Palu, Teraskabar.id– Politik identitas akan terus hadir dalam narasi politik Indonesia setiap akan dilaksanakan pesta demokrasi, termasuk saat ini ketika bangsa Indonesia dalam tahapan menuju Pemilu 2024.
Politik identitas ini akan menggiring kepada keterbelahan bangsa sebab ada kelompok yang menegasikan kelompok lainnya.
“Menegasi (meniadakan) keberagaman menjadi keseragaman itulah politik identitas dan bisa menimbulkan kehancuran bagi bangsa ini,” kata Guru Besar UIN Datokarama Palu Prof Dr Lukman S. Thahir saat memaparkan materinya pada Sosialisasi Pendidikan Pemilih Segmen Tokoh Agama dengan tema Sikap dan Respon Tokoh Agama terhadap Polarisasi Politik Identitas, Rabu (7/12/2022) di Sriti Convention Hall Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.
Baca juga : Seorang Ibu Paruh Baya di Donggala Nekat Jualan Sabu
Sosialisasi yang dilaksanakan oleh KPU Provinsi Sulteng itu menghadirkan dua pemateri lainnya, yaitu Komisioner KPU RI Mochammad Afifuddin dan Komisioner KPU Provinsi Sulteng Dr Sahran Raden, S.Ag, SH, MH, Prof Lukman Thahir kembali menjelaskan, yang jadi permasalahan ketika isu agama dimodifikasi untuk jualan politik. Ayat-ayat dan hadist digunakan untuk menggiring opini lantas menghembuskan black campaign atau kampanye hitam yang dibungkus argumentasi agama.
“Jadi agama menjadi komoditas untuk kepentingan politik. Saya menyebutnya ini sebagai pesulap agama,” kata mantan rektor Universitas Alkhairaat Palu ini.
Contoh konkret isu agama dimodifikasi untuk jualan politik kata ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah itu, mengiming – iming surga dan mengancam neraka untuk menggiring pilihan politik seseorang.
Baca juga : Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Warga di Sekitar Jembatan IV Palu






