Sorowako, Teraskabar.id – PT Vale Indonesia meluncurkan program pengeboran intensif hingga 6.500 hole per tahun mulai 2026 ini untuk mendukung seluruh proses produksi dan terjaganya pasokan bijih nikel. Kegiatan tersebut berpotensi menggandakan cadangan mineral hingga 2,5 kali dari cadangan saat ini, mencakup 118.017 hektare yang ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
“Langkah ini dilakukan menyiasati ketidakpastian pasar yang masih terasa dan ekspektasi regulasi yang meningkat,” kata CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto dikutip pada Laporan Suistanable 2025.
PT Vale di 2026 lanjutnya, juga terus mempersiapkan empat mesin pertumbuhan besar baik dari Pomalaa, Bahodopi, Sorowako Limonite dan Tanamalia, yang berorientasi pada energi bersih terbesar di Indonesia. Tambang Bahodopi menjadi salah satu proyek strategis Perseroan dalam diversifikasi produk dan telah memasuki tahap produksi di 2025.
Setelah itu, proyek tambang Pomalaa dijadwalkan menyusul pada triwulan kedua (TW II) tahun 2026. Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL Pomalaa yang berada pada jalurnya, untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026, lebih cepat dari jadwal sebelumnya di triwulan keempat tahun 2026. Sementara itu, Sorowako Limonite akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi Vale Indonesia.
Melalui studi kelayakan dan pemilihan mitra teknis yang berjalan baik, diharapkan proyek-proyek ini akan menghasilkan “nikel yang tepat”—kelas 1, rendah karbon yang dibutuhkan oleh industri baterai kendaraan listrik global.
Pengeboran Intensif di 2026, Percepat Eksekusi Proyek
Tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari MIND ID, untuk membentuk baseline operasional biaya baru, meningkatkan keandalan operasi, dan memperkuat disiplin di tiga area operasi utama: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Menghadapi tahun 2026, PT Vale masih fokus pada peningkatan keandalan produksi, menjaga standar keberlanjutan tertinggi, mempercepat eksekusi proyek, dan menciptakan nilai bersama bagi Indonesia.
Salah satu langkah perseroan adalah mempercepat eksekusi proyek melalui penjualan perdana bijih saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa. Meskipun produksi awal dari Bahodopi awalnya dijadwalkan pada triwulan keempat tahun 2025, perseroan akhirnya berhasil mempercepat pengembangan tambang tersebut, sehingga memungkinkan PT Vale Indonesia untuk mulai mencatat volume yang signifikan mulai Juli 2025 dan seterusnya.
Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan PT Vale Indonesia telah mencapai kemajuan sekitar 60%, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi berhasil diselesaikan. Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026.
Membuka Sumber Pendapatan Baru
Secara keseluruhan, tahun 2026 diharapkan menjadi periode penting bagi Perseroan, di mana ketiga tambang diproyeksikan dapat beroperasi secara bersamaan.
Penjualan dari bijih saprolit akan membuka sumber pendapatan baru, menguatkan margin, dan memberikan fleksibilitas komersial pada kondisi harga global yang menantang. Penjualan bijih saprolit ini dilakukan dengan perhitungan cermat agar tidak menambah pasokan bijih yang dapat memengaruhi pasokan nikel nasional, serta tidak akan mengganggu kebutuhan pasokan perseroan.
Dengan berfokus pada disiplin operasional dan eksekusi rencana kerja yang terukur, PT vale Indonesia menargetkan peningkatan volume bijih nikel yang signifikan dibandingkan tahun lalu. Kinerja ini diharapkan dapat dicapai melalui penguatan aktivitas produksi sepanjang 2026, didukung oleh komitmen Perseroan dalam menjaga keberlanjutan operasi dan pemenuhan kebutuhan mitra smelter.
PT Vale juga akan memaksimalkan produksi nikel dalam matte di 2026, dengan tetap memperhatikan proses perbaikan fasilitas Furnace nomor 3 yang dimulai pada triwulan keempat tahun 2025 dengan estimasi rampung pada Mei 2026. Produksi nikel dalam matte dan penjualan nikel matte akan tetap memperhatikan dinamika pasar nikel di tataran nasional maupun global. Salah satunya putusan pemerintah untuk mengurangi produksi nikel yang diharapkan dapat memperbaiki harga nikel di pasar dunia. (red)






