Politik maskulinitas itu lanjutnya, tidak seluruhnya dimainkan oleh laki-laki, tetapi permpuan juga punya andil.
“Perempuan yang saya maksud itu adalah mereka-mereka yang menduduki posisi puncak di partai politik,” ujarnya.
Mereka memang dari kalangan perempuan, tapi mereka sudah asyik memainkan politik maskulinitas. Dan, perempuan perempuan dalam gerakan ekstra parlementer tadi maupun perempuan yang sudah masuk dalam partai politik memainkan politik feminitas. Perempuan dilibatkan tapi terjebak dalam rasa affirmatif action minimal 30 persen tersebut. Akhirnya, konsep affirmativ action itu, pada praktiknya lebih bersifat normatif dan formalitas. (teraskabar)






