politik identitas dan bisa menimbulkan kehancuran bagi bangsa ini,” ujarnya.
Baca juga : Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Tersangkut di Batu Karang Pantai Toribulu Parimo
Sebelum mengakhiri paparan materinya, Prof Lukman Thahir menegaskan, dalam istilah agama, ikhtilafi (perbedaan) adalah rahmat. Dan, ini yang harus ditanamkan pada diri masing-masing, terutama pada setiap individu yang hadir pada kegiatan hari ini.






