Oleh Hasanuddin Atjo
SEPANJANG sejarah Perberasan, Indonesia mencapai prestasi swasembada beras pada era Presiden Soeharto (1984), Joko Widodo (2022) dan era Presiden Prabowo Subianto (2025/2026).
Pada priode Presiden Soehato, capaian itu terjadi setelah 18 tahun. Selanjutnya era Presiden Joko Wudodo dicapai setelah 8 tahun. Dan capaian spektakuler Era Presiden Prabowo Subianto, kurang lebih setahun.
Konsistensi swasembada beras menarik dibedah. Mengapa bisa seperti itu. Setelah tahun 1984, Indonesia mengimpor beras dan kembali swasembada tahun 2022. Setelah itu, impor beras lagi dan swasembada kembali pada tahun 2025/2026..
Hasil diskusi mengemuka bahwa dua faktor sebagai penyebab inkonsistensi. Pertama adanya kepentingan kelompok tertentu yang sengaja melanggengkan impor beras. Kedua dikarenakan lemahnya kemandirian sistem dalam menjaga swasembada.
Ulasan selanjutnya fokus pada faktor kedua, yaitu kemandirian sistem. Swasembada yang sejati sesungguhnya adalah capaian kedaulatan pangan. Ini ditopang oleh kemandirian sistem yang terukur, kuat dan terjaga.
Tiga pilar kemandirian di balik swasemba beras, agar bergeser dari sekedar kelebihan produksi (surplus) bertransformasi pada nilai dan konsistensi yang terus meningkat dan berkelanjutan.
Pertama, Kemandirian input.atau faktor produksi. Penguasaan teknologi pemuliaan (rekayasa) benih unggul agar produktifitas tinggi, adaptif pada perubahan iklim (kemarau atau penghujan) serta serangan hama.
Mengurangi ketergantungan pada bahan baku pupuk impor (fosfat dan kalium). Optimalisasi industri dalam negeri, disertai transformasi ke usaha pertanian padi organik atau hayati yang adaptif.
Kedua, Ciptakan kemandirian teknologi maupun infrastruktur.Di antaranya memperbaki tingkat produktivitas tanpa membebani HPP atau harga pokok produksi secara linier.
Menggunakan alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang bisa diproduksi atau dirawat secara lokal. Bukan lagi alsintan yang suku cadangnya menunggu berbulan-bulan karena mesti diimpor.
Kemampuan mengelola jaringan irigasi, embung, dan bendungan serta mitigasi perubahan iklim. Agar petani tidak sepenuhnya “berjudi” dengan perubahan cuaca dan iklim yang sudah bisa diprediksi
Ketiga, membangun hilirisasi dan tatakelola perdagangan modern agar kesejahteraan petani bisa dirasakan. Surplus beras tidak bermakna jika aktor utamanya (petani) tetap berada di bawah garis kemiskinan atau terjebak pada utang tengkulak.
Secara filosofis bahwa surplus beras tersebut merupakan hasil ikutan, sedangkan kemandirian sistem adalah produk utama. Ketika sistem pertanian berhasil mandiri, swasembada bertahan dan akan berkelanjutan.
Capaian itu bukan lagi sekadar prestasi musiman yang segera runtuh ketika terjadi hantaman iklim (El- Niño atau La-Nina) dan pengaruh geopolitik global yang masih sering terjadi.
Capaian surplus beras pada era Presiden Prabowo Subianto, sekitar 4 juta ton, oleh sejumlah pihak menilai patut diapresiasi. Antara lain karena tidak perlu waktu yang panjang. Selain itu program telah mengarah pada pengembangan hilirisasi.
Sejumlah catatan yang berhasil dihimpun, bahwa pencapaian surplus beras pada kali ini lebih disebabkan faktor luas tanam dan panen melalui cetak sawah, pemanfaatan lahan tidur serta intervensi alsintan, dan bantuan lainnya.
Jangka pendek strategi tersebut dipandang masih relevan. Tetapi untuk jangka menengah maupun panjang harus fokus pada sasaran kemandirian sistem yang telah diulas pada alinea sebelumnya.
Empat Negara penghasil beras terbesar tahun 2025 yaitu India sebesar 154 juta ton (28 %) total produksi dunia. Disusul Chima sebesar 146 juta ton (27 %) dan Bangladesh sebesar 37,6 juta ton (7 %).
Sementara itu Indonesia berada pada posisi ke 4 dengan total produksi sebesar 34,6 juta ton (berkontrihusi 6,5 % terhadap produksi dunia.). Capaian ini memposisiksn Indonesia menjadi terbesar di ASEAN.
India unggul dikarenakan dapat maksimalkan luas tanam dan panen. China unggul karena rekayasa teknologi hibridanya. Sementara itu Bangladesh ikuti cara China yaitu perbaikan mutu benih.
Indonesia sukses karena strategi (pompanisasi) dan penguatan harga pada tingkat petani yang menyebabkan luas tanam dan panen meningkat tsecara ajam.
Sesungguhnya Indonesia tinggal satu dua langkah lagi menjadi penghasil beras utama dunia. Tinggal bagaimana menjaga strategi yang telah dilakukan dan memblokir upaya upaya membuka kran impor kembsli.
Rekayasa genetik, teknologi produksi, hilrisasi oleh swasta, penguatan SDM termasuk kelembagaan serta membuka akses pembiayaan melengkapi strategi menjadi terbesar. (red)






