Oleh Hasanuddin Atjo
PADA era bonus demografi 2030 hingga 2041 , lanskap angkatan kerja Indonesia akan didominasi Generasi Z (lahir 1997 – 2012) dan Generasi Alfa (2013 – 2024). Mereka memiliki karakter dan passion berbeda dari generasi sebelumnya.
Populasi kategori usia produktif (15 – 64 tahun) kedua kelompok tersebut pada saat itu diprediksi mencapai proporsi tertinggi yaitu sekitar 68 – 70% dari populasi. Merupakan jumlah yang bukan sedikit dan perlu dicarikan pintu keluar yang sesuai.
Jika potensi ini dikelola dengan tepat, era ini menjadi tiket emas lepas dari middle income trap menuju status Negara Maju. sebagaimana target Indonesia Emas 2045 yang berpendapatan sebesar $US 25.000 -30.000 per kapita.
Kegagalan mesti dihindari agar resiko pengangguran massal (demographic disaster) jangan sampai terjadi. Karena itu perlu dipersiapkan sejumlah lapangan pekerjaan berbagai sektor yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Gen Z tumbuh pada era transisi digital, ketidakpastian ekonomi (antara lain krisis ekonomi 1998) dan krisis iklim. Hal ini kemudian membentuk mereka menjadi generasi yang sangat realistis, kritis, dan inklusif.
Gen Alfa adalah anak-anak dari generasi Milenial. Mereka adalah generasi pertama yang seluruh anggotanya lahir di abad ke-21. Dipengaruhi krisis oleh Covid-19. Sejak bayi, sudah berinteraksi dengan kecerdasan buatan (AI), algoritma, dan layar sentuh.
Budidaya udang Vaname padat tebar tinggi (teknokogi Supra Intensif Indonesia) skala mini menjadi salah satu pilihan yang tepat, karena sesuai karakter dan passion kedua generasi tersebut.
Sejak diketemukan pada tahun 2012 di Barru Sulawesi Selatan, teknologi budidaya udang supra intensif terus berevolusi menjadi lebih mini, simpel, murah dengan produktifitas cenderung sama dan berpeluang lebih tinggi.
Awalnya tambak masih terbuat dari beton dengan dimensi 1000 meter persegi dan kedalaman 2,5 m . Padat tebar 1.000 ekor per meter persegi atau 400 ekor per meter kubik.
Produktifitas kala itu mencapai 150 ton/ha (15 kg/ meter persegi atau 6 kg/meter kubik) dengan beberapa kali panen parsial atau pengjarangan.
Sejak 2017 tambak menjadi lebih mini, murah dan simpel. Luasan 78,5 meter persegi ( diameter 10 m ) dalam air 2,5 meter, berlapis plastik dan berbentuk selinder. Dengan model ini produktifitas bisa mencapai 6 kg per meter kubik
Jika saja 0, 5 % dari 200 juta gen Z dan Alfa menjadi pelaku usaha budidaya supra intensif kategori mini. Kemudian setiap orang memiliki 2 kolam, maka produksi per tahun (2 musim) diperkirakan mencapai 2 juta ton.
Pencapaian ini tentunya mampu meningkatkan Market share udang Indonesia di pasar global yang tergolong rendah. Data tahun 2025 menunjukkan dari volume udang diperdagangkan sebesar 3,7 juta ton, Indonesia berkontribusi sebesar 5,5- 6 % (volume 200 – 240 ribu ton).
Jauh berada di bawah Equador (33-35%), India (23-25 %) dan Vietnam (7 – 8 %). Merupakan tantangan dan keprihatinan, negara kepulauan terbesar dan berpenduduk sekitar 288,3 juta jiwa (2025).
Proyeksi tambahan 2 juta ton ini, tentunya membutuhkan strategi yang implementatif dan solutif. Dukungan industri breeding dan hatchery, regulasi pembiayaan dan ekosistem kelembagaan hulu dan hilir harus dibangun.
Terakhir bahwa kesemuanya berpulang kepada pengambil kebijakan. Peta jalan mendorong gen Z dan Alfa menjadi bagian utama industri udang nasional mesti dipersiapkan dan menjadi starting poin. (***)






