Palu, Teraskabar.id – Pada bulan Januari 2025, PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari MIND ID, melakukan pengiriman perdana bijih nikel saprolite dari Blok Pomalaa. Penjualan terbesar bijih saprolit disumbang oleh Blok Bahodopi. Penjualan ditujukan kepada pembeli domestik dan dilakukan berdasarkan Persetujuan Perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB).
Langkah ini menandakan diversifikasi portofolio komersial Perseroan. Realisasi penjualan bijih saprolite hingga akhir tahun 2025 mencapai 2.316.023 wet metric ton (wmt), dengan volume terbesar di bulan Oktober dengan volume sebesar 516.167 wmt.
Secara keseluruhan, volume terbesar penjualan bijih saprolite sepanjang 2025 berasal dari Blok Bahodopi.
Awalnya, penjualan perdana bijih saprolite direncanakan pada triwulan keempat 2025, namun tambang Bahodopi berhasil melakukan pengiriman lebih awal pada Juli 2025. Serhingga, operasional Bahodopi dorong kinerja PT Vale di Triwulan III tahun 2025 (T325) dan Triwulan IV tahun 2025 (T425).
“Kami senang dengan kemajuan konsisten yang dicapai pada tahun ini (2025) di mana Blok Bahodopi turut berkontribusi pada penjualan bijih saprolit 2025,” kata Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan Chief Executif Officer PR Vale dikutip dari Laporan Suistanable 2025.
“Kinerja kami mencerminkan dedikasi tim kami dan ketangguhan operasi kami dalam terus beradaptasi dan memberikan nilai di tengah dinamika pasar. Kami tetap focus pada keunggulan operasional, keselamatan, dan kontribusi berkelanjutan terhadap pertumbuhan Indonesia,” tambahnya.
Penjualan yang dilakukan PT Vale menggunakan kontrak penjualan “harus ambil” jangka panjang dalam mata uang Dolar AS. Dalam menentukan harga jual, PT Vale menggunakan formula yang didasarkan atas harga tunai nikel di London Metal Exchange (LME), dan harga tunai kobalt di Fast Market. Pengukuran kinerja penjualan segmen usaha penambangan dan pengolahan nikel matte dilakukan berdasarkan pendapatan pada tahun buku, dari penjualan nikel matte kepada VCL dan SMM.
Realisasi total volume penjualan nikel matte Perseroan tahun 2025 mencapai 73.093 ton atau 1% di atas target 72.234 ton. Volume tersebut bertambah 1% dari tahun 2024 sebesar 72.625 ton, yang didukung oleh strategi pemeliharaan yang baik yang dilakukan Perseroan sepanjang tahun 2025. Volume tertinggi penjualan nikel matte berlangsung pada triwulan ketiga sebesar 19.543 ton.
Diversifikasi Pendapatan, Penjualan Bijih Saprolit 2025
Pendapatan Usaha PT Vale selama tahun 2025 bersumber dari hasil penjualan nikel matte dan penjualan ore. Kondisi ini berbeda dengan tahun 2024 yang seluruhnya berasal dari penjualan nikel matte.
Total Pendapatan PT Vale selama tahun 2025 mengalami peningkatan, karena adanya pendapatan dari penjualan ore dan peningkatan jumlah payability nikel matte. Total pendapatan PT Vale Indonesia tahun 2025 mencapai AS$990,19 juta atau bertambah 4% dari 2024 sebesar AS$950,39 juta. Jumlah Pendapatan dari penjualan nikel matte tahun 2025 mencapai AS$888,58 juta dan berkontribusi 90% dari total Pendapatan PT Vale Indonesia.
Adapun Pendapatan dari penjualan ore di tahun 2025 mencapai AS$101,61 juta dan berkontribusi 10% dari total Pendapatan Perseroan.
Beberapa faktor yang memengaruhi kegiatan usaha Perseroan pada 2025 di antaranya:
• Fluktuasi harga nikel global Beberapa faktor seperti tingkat permintaan dan ketersediaan pasokan menimbulkan sentiment positif maupun negatif terhadap harga nikel di pasar global yang memberikan pengaruh pada pendapatan Perseroan. Harga LME nikel mengalami penurunan dengan harga minimum dari AS$14.965 di 2024, menjadi AS$13.815 pada tahun 2025.
Fluktuasi harga rata-rata bahan bakar Harga rata-rata High Sulphur Fuel Oil (HSFO) dan High Speed Diesel (HSD) di 2025 lebih tinggi masing- masing sebesar 70% dan 2% dari 2024. Harga rata- rata batu bara di 2025 lebih rendah sebesar 25% dari 2024. Perseroan tidak dapat mengendalikan harga bahan bakar yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi sehingga Perseroan berupaya untuk melakukan efisiensi penggunaan bahan bakar.
• Kebijakan Pemerintah dan perubahan peraturan perundang-undangan Governans sektor pertambangan mineral dan batu bara melalui pemberlakuan kebijakan dan peraturan baru yang dilakukan Pemerintah dapat memengaruhi operasional Perseroan.
• Fluktuasi nilai tukar mata uang asing Kondisi wilayah operasional Perseroan yang berada di Indonesia dan menggunakan mata uang Rupiah, akan terpengaruh atas penguatan dollar AS, sehingga memberikan dampak pada kondisi keuangan Perseroan. Hingga akhir 2025, Perseroan mencatat nilai tukar untuk satu dolar AS terhadap Rupiah adalah Rp16.476, lebih tinggi dari akhir 2024 sebesar Rp16.124.
Pendapatan
PT Vale Indonesia mencatatkan pendapatan sejumlah AS$990,20 juta pada 2025, bertambah AS$39,80 juta atau 4,19% dari tahun 2024 sejumlah AS$950,39 juta.
Harga rata-rata nikel lebih rendah di tahun 2024, namun peningkatan produksi PT Vale di Sorowako dan penambahan pendapatan dari operasi bisnis unit Bahodopi di tahun 2025, telah mendorong peningkatan pendapatan penjualan perseroan.
Beban Pokok Pendapatan
Hingga akhir 2025, Beban Pokok Pendapatan mengalami kenaikan sejumlah AS$37,18 juta atau 4,42% bila dibandingkan dengan tahun 2024 sejumlah AS$842,2 juta. Kenaikan Beban Pokok Pendapatan dipengaruhi beberapa akun.
Royalti
Biaya Royalti tahun 2025 mencapai AS$42.35 juta, meningkat sejumlah AS$22,90 juta atau 117,75% dari 2024 mencapai sejumlah AS$19,45 juta. Biaya Royalti pada tahun 2025 menyumbang 4,77% dari total Beban Biaya Produksi.
Pajak dan Asuransi
Kontribusi biaya Pajak dan Asuransi terhadap total Beban Pokok Produksi tahun 2025 mencapai 5,49% atau sejumlah AS$48,73 juta. Jika dibandingkan dengan 2024 sejumlah AS$44,45 juta, maka terjadi kenaikan 9,61% atau sejumlah AS$4,27 juta. (red)







