Morowali, Teraskabar.id – Nikel di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah (Sulteng) berjenis laterit atau endapan yang berasal dari proses pelapukan (laterisasi) pada batuan induk (batuan ultramafik).
Nikel yang dekat dari tanah ini memiliki tantangan terbesar dalam hal pengelolaan airnya. Artinya ketika nikel melalui proses penambangan, air yang berada di lokasi itu pasti akan keruh dan bisa mencemari air di sekitar lokasi.
Kondisi ini menuntut komitmen perusahaan di Sulteng untuk pengelolaan tambang mengedepankan asas berkelanjutan seiring dampak negatif lingkungan yang terus terjadi.
Maka dari itu, beberapa kalangan pun coba memberikan solusi, kedua aspek harus terjaga tanpa mengorbankan satu sama lain. Bisa dilakukan, namun perlu ada keseriusan. Intinya, perusahaan pertambangan kini dituntut untuk mulai berkomitmen menerapkan pengelolaan secara berkelanjutan.
PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari MIND ID, telah membuktikan komitmen praktik pertambangan berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Sosial and Governance atau ESG di Sorowako, di mana air Danau Matano di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, tetap terjaga kualitasnya sesuai baku mutu.
Praktik pertambangan berkelanjutan tersebut direplikasi di Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Sulawesi Tengah, seiring pelaksanaan operasional perseroan.
Bagi PT Vale, melaksanakan praktik pertambangan berkelanjutan, bukan hanya menjadi komitmen perseroan tapi sudah menjadi jati diri perseroan.
Salah satunya, menggunakan kolam pengendapan (Sediment pond) untuk menyaring cemaran lingkungan, supaya kerusakan tidak terjadi dan air di sekitar lokasi tambang tetap bisa digunakan oleh masyarakat sekitar.
“Di Sorowako kita punya 120 kolam pengendapan. Hasilnya bisa dilihat di Danau Matano yang hingga saat ini masih jernih. Metode serupa telah kami lakukan di Morowali, bahkan sebelum kita memulai aktivitas tambang sama sekali,” kata Head of Bahodopi Operation PT Vale, Wafir.
Sediment pond (kolam pengendapan) adalah kolam buatan atau struktur penampungan sementara yang dirancang untuk mengendapkan partikel padat, seperti tanah dan lumpur, dari air limpasan (runoff) sebelum air tersebut dialirkan kembali ke lingkungan. Ini merupakan sistem pengendali air tambang (mine drainage) yang krusial. Fungsi, untuk mengurangi materi padatan dari aktivitas tambang saat kontrol erosi lain tidak memadai.
“Sediment pond adalah kolam yang memisahkan padatan dari air tambang agar air yang keluar tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.
Pengelolaan Lingkungan Diapresiasi Pemda
Replikasi perlakuan air limpasan tambang di area operasional IGP Morowali membuahkan hasil. Bupati Morowali Iksan Baharudin pun memberi apresiasi atas upaya pengelolaan lingkungan PT Vale di Kabupaten Morowali. Kondisi lapangan mencerminkan komitmen nyata perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif.
“Alhamdulillah, kami dapat menyaksikan langsung aktivitas barging di pelabuhan PT Vale tanpa adanya indikasi pencemaran. Saya melihat sendiri bagaimana PT Vale sangat memperhatikan aspek lingkungan. Hingga saat ini, proses barging berlangsung tanpa terlihat adanya air laut berwarna merah di area pelabuhan. Selain itu, di area reklamasi kami turut menanam pohon dan juga melihat persiapan penanaman dengan tanaman khas lokal Morowali. Ke depan, kami berharap ada lebih banyak variasi tanaman, termasuk tanaman buah-buahan,” kata Bupati Iksan saat berkunjung ke PT Vale IGP Morowali bersama jajaran pejabat pemerintah daerah di sekitar penghujung tahun 2025.
Bupati Iksan meninjau langsung area port dan jetty, ruang kontrol operasi, serta kawasan reklamasi Rasyidah. Peninjauan ini memberikan gambaran menyeluruh kehadiran PT Vale di Morowali, mulai dari aktivitas logistik hingga pengelolaan lingkungan di area pascatambang dan tak mendapati Laut Merah dan Sungai Merah.
PT Vale Mereplikasi Sediment Pond, Bukti Konkret Kepedulian Lingkungan
Bagi PT Vale, melaksanakan praktik pertambangan berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Sosial and Governance atau ESG, bukan hanya menjadi komitmen perseroan tapi sudah menjadi jati diri PT Vale.
Salah satu upaya perseroan menerapkan prinsip ESG adalah dengan menjaga kualitas air Danau Matano, meski air limpasan tambang PT Vale mengalir ke danau terdalam se-Asia Tenggara itu. Sebelum dialirkan ke Danau Matano, air limpasan tersebut terlebih dahulu diolah di 122 lokasi sedimen pond, kemudian ada 10 titik penaatan dan 21 treatmen,” ujar Febriani.
Makanya, pada setiap perencanaan maupun keputusan untuk memulai operasional di suatu areal lahan pertambangan, PT Vale selalu menerapkan prinsip keberlanjutan. Prinsip tersebut diimplementasikan melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan tim di lapangan. Di antaranya, menginventarisir keberagaman hayati. Setelah itu baru menebang pohon yang berada di areal yang akan ditambang.
Namun demikian, bukan berarti setelah menebang pohon yang ada di areal rencana pembukaan tambang, bisa langsung melakukan penambangan. Masih ada tahapan yang diperlukan yaitu memetakan topografi kawasan yang akan ditambang. Topografi areal yang akan ditambang menjadi acuan dalam mengalirkan air limpasan tambang. Pola tersebut juga diterapkan di area operasional IGP Bahodopi.
“Air limpasan tambang ini kalau tidak di-treatmen dan langsung di-share, akan tidak baik bagi diri manusia,” kata Wafir.
Air limpasan tambang membawa kandungan air yang memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi (TSS) serta banyak mengandung logam. Sehingga, pada tahapan ini sangat diperlukan perlakuan sebelum airnya dialirkan ke badan air.
“Jadi kita harus protektif semua aliran air, kemudian membuat kolam- kolam pengendapan. Sehingga air limpasan tambang bisa tertangkap di kolam. Setelah di-treatment dan sudah sesuai baku mutu, baru dilepas ke badan air,” ujarnya. (red)







