Mangrove di Balaesang Jadi Kawasan Penahan Tsunami saat Gempa Mapaga, Kini Dibabat

Donggala, Teraskabar.id– Ketua Pos Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) Desa Lombonga, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Didi Darmawan mengeluhkan pembabatan hutan mangrove di Balaesang untuk dijadikan tambak.

Padahal kata dia, wilayah tersebut merupakan kawasan penyanggah apabila terjadi bencana alam. Lagi pula Kecamatan Balaesang merupakan wilayah yang rawan bencana dan pernah dilanda tsunami sewaktu terjadi gempa Mapaga pada tahun 1968.

“Kami sudah melarang warga agar tidak lagi melakukan penebangan,” katanya dihubungi media ini Minggu malam (13/2/2022).

Didi menyatakan, jika permasalahan tersebut tidak segera diatasi, fenomena pembukaan mangrove dijadikan tambak itu dikhawatirkan bisa mengancam keberlangsungan mangrove.

 Oleh karena itu, lanjut Didi pembalakan liar harus dicegah dan diberantas karena berdampak buruk bagi lingkungan. Pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa setempat.

Mangrove, lanjutnya, sangat berperan penting bagi kehidupan, mampu mengurangi emisi, mencegah abrasi, serta menjadi pelindung dari bencana tsunami.

Didi mengajak para petani agar mengembangkan tambak ramah lingkungan. Harapannya, pembabatan mangrove secara liar dapat diminimalisir dan ekosistem mangrove dapat terjaga kelestariannya.

“Kami mencoba mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove. Selain itu ada sanksi pidana dan denda bila hal itu (menebang) terus dilakukan,” ujarnya. (jalu/teraskabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *