Sabtu, 17 Januari 2026

Donggala Pilot Project BERANI Pelita Hati, Gubernur Sulteng Siapkan Skema MBG Khusus

Donggala Pilot Project BERANI Pelita Hati, Gubernur Sulteng Siapkan Skema MBG Khusus
Gubernur Sulteng Anwar Hafid pada pencanangan program inovasi BERANI Pelita Hati di Posyandu Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Sabtu (20/12/205). Foto: Biro Adpim

Donggala, Teraskabar.id – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid jadikan Kabupaten Donggala pilot project BERANI Pelita Hati (Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) melalui pencanangan program inovasi berbasis keluarga dan komunitas.

Pencanangan program inovasi BERANI Pelita Hati tersebut bertempat di Posyandu Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Sabtu (20/12/205), dan sebagai wujud komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mempercepat penurunan stunting.

Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido, Ketua TP PKK Provinsi Sulteng Sry Nirwanti Bahasoan, dan Wakil Bupati Donggala Taufik Burhan, turut hadir pada kegiatan pencanangan proram BERANI Pelita Hati tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Anwar Hafid secara khusus menegaskan rencana penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui skema khusus, fokus menyasar anak-anak stunting dengan pola pendekatan beragam, menyesuaikan kondisi gizi masing-masing anak.

“Lebih bagus kita buatkan MBG khusus untuk anak stunting. Jangan menyamaratakan. Karena ibu yang paling tahu apa yang asupan anaknya. Negara hadir, pemerintah bantu, tapi tetap berbasis keluarga,” tegas Gubernur.

Gubernur Anwar Hafid bahkan meminta jajaran perangkat daerah untuk segera menyiapkan skema tersebut, termasuk melibatkan desa, PKK, dan OPD agar bantuan gizi dapat langsung menyentuh keluarga sasaran.

Donggala Pilot Project Berani Pelita Hati, Evaluasi Enam Bulan Kedepan

Dalam sambutannya yang penuh empati, Gubernur Anwar Hafid membagikan kisah masa kecilnya untuk menguatkan para orang tua agar tidak takut atau minder ketika anaknya mengalami stunting.

“Usia enam bulan, hampir semua teman sebaya saya meninggal. Ibu saya setiap malam menangis sambil memeluk saya. Tapi ternyata saya tidak mati-mati juga. Mungkin karena masih ada tugas yang menanti,” ujar Gubernur disambut haru dan tawa hadirin.

  Pasar Tradisional Masomba Kembali Dilalap Si Jago Merah

Menurut Gubernur, stunting bukan penyakit menular dan bukan aib, melainkan kondisi yang harus mendapat penanganan bersama melalui gotong royong dan intervensi yang tepat.

“Kalau ada rakyat kita seperti itu, pemerintah harus segera membantu. Jangan sampai pencanangan hari ini berhenti sampai di sini,” tegasnya.

Gubernur Anwar Hafid juga menetapkan target evaluasi enam bulan ke depan, tepatnya Juli 2026. Ia berjanji akan kembali ke Desa Nupabomba untuk melihat langsung hasil intervensi.

“Saya mau datang lagi enam bulan ke depan. Yang hari ini tercatat 29 anak stunting di Nupabomba, saya berharap sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Gubernur mengusulkan pola pendampingan langsung satu OPD satu anak, dengan estimasi bantuan sekitar Rp15.000 per hari atau Rp400–450 ribu per bulan per anak, melalui skema pemberian langsung kepada ibu dengan pendampingan PKK dan tenaga kesehatan.

“OPD jangan datang ke rumah binaan dengan tangan kosong. Bawa telur, buah, susu. Bukan hanya mengurus anaknya, ibunya juga harus kita perhatikan,” tandasnya.

Nupabomba dan Ganti Jadi Pilot Project

Program pencananngan di Desa Nupabomba dan Desa Ganti ini akan menjadi pilot project, sebelum desa desa lain di Sulawesi Tengah mereplikasinya.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny Lamadjido, yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Provinsi Sulteng, menegaskan bahwa Tim Penggerak PKK adalah ujung tombak utama penurunan stunting, karena bergerak langsung hingga tingkat dasawisma.

“Struktur PKK memungkinkan intervensi by name, by address, by case. Ini yang membuat program berjalan nyata di lapangan,” ujar dr. Reny.

Ia memaparkan bahwa prevalensi stunting Sulawesi Tengah berdasarkan SSGI turun dari 27,1 persen pada 2023 menjadi 26,1 persen di 2024. Sementara pada 2025, meski tanpa SSGI, data EPPGBM menunjukkan capaian yang lebih baik, yakni sekitar 9,6 persen secara provinsi dan 19,6 persen di Kabupaten Donggala.

  Peringati Hari Perempuan Internasional Saat Dunia Menonton Genosida Perempuan Gaza

Untuk menjaga validitas data ke depan, Pemprov Sulteng telah mengalokasikan dana insentif fiskal Rp5,6 miliar untuk pengadaan alat antropometri standar serta penguatan pendampingan enumerator saat survei.

“Kesalahan pengukuran menjadi penyebab fluktuasi data. Itu yang kita benahi sekarang,” jelasnya.

Pemasangan Stiker Pink di Rumah Anak Stunting

Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Tengah Sry Nirwanti Bahasoan menjelaskan bahwa stiker pink “Ayo Cegah Stunting” menjadi simbol pendekatan sosial dan budaya gotong royong dalam Program Berani Pelita Hati.

“Warna pink adalah simbol kasih sayang. Stiker ini menandai rumah anak stunting agar mendapat perhatian bersama, bukan untuk memberi stigma,” jelasnya.

Pemasangan stiker berdasarkan by name, by address, by case. Pencopotan stiker setelah anak berhasil  keluar dari kategori stunting, sehingga bantuan tetap tepat sasaran dan terdata dengan baik.

Sementara itu, Wakil Bupati Donggala Taufik Burhan menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Donggala menunjukkan penurunan signifikan, dari 34,1 persen pada 2023 menjadi 29,16 persen di 2024, dan berdasarkan data terakhir telah mencapai 17,1 persen, di bawah standar nasional 18,6 persen.

“Ini hasil kerja kolaboratif semua pihak, terutama peran PKK, kader posyandu, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Pada kegiatan tersebut, Pemprov Sulawesi Tengah juga menyerahkan bantuan pemanfaatan pekarangan untuk peningkatan asupan gizi keluarga di Desa Nupabomba sebagai bagian dari intervensi berkelanjutan. (red/teraskabar)