Senin, 1 Juni 2026
News  

Seri Diskusi MD KAHMI Kota Palu, Perempuan Harus Manfaatkan Peluang jadi Pemimpin

Seri Diskusi MD KAHMI Kota Palu, Perempuan Harus Manfaatkan Peluang jadi Pemimpin
MD KAHMI Kota Palu menggelar seri diskusi jelang pelantikan ketua dan pengurus MD KAHMI Kota Palu, yang dibuka oleh Wakil Wali Kota Palu dr Reny Arniwaty Lamadjido, Sp.PK, M.Kes, Rabu malam (17/8/2022) di salah satu Cafe di Kota Palu. Foto: Teraskabar.id

Menurtunya, di masa orde baru, kooptasi negara dalam hal ini pemerintah, sangat kuat mengintervensi terhadap aktivitas politik dari partai politik.
Semangat yang berbeda ketika membandingkan gerakan politik perempuan dari era kemerdekaan sampai jelang orde baru. Ada semangat yang luar biasa, subtantif gerakannya sehingga banyak melahirkan gagasan-gagasan yang melahirkan perempuan di wilayah publik.
“Ini yang tidak bisa kita lepaskan dengan situasi yang terbentuk saat ini,” katanya.
“Tetapi sampai pada titik ini, titik reformasi, kita diperhadapkan dengan apa yang disebut dengan liberalisasi politik tadi. Kita terbagi pada ruang yang begitu besar antara politik maskulinitas dengan politik feminitas,” tambahnya.

Baca jugaKunjungi PPI Donggala, Komisi IV DPR RI Bahas Ketersediaan BBM Nelayan

Politik feminitas menurutnya, adalah politik yang dilakukan oleh gerakan yang selalu berusaha memperjuangkan bagaimana perempuan itu bisa masuk ke dalam wilayah gerakan politik, khususnya di lembaga lembaga publik atau lembaga lembaga pemerintah. Lahirlah kemudian prinsip affermativ action. Tetapi di sisi lain, kita masih diperhadapakan dengan politik maskulinitas. Politik maskulinitas ini adalah politik yang dibangun stigmanya, selalu orientasi untuk selalu mendapatkan kekuasaan. Bagaimana mencapai kekuasaan, bagaimana memainkan kekuasaan itu dalam praktik-praktik politik. “Ini yang saya katagorikan sebagai politik maskulinitas,” kata Dr Nisbah.

  40 UMKM Sigi Dibantu UIN Datokarama Palu untuk Percepatan Sertifikasi Produk Halal