Rabu, 9 September 2026
Daerah  

Wabup Donggala Ajak NGO Tekan Angka Stunting

Wabup Donggala Ajak NGO Tekan Angka Stunting
Wakil Bupati Donggala Yasin.

Donggala, Teraskabar.id- Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi Balita stunting sebesar 24,4 persen pada 2021.

Artinya, hampir seperempat Balita Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu. Namun demikian, angka tersebut lebih rendah dibanding 2020 yang diperkirakan mencapai 26,9 persen.

Baca jugaWagub Sulteng: Menyelesaikan Stunting Jangan Hanya Berteori

Sementara itu, berdasarkan data penderita stunting di Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala menempati urutan pertama dengan jumlah kasus bayi yang menderita stunting terbanyak pada tahun 2021 dengan presentase 26,2 persen.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Wakil Bupati Donggala, Moh. Yasin, dihubungi Jumat (18/11/2022) mengatakan, dibutuhkan komitmen dari kepala daerah melalui suatu kebijakan dengan mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Baca jugaPembunuh Perempuan Paruh Baya dan Balita di Desa Watutau Poso Masih Misteri

Selain itu, mantan ketua DPRD Donggala ini menyebutkan bahwa dibutuhkan peran serta seluruh pihak yang terkait termasuk oleh lembaga kemanusiaan non pemerintah atau non government organization (NGO) yang fokus menangani masalah stunting.

Menurut Yasin, berbicara soal stunting sebenarnya bukan hanya isu nasional tetapi isu dunia dan Presiden Jokowi menekankan bahwa kondisi stunting yang ada di Indonesia cukup luar biasa.

Baca jugaSulteng Siapkan Enam Desa Percontohan Penanganan Stunting, Ini Daerahnya

“Olehnya kita membangun kerangka berpikir paling tidak ada kesadaran kolektif, untuk membangun bagaimana menurunkan angka stunting termasuk kemiskinan, karena potensi Sumber Daya Alam (SDA) kita memenuhi, tetapi pemerintah tidak mampu bekerja sendiri,” ujarnya. (jalu/teraskabar)

  Tuntaskan Sertifikasi di Tempo Institute, Jurnalis Kalteng Dapatkan Nilai Sempurna