Senin, 8 Juni 2026
Ekbis, Home  

Ular Hitam Muncul di Arboretum Himalaya, Kisah Restorasi Kawasan Tambang PT Vale

Ular Hitam Muncul di Arboretum Himalaya, Kisah Restorasi Kawasan Tambang PT Vale
Arboretum Himalaya yang merupakan hasil reklamasi pascatambang PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto: Humas PT Vale

Palu, Teraskabar.id – Matahari sudah meninggi saat bus rombongan jurnalis peserta media visit PT Vale Indonesia memasuki area padat pohon dengan ukuran besar, setelah sebelumnya berkunjung di Bukit Solia. Penulis yang masih minim mengenai informasi lokasi yang dituju kali ini, mencoba segera turun dari bus dan menengok papan yang bertuliskan Arboretum Himalaya.

Dari papan pengumuman tersebut, penulis memperoleh informasi bahwa di Arboretum Himalaya  terdapat 40 jenis pohon. Terdiri kelompok tanaman lokal daur panjang di antaranya, Agatis, Kayu Manis, Belulang, Beringin, Betao Kuning, serta Bintangur.

Di dalam kawasan konservasi ini juga tumbuh kelompok tanaman lokal perintis seperti Bunu, Jabon Merah, Jabon Putih, dan Johar. Sedangkan kelompok tanaman non lokal perintis di antaranya, Sengon Buto, Saga Merah dan Ekaliptus.

Team Leader Revegetation PT Vale Indonesia, Harun Tandioga menjelaskan, tanaman yang tumbuh di Arboretum Himalayah ini mulai ditanam sejak tahun 2006. Bila menghitung mundur, umur pepohonan yang ada di kawasan Arboretum Himalayah sudah ada yang mencapai hampir dua dekade. Sehingga, kawasan ini sudah kembali terbentuk sebagai hutan padat.

“Kalau kita masuk ke dalam (kawasan hutan Arboretum Himalaya), sudah sulit membedakan antara hutan asli dengan hutan reklamasi,” kata Harun.

Beberapa jurnalis peserta Media Visit yang mencoba bergeser lebih dalam di kawasan Arboretum Himalaya ini segera diperingatkan oleh Tim Pendamping, bahwa tak aman jika masuk lebih jauh tanpa dilengkapi peralatan perlindungan.   

Selain sudah terbentuk sebagai hutan padat, diameter pohon yang tumbuh di kawasan konservasi ini, minimal seukuran lingkar badan orang dewasa. Bahkan, beberapa pohon yang tumbuh di pinggiran kawasan konservasi Arboretum Himalaya jauh melebihi ukuran lingkar badan orang dewasa. Seperti Lamtoro (Leucaena Leucacephala), Dengen (Dillenia Serrata) dan Mangga (Mangifera Indica).

“Di sini (Arboretum Himalaya) sudah ditemukan ular hitam,” kata Reclamation Engineer PT Vale Indonesia Erlin Harry kepada peserta media visit.

Kemunculan ular hitam tersebut terpantau dari kamera perekam yang dipasang Tim peneliti di kawasan Arboretum Himalaya. Dalam kamera yang dipantau setiap tiga bulan sekali itu terekam aktivitas ular hitam di kawasan Arboretum Himalaya yang memiliki 40 jenis pohon, terdiri dari jenis lokal, perintis, non lokal hingga daur panjang.  

  Kampanye di Kamonji, Hadianto Janji Gaji Honorer dan Petugas Kebersihan Kembali Akan Dinaikkan

“Ular hitam selama ini belum pernah terpantau melalui kamera rekaman yang dipasang di beberapa titik di kawasan seluas lebih dari 20 hektare ini, tapi baru baru ini dilaporkan telah terdeteksi keberadaannya,” ujar Erlin memperingatkan disambut candaan lain dari rekan rekan peserta dengan aksen Bugis Makassar “Kalau mau pulang tinggal nama, coba coba mi”.    

Kemunculan kembali ular hitam di Hutan Arboretum Himalaya menjadi  indikasi keberhasilan PT Vale Indonesia (Tbk) merehabilitasi kawasan pascatambang di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.  Fenomena ini menunjukkan ekosistem di kawasan Arboretum Himalaya sudah kembali berfungsi sebagai kawasan hutan sejak rehabilitasi  dua dekade silam.

Kehadiran ular hitam, bukan sekadar kemunculan satwa biasa. Melainkan indikator bahwa ekosistem hutan sudah kembali pada fungsi semula. Satwa liar akan memasuki suatu kawasan yang pernah dia tempati  jika menganggap habitatnya sudah aman dan memiliki sumber makanan yang memadai.

Selain itu, kemunculan satwa ini menunjukkan bahwa rantai makanan di kawasan Arboretum Himalaya mulai terbentuk kembali. Ular sebagai predator alami dan berada ditingkatan teratas rantai makanan satwa kecil, akan memperkuat keseimbangan ekosistem.

Hal ini juga menjadi bukti komitmen PT Vale Indonesia bahwa menjaga dan merawat lingkungan merupakan DNA perusahaan. Bagi PT Vale Indonesia, menghadirkan kembali ekosistem hutan seperti sedia kala sebelum proses penambangan  juga menjadi bagian penting dari visi perusahaan dalam mewujudkan good mining practise.

Kemunculan Hewan Endemik

Selain predator alami seperti ular hitam, di kawasan Arboretum Himalayah juga sudah terdapat  Anoa. Kemunculan hewan endemik Sulawesi ini terekam dalam layar video hasil rekaman kamera pemantau dalam kawasan Arboretum Himalaya.

