Palu, Teraskabar.id – Kepala Badan Riset Dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Faridah Lamarauna menerima audiensi Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Sulawesi Tengah terkait riset penanganan kemiskinan, Senin (23/10/2023), di Ruang Rapat Sekretaris BRIDA.
Mengawali audiensi tersebut, Ketua Pengurus Wilayah (PW) ISNU Sulteng Sahran Raden menjelaskan bahwa pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama merupakan gabungan dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Sulawesi Tengah. Adanya audiensi ini, ISNU ingin memberikan gagasan-gagasan atau ide guna berkontribusi pada kegiatan riset yang berkaitan dengan masalah-masalah kemiskinan, dengan harapan nantinya ISNU dapat berkolaborasi bersama BRIDA Provinsi sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan tersebut.
Baca juga: Tahun Ini, PT ANA Salurkan Beasiswa Prestasi kepada 97 Siswa di Morut
Berbicara tentang kemiskinan, pada saat ini Sulawesi Tengah belum mengalami penurunan pada rata-rata tingkat kemiskinan. Hal ini tidak berbanding lurus dengan tingginya investasi yang masuk di Provinsi Sulawesi Tengah.
Menurut Sahran Raden, dalam menangani hal tersebut terdapat beberapa faktor yang nantinya dapat dikaji di antaranya, upah minimum provinsi (UMP/UMR) yang mana rendahnya UMR pada pekerjaan di sektor swasta berdampak pula pada rendahnya pendapatan pada masyarakat yang menyebabkan tingkat kemiskinan menjadi meningkat.
Faktor selanjutnya yang disebutkan oleh Sahran Raden, adalah indeks pembangunan sumber daya manusia (SDM), faktor pada aspek pengangguran terbuka dan juga faktor pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi khususnya di Sulawesi Tengah pada saat ini juga tidak dilakukan secara merata, sehingga menyebabkan sehingga berdampak juga pada kurangnya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dari observasi yang telah dilakukan di salah satu desa yang dikatakan desa miskin, pada kenyataannya saat ini desa tersebut telah banyak masyarakat dengan gelar sarjana. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa peningkatan sumber daya manusia tidak disertai dengan penurunan angka kemiskinan, yang seharusnya terdapat korelasi pada hal tersebut.
Baca juga: Kemenag Siapkan Rp161 Miliar Beasiswa PTKI, Ayo Buruan Daftar
Dari hipotesis inilah, adanya program beasiswa yang diperuntukan khusus masyarakat kurang mampu dengan tujuan meningkatkan kapasitas SDM, tidak memiliki korelasi dalam mengurangi angka kemiskinan yang ada. Seharusnya dengan adanya program tersebut, sumber daya manusia meningkat berdampak pada penurunan angka pengangguran terbuka.
Dengan adanya faktor-faktor tersebut, Ketua PW ISNU beserta rombongan menyarankan agar nantinya dalam melakukan kajian atau riset kemiskinan tersebut dapat menggunakan sebuah perangkat dengan nama early warning system (EWS), guna mendeteksi dini kemiskinan yang terjadi.
Dari penjelasan tersebut, Faridah Lamarauna selaku Kepala BRIDA Provinsi Sulawesi Tengah menanggapi bahwa berbicara terkait kemiskinan, hal ini merupakan keresahan bersama yang saat ini tengah dirasakan. Dimana banyaknya investasi yang masuk tidak berbanding lurus dengan jumlah pengangguran dan kemiskinan yang semakin meningkat pula.
Adanya audiensi ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah mendapatkan hipotesa baru, yang mana dengan banyaknya lulusan sarjana khususnya di daerah pedesaan secara otomatis menambah jumlah pengangguran terbuka.
Baca juga: Wisuda Ke-36, Gubernur Sulteng: Alumni STIE Panca Bhakti Palu Harus Berjiwa Wirausaha
“Banyaknya lulusan sarjana yang tidak bisa langsung bekerja seperti yang diharapkan, dan di sinilah perlunya kolaborasi antara Pemda dan Perguruan Tinggi sehingga bagaimana kemudian pemerintah pusat semakin menggalakan sekolah kejuruan” tambah Faridah.
Perlunya kolaborasi riset yang mendetail antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi yang hasilnya dapat dijadikan rujukan oleh pemerintah dalam mengambil keputusan. Kolaborasi ini juga dapat dimanfaatkan guna mendukung gubernur dalam mencapai visi misi daerah sebagaimana tertera pada RPJMD 2021-2026, bahwa angka kemiskinan berada di angka satu digit yaitu 9 persen. (teraskabar)







