Palu, Teraskabar.id – PT Vale Indonesia gelontorkan biaya pengelolaan lingkungan sebesar US$43,8 juta, meningkat 54% dari US$28,4 juta pada 2024. Inisiatif ini mencerminkan penguatan pengendalian lingkungan dan upaya kepatuhan di operasi maupun proyek pertumbuhan perseroan.
“Komitmen kami terhadap pengelolaan lingkungan juga tercermin melalui biaya pengelolaan lingkungan yang dialokasikan untuk mendukung program lingkungan, mitigasi dampak, rehabilitasi lahan, sistem pemantauan, kepatuhan regulasi, dan pengembangan kapabilitas di seluruh wilayah operasional,” kata CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto.
Realisasi biaya pengelolaan lingkungan pada 2025 tersebut masih berada di bawah tingkat 2023, yang dipengaruhi oleh investasi besar yang bersifat satu kali di Sorowako.
Namun demikian, peningkatan pada 2025 menunjukkan pertumbuhan kembali yang didorong oleh kebutuhan operasional dan perkembangan proyek.
Sebagian besar biaya tetap terkonsentrasi di Sorowako, yaitu sebesar US$33,8 juta atau sekitar 77% dari total biaya pengelolaan lingkungan. Jumlah ini meningkat 32% dibandingkan 2024, terutama untuk mendukung program pengelolaan lingkungan tahunan, termasuk pemantauan air, pengendalian emisi udara, pengelolaan limbah, dan aktivitas kepatuhan rutin lainnya yang sejalan dengan skala dan kematangan operasi penambangan dan pengolahan kami.
Peningkatan paling signifikan terjadi di IGP Pomalaa, di mana biaya pengelolaan lingkungan meningkat tajam menjadi US$9,5 juta dibandingkan US$0,5 juta pada 2024. Kenaikan substansial ini terutama didorong oleh pembangunan infrastruktur lingkungan, khususnya konstruksi sediment pond untuk memperkuat pengendalian pengelolaan air selama pengembangan proyek, disertai investasi yang lebih luas untuk mendukung sistem pengelolaan lingkungan dan kepatuhan regulasi seiring proyek mendekati mechanical completion.
Sebaliknya, biaya di IGP Morowali menurun menjadi US$457.692 dari US$2,3 juta pada 2024, mencerminkan selesainya sejumlah aktivitas awal penyiapan lingkungan serta pergeseran menuju langkah pengelolaan lingkungan yang lebih terarah seiring perkembangan bertahap proyek.
Ke depan, biaya pengelolaan lingkungan diperkirakan meningkat sejalan dengan kemajuan berkelanjutan Proyek Pertumbuhan Indonesia PTVI, khususnya di Pomalaa dan Morowali, seiring kedua proyek bertransisi dari fase konstruksi menuju tahap kesiapan operasional awal. Perkembangan ini diperkirakan akan memperluas cakupan dan intensitas aktivitas pengelolaan lingkungan, termasuk pemantauan, pelaporan, dan kewajiban kepatuhan yang semakin komprehensif sesuai dengan persyaratan regulasi nasional.
Seiring proyek Pomalaa mendekati mechanical completion dan proyek Morowali melanjutkan pengembangan operasi pertambangan dan pengolahan terintegrasi, semakin banyak titik kepatuhan lingkungan—seperti pemantauan kualitas air, pengendalian emisi udara, pengelolaan limbah, dan perlindungan keanekaragaman hayati—yang mulai beroperasi penuh. Hal ini termasuk penerapan sistem pemantauan berkelanjutan untuk mengelola potensi dampak yang terkait dengan operasi High Pressure Acid Leach (HPAL) oleh perusahaan patungan kami, PT Kolaka Nickel Indonesia.
Pengelolaan Berbasis Risiko —–
Pendekatan pengelolaan lingkungan PT Vale Indonesia berbasis risiko dan berorientasi pada dampak. PT Vale mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko lingkungan sejak tahap perencanaan paling awal melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Environmental Impact Assessment (EIA). Melalui pendekatan ini, berupaya meminimalkan pelepasan polutan lingkungan serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab di seluruh operasi di IGP Sorowako, IGP Pomalaa, dan IGP Morowali.
Dalam praktiknya, PT Vale juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, otoritas pemerintah, dan mitra usaha, melalui mekanisme konsultasi yang terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan lingkungan yang transparan dan berbasis informasi.
Kebijakan Keberlanjutan PT Vale menetapkan serangkaian komitmen lingkungan yang menjadi pedoman dalam mengelola dampak operasional. Melalui kebijakan ini, PTVI berkomitmen mengurangi jejak lingkungan melalui:
Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan sesuai ISO 14001 dan peraturan serta standar yang berlaku;
• Pengembangan strategi adaptasi perubahan iklim dan menerapkan langkah-langkah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca;
• Peningkatan efisiensi energi dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan;
• Penerapan strategi pengelolaan air untuk mengurangi pengambilan air tawar dan meningkatkan daur ulang air;
• Penguatan pengelolaan limbah melalui pengendalian berbasis risiko serta prinsip reduce, reuse, recycle;
• Perlindungan keanekaragaman hayati melalui penerapan mitigation hierarchy dan praktik reklamasi progresif yang diarahkan untuk mencapai no net loss; dan
• Pelaksanaan perencanaan penutupan tambang serta rehabilitasi lahan secara berkelanjutan sepanjang siklus hidup pertambangan guna memastikan stabilitas lingkungan dan pemanfaatan lahan pascatambang yang berkelanjutan.
“Kami mengungkapkan kinerja lingkungan melalui Sustainability Report, Annual Report, situs web perusahaan, serta pelaporan berkala kepada otoritas terkait sebagai bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya. (red)