“Anoa pernah terekam dalam kamera pemantau, tapi beberapa bulan ini belum pernah lagi terpantau dalam kamera,” ujarnya.

  Hadianto Rasyid Dikerubuti Warga untuk Swafoto di Lokasi HUT Kota Palu Ke-46

Kemunculan  binatang liar ini karena dalam kawasan Himalaya terdapat tanaman yang menjadi makanan binatang endemik Sulawesi itu. Pemantauan kamera Biodiversitivy  fauna dalam kawasan ini bekerjasama dengan pihak Universitas Hasanuddin.

Reklamasi Lahan Kritis

Muhammad Firdaus Muttaqim, Senior Manager Enviroment dan Reklamasi, menjelaskan, mereklamasi lahan pascatambang memerlukan perlakuan tersendiri dan perencanaan yang terintegrasi. Lahan pascatambang tidak serta merta bisa langsung ditanami bibit tanaman, tetapi perlu prosedur tersendiri yang dimulai dengan penutupan area dengan tanah biasa.

“Kami di sini melakukan delapan tahapan dalam proses reklamasi lahan pascatambang,” kata Muhammad.

Setelah itu, lahannya dibentuk atau dikonturing agar sedimen tidak hanyut terbawa aliran air ketika terjadi hujan. Kemudian di atas hamparan tanah biasa dihampar tanah pucuk atau top soil dengan ketebalan hamparan 30 centimeter. Top Soil ini berwarna hitam dan kaya akan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh optimal. Bila tak menggunakan top soil, akan sulit mengharapkan pertumbuhan optimal bibit tanaman. Bahkan, bibit tanaman bisa mati kecuali dengan memberikan pupuk yang banyak.     

 “Kalau tak ada top soil, biaya reklamasi besar, top soil itu ibaratnya pasokan makanan bagi tumbuhan, kalau makanannya kurang berarti kita harus nambah yaitu dengan melakukan pemupukan yang banyak,” ungkap Muhammad.

Top Soil itu sebelumnya dikonservasi pada lokasi tertentu ketika dilakukan pembukaan lahan tambang. Lapisan tanah pucuk ini akan dikembalikan pada saat reklamasi pascatambang.

“Makanya saya sebut perencanaan terintegrasi karena sebelum membuka lahan tambang, juga telah disiapkan tahapan untuk proses reklamasi pascatambang,” ujarnya.

 Benchmark Global

Praktik pertambangan berkelanjutan dengan menerapkan tata kelola lingkungan yang hijau dan mengacu pada standar Environment, Social and Governance (ESG) mendapat apresiasi Presiden, Joko Widodo. Apresiasi itu disampaikan Presiden ke-7 Republik Indonesia itu saat berkunjung ke Sorowako dan meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea, pada 30 Maret 2024.

Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Maritim dan Investasi kala itu, mendampingi kunjungan Presiden Jokowi, terkesima dengan komitmen PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari MINDID, menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan.  

  Bupati Iksan Saksikan Praktik Berkelanjutan PT Vale di Morowali

Dalam kunjungannya, Luhut Binsar Pandjaitan  melihat langsung praktik pertambangan PT Vale Indonesia yang inovatif dan berkelanjutan. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap dedikasi PT Vale Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan sambil menjalankan operasi pertambangan.

 Apresiasi atas keberhasilan PT Vale Indonesia melakukan konservasi kawasan pascatambang,  mencuatkan dorongan untuk mempublikasikan keberhasilan tersebut dengan menggandeng media mitra. Larut dalam sikap diam dan enggan menyuarakan hasil konservasi pascatambang, maka stigma sebagai tambang negatif akan semakin lekat, sebagaimana suara global yang menganggap seluruh tambang nikel yang ada di Indonesia adalah negatif.

Peran PT Vale Indonesia sebagai perusahaan tambang yang menerapkan tata kelola lingkungan yang hijau dan mengacu pada standar ESG, dituntut untuk tampil menghapus stigma tambang negatif yang disematkan global pada perusahaan tambang yang ada di Indonesia.

“PT Vale punya visi untuk memperbaiki kehidupan, dan berkomitmen untuk tumbuh bersama pemangku kepentingan yang ada. Kita punya tagline 3P, yakni people, planet and profit. Jadi yang pertama adalah manusia, lalu planet. Terakhir baru profit atau keuntungan,” kata Chief Technical Officer PT Vale, Jinan Syakir.

Area konsesi bukan lagi jadi batasan area kerja bagi PT Vale Indonesia untuk menerapkan tata kelola lingkungan yang hijau. PT Vale sudah melakukan reforestasi dan reklamasi di luar dari area konsesi hingga mencapai  300 persen dari luasan lahan yang ditambang. Meliputi wilayah Provinsi Bali, Sumatera, Jawa, termasuk di tiga provinsi lokasi operasional PT Vale, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

“Kita juga lakukan penghijauan di luar Sulsel seperti di Sumedang, Tasikmalaya dan Pangandaran di Jawa Barat dan di Nusa Penida Bali,” kata Jinan Syakir.

Langkah tersebut untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat di luar area terdampak. Karena biar bagaimanapun juga, nikel ini milik Indonesia. PT Vale harus menjadi benchmark global di hari mendatang, bukan lagi hanya lingkup Indonesia. Semoga. (red/teraskabar)