Palu, Teraskabar.id– Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) duduk bergerombol di depan salah satu bangunan kantor DPRD Kota Palu, Selasa (31/10/2023). Mereka duduk bercengkrama di saat puncak aktivitas jam kantor. Mereka bergerombol sambil mengibas-ngibaskan buku di sekitar tubuhnya.
Pemandangan yang sama hampir merata di setiap titik lokasi perkantoran di wilayah pusat kota ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, para ASN memilih bergerombol di depan gedung tempat bekerjanya sembari mencari lokasi yang teduh. Padahal saat itu jarum jam masih menunjukkan sekitar pukul 10.00 Wita.
Baca juga: Resmikan PLTA Sulewana Poso, Presiden Jokowi Sentil PLN Soal Birokrasi Perizinan
Awalnya media ini tak mengetahui penyebab sehingga para ASN itu memilih bergerombol di depan gedung tempat mereka bekerja, hingga media ini menjejakkan kaki di lantai II kantor PWI Sulteng, Jalan Sultan Hasanuddin Nomor 10, Lolu Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Ternyata, penyebab ASN bergerombol di luar gedung karena terjadi pemadaman listrik serentak di wilayah Kota Palu. Rekan jurnalis yang kebetulan berada di kantor PWI menginformasikan ke media ini, bahwa terjadi pemadaman listrik serentak di kota Palu hari itu, yang dimulai pukul 8.30 Wita.
Sehingga, ASN di gedung perkantoran yang tak menyiapkan genset, memilih keluar gedung karena di saat itu, cuaca kota Palu panas terik akibat pengaruh El Nino. Gedung yang didesain khusus memiliki AC, membuat ruangan menjadi pengap di kala listrik padam. Dan, ini memaksa mereka memilih bercengkrama di luar gedung, walau sebenarnya cuaca di luar tak jauh berbeda karena suhu saat itu menurut BMKG mencapai 37 derajat celcius.
Pemadaman listrik secara serentak di area pusat kota ibukota Provinsi Sulawsi Tengah ini, baru kali ini terjadi setelah pucak pemadaman listrik kerap terjadi kurun waktu 2005 hingga 2011. Saat itu, Kota Palu dan sekitarnya masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau PLTD sebagai penyuplai energi listrik.
Seiring desakan global terhadap penggunaan energi hijau atau energi baru terbarukan (EBT), kota Palu dan sekitarnya berangsur-angsur mulai terbebas dari pemadaman bergilir setelah Mega Proyek PLTA Energi Poso I sebagai penyulapi energi listrik ke PLN wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan mulai operasional pada Desember 2012. Pemadaman bergilir pun tidak lagi dijumpai setelah PLTA Poso II beroperasi dan memasok 68 MegaWatt kebutuhan listrik Sulawesi Tengah.
Kini, kejadian serupa kurun waktu 2005 hingga 2011 kembali melanda wilayah kota Palu dan sekitarnya beberapa bulan terakhir di 2023 ini. Walau jadwal pemadamannya masih bergiliran, bukan serentak seperti hari itu, Selasa 31 Oktober 2023.
Manager Development Poso Energi Dr. Ismet menyebutkan, penyebab pemadaman bergilir yang kini dialami warga kota Palu dan sekitarnya akibat permukaan danau Poso yang menjadi sumber utama air baku pembangkit listrik tenaga air atau PLTA Poso di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mengalami penyusutan hingga batas ketinggian minimal permukaan air yang bisa dioperasikan.
“Itu karena debit air danau Poso sudah turun permukaannya hingga ketinggian 510 meter dan itu batas terendah ketinggian air yang bisa dioperasikan,” kata Dr. Ismet pada Workshop Media secara virtual, kerjasama PT Poso Energy dengan PWI Sulteng, Kamis (26/11/2023).
Akibatnya, PLTA Sulawena hanya sanggup memproduksi 200 MegaWatt dari daya pasok maksimal 515 MW.
Ismet menjelaskan, PLTA Sulawena Poso sebenarnya telah didesain memiliki daya pasok maksimal 515 MW secara berkesinambungan selama setahun. Namun, dampak El Nino yang menyebabkan kekeringan yang sangat luar biasa, dan itu di luar dari prediksi dan desain pihak PLTA Sulewana Poso sebelumnya dalam menetapkan ketinggian minimal permukaan air danau.
“Ini di luar dari kesalahan kami (PLTA Poso), tapi El Nino ini sebenarnya bencana alam,” kata Ismet melalui zoom meeting yang diikuti 31 wartawan.







