Minggu, 16 Agustus 2026
Home, News  

Kemerdekaan di Era Disrupsi Harus Diperjuangkan melalui Demokrasi dan Keadilan Ekonomi

Kemerdekaan di Era Disrupsi Harus Diperjuangkan melalui Demokrasi dan Keadilan Ekonomi

Palu, Teraskabar.id – Kemerdekaan Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai peringatan sejarah setiap 17 Agustus. Di tengah perubahan teknologi, ekonomi, politik, dan sosial yang berlangsung cepat, kemerdekaan harus terus diisi dengan memperkuat demokrasi, menjaga persatuan, dan memastikan pembangunan menghadirkan keadilan ekonomi bagi seluruh masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Kebangsaan dan Jalan Santai PMII yang diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Tengah.

Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus konsolidasi generasi muda dan alumni PMII untuk memperkuat kontribusi kebangsaan di tengah era disrupsi.

Rahmawati M. Nur, sebagai Ketua Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KA PMII) Sulawesi Tengah menegaskan bahwa tantangan kemerdekaan hari ini tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, tetapi hadir dalam bentuk baru seperti ketimpangan ekonomi, disinformasi, polarisasi politik, rendahnya literasi digital, serta ketidakadilan dalam distribusi kesempatan dan sumber daya pembangunan.

“Kalau generasi terdahulu merebut kemerdekaan dengan perjuangan fisik, maka tugas generasi sekarang adalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan, demokrasi, integritas, inovasi dan perjuangan mewujudkan keadilan ekonomi,” tegasnya.

Disisi lain Dr. Sahran Raden sebagai sekeratris IKA PMII Sulteng menegaskan bahwa Demokrasi Harus Menghasilkan Keadilan, demokrasi tidak boleh berhenti pada proses elektoral atau sekadar memilih pemimpin setiap lima tahun.

Demokrasi harus memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi, mengawasi kekuasaan, menyampaikan kritik, serta memperoleh manfaat pembangunan secara adil.

“Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang siapa yang menang dalam pemilu, tetapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat,” ujarnya.

Karena itu, generasi muda PMII dan alumni PMII harus mengambil peran sebagai kekuatan masyarakat sipil yang kritis, konstruktif dan berbasis ilmu pengetahuan.

  UIN Datokarama Palu Bersiap Hadapi Audit Operasional

KA PMII Sulteng juga menilai bahwa era digital membutuhkan demokrasi yang lebih cerdas. Ruang publik tidak boleh dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, politik identitas dan manipulasi informasi.
“Kita membutuhkan demokrasi yang beradab. Berbeda pilihan politik tidak boleh membuat kita kehilangan persaudaraan kebangsaan,”

Dr. Mardjun Pakaya sebagai Ekonom dari UNISA Palu dalam dialog menyatakan bahwa Keadilan Ekonomi Menjadi Ukuran Kemerdekaan
Selain demokrasi, persoalan keadilan ekonomi menjadi perhatian utama KA PMII Sulteng. Sulawesi Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk sektor pertambangan, pertanian, perikanan dan industri pengolahan.
Namun, kekayaan sumber daya tersebut harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal.

“Kita tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil sumber daya alam, tetapi harus menjadi daerah yang masyarakatnya memperoleh nilai tambah dari kekayaan tersebut. Hilirisasi harus menghasilkan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan UMKM dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.

Dr. Sidik, akademisi UIN Datokarana Palu menyatakan, semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk kemerdekaan ekonomi, yaitu masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, modal, teknologi dan akses terhadap pasar.

Dari Silaturahmi IKA PMII Sulteng menuju Gerakan Kebangsaan. bahwa alumni PMII memiliki modal sosial dan intelektual yang besar untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Alumni PMII tersebar di berbagai sektor, mulai dari akademisi, birokrasi, politik, hukum, dunia usaha, pendidikan, organisasi masyarakat hingga berbagai profesi lainnya.
Karena itu, KA PMII tidak boleh berhenti sebagai wadah silaturahmi alumni.

“KA PMII harus menjadi rumah besar gagasan kebangsaan, tempat para alumni menyumbangkan ilmu, pengalaman dan jaringan untuk kepentingan masyarakat dan daerah,” tegasnya.

Kegiatan ngopi kebaangsaan dan jalan santai
KA PMII Sulteng dihadiri oleh ratusan kader IKA PMIIByang dipusatkan di Tanaris Coffe pada ahad, 16 Agustus 2026.

  Polisi Ringkus Remaja Pelaku Curanmor di Parigi Moutong, Modus Minta Sumbangan

Jalan Santai sebagai Simbol Kebersamaan
Kegiatan jalan santai PMII juga memiliki makna simbolik. Jalan santai tidak sekadar kegiatan olahraga, tetapi menjadi ruang mempertemukan kader PMII, alumni, masyarakat dan berbagai elemen bangsa dalam suasana yang egaliter dan penuh kebersamaan.

“Jalan santai ini adalah simbol bahwa membangun Indonesia membutuhkan langkah bersama. Kita boleh berbeda latar belakang, profesi dan pilihan politik, tetapi kita berjalan di jalan kebangsaan yang sama,” ujarnya.

Semangat tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemerdekaan harus dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dengan refleksi dan tanggung jawab.
“Merdeka Bukan Sekadar Bebas, tetapi Berdaya”